Al-Imam Al-Qaradhawi dan Tawadhu’ Ulama

Posted in TOKOH on September 10, 2008 by hufaizh

29 Nopember 07 – oleh : Shalah Abdul Maqshud: Direktur

Syekh Al-Qaradhawi memberikan sebuah pelajaran penting bagi para ulama dan pendakwah di masa sekarang. Dalam sebuah pertemuan dengan murid-muridnya di Ibukota Qatar pada 14-16 Juli lalu, beliau berkata, “Demi Allah saya bukan seorang pemimpin. Saya juga bukan seorang Imam. Saya hanyalah seorang tentara dari sekian banyak tentara Islam. Dan, saya hanyalah seorang tilmîz (murid). Saya akan senantiasa menjadi tilmîz dan menuntut ilmu hingga akhir perjalanan hidup.”

Ini merupakan ungkapan salah seorang ulama besar di zaman ini. Beliau adalah dai yang mampu memadukan antara salafiah dan pembaruan; konsep dasar dan pengembangannya; konsep dan realita; fikrah dan gerakan; serta fokus terhadap Fiqh Al-Sunan, Fiqh Al-Maqasid, dan Fiqh Awlawiyat. Sehingga beliau mampu menyeimbangkan antara Tsawâbit Al-Islâm (hal yang tidak bisa berubah dalam Islam) dan Mutaghaiyirât Al-‘Ashri (hal yang bisa berubah).

Beliau menulis lebih dari 80 buku yang memenuhi perpustakaan di berbagai belahan dunia Islam. Buku-buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang tersebar di berbagai negara. Sebagian bukunya dicetak ulang sebanyak sepuluh kali. Seiring dengan itu, beliau masih menganggap dirinya sebagai penuntut ilmu, dan bukan seorang ‘âlim maupun imam. Beliau mengungkapakan, “Saya masih membutuhkan orang-orang yang memberi tambahan ilmu. Atau berbagi pengalaman yang bermanfaat; seperti yang dikatakan burung Hud Hud kepada Nabi Sulaiman, “Saya datang kepadamu dengan membawa sebuah berita besar…(Al-Namlu: 22).”

Ulama besar ini bersikap terbuka terhadap berbagai hal baru yang bermanfaat. Seperti dalam bidang tekhnologi, beliau termasuk pendakwah pertama yang fokus terhadap internet, sehingga beliau menggagas berbagai situs-situs Islami. Selain itu, beliau juga menggunakan berbagai sarana dakwah lainnya, seperti koran, majalah, televisi, radio, dan sebagainya.

Selain itu, Al-Imam Al-Qaradhawi menyeimbangkan antara ilmu dan amal. Beliau adalah ulama rabbani yang tidak meninggalkan lapangan nyata. Bahkan beliau bergerak di garda terdepan. Misalnya, beliau memimpin Lembaga Al-Quds Internasional (Al-Quds Al-Dauliyah) yang bekerja untuk membantu masyarakat Palestina. Khususnya turut membantu menyelesaikan permasalahan Al-Quds dan masyarakat Palestina yang terjajah.

Di samping itu, beliau juga memimpin Persatuan Ulama Internasional (Al-Ittihâd Al-‘Alami Li Al-Ulamâ Al-Muslimîn). Lembaga ini bertujuan untuk menyatukan fikrah ulama dan tidak terjerumus dalam perpecahan; menguatkan barisan ulama dan menjauhkan kelemahan. Beliau juga memimpin Muktamar Al-Qaumi Al-Islami yang di antara tujuannya adalah menjauhkan perpecahan umat, menghadapi penjajahan, kesewenang-wenangan yang merugikan umat Islam, dan sebagainya.

Beliau juga memimpin Majlis Eropa untuk berdakwah dan berfatwa. Sehingga beliau mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari berbagai solusi terhadap permasalahan Islam yang terjadi di Barat.

Oleh karena itu, sungguh para dai di zaman ini perlu memperhatikan perjalanan dakwah imam ini. Mempelajari kesungguhannya dalam berdakwah dan pergerakan Islam.

Tawadhu’, lapang dada, terbuka terhadap khilâfiyah, toleransi, menolak fanatisme, dan berilmu tinggi merupakan sifat yang melekat pada Syekh Al-Qaradawi. Sehingga dengan sifat-sifat itu, dakwah beliau mudah diterima dan berpengaruh kuat. (Rsl/Myj)

Sumber : sinaimesir.com

Advertisements

Syaikh Farghali dan Jihad di Palestina

Posted in TOKOH on September 10, 2008 by hufaizh

Syaikh Farghali seorang da’i, pejuang Islam yang tegas, low profile, tawadhu’, sangat benci terhadap musuh-musuh Islam dan antek-anteknya.

Nama lengkapnya Muhammad Farghali, lahir di Ismailiyah, Mesir pada tahun 1326 H/1906 M. Beliau tumbuh dan dibesarkan dalam didikan Jam’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin yang dipimpin Imam Hasan Al-Banna.

Pada tahun 1948, Imam Hasan Al-Banna mengumumkan jihad ke Palestina dalam rangka menyelamatkan negeri para nabi, kiblat umat Islam pertama, tempat berdirinya masjid Al-Aqsha, dari kaum penjajah. Syaikh Farghali dan pasukan Al-Ikhwan Al-Muslimin yang berjumlah lebih dari 10.000 orang berhasil menerobos masuk wilayah Palestina untuk membantu saudara seiman mereka yang sedang berjuang melawan tentara Zionis Israel, walaupun pada saat itu pemerintahan Nuqrasyi dan tentara Inggris memperketat pintu perbatasan.

Dimedan Jihad Palestina, Syaikh Farghali tidak hanya memberikan semangat dan motivasi berjuang kepada pasukan mujahidin dari Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin, tetapi beliau juga memberikan contoh berjuang yang gigih, dilakukan dengan sepenuh hati, niat ikhlas dalam rangka mencari ridha Allah, mengharapkan mati di jalan-NYa.

Di antara operasi heroik yang dilakukan Syaikh Farghali adalah ketika beliau dengan delapan orang pasukannya, dengan kecerdikan dan kewaspadaan yang tinggi dapat memasuki kamp militer Yahudi sebelum waktu subuh. Setelah berhasil menyelinap dan memasuki kamp Zionis Yahudi, Syaikh mencari tempat yang tertinggi, di tempat tersebut beliau mengumandangkan adzan, membesarkan nama Allah, Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Mendengar suara adzan dikumandangkan oleh Syaikh Farghali, tentara Zionis Yahudi terkejut dan sangat takut, mereka menganggap sudah terkepung, sehingga tentara Zionis tersebut lari tunggang langgang dan meninggalkan apa saja yang ada di kamp, sehingga dengan izin Allah kamp tentara Zionis Yahudi dapat direbut secara utuh oleh para mujahidin yang dipimpin Syaikh Farghali, kemudian diserahkan kepada pasukan Mesir.

Jiwa pejuang tetap melekat dalam diri Syaikh Farghali hingga akhir hayatnya, beliau sangat benci kepada kaki tangan penjajah, bahkan pernah menjuluki antek-antek penjajah dengan “budak materi”, “budak hawa nafsu”, “budak syahwat” dan “syubhat”. Beliau tidak takut kepada siapa pun apalagi kepada penjajah dan antek-anteknya, beliau hanya takut kepada yang menciptakan dirinya dan alam semesta yaitu Allah Rabbal’alamin.

Akhirnya, Syaikh Farghali bersama lima orang sahabatnya, Mahmud Abdul Lathif, Yusuf Thala’at, Hindawi Duwair, Ibrahim Ath Thayyib dan Abdul Qadir Audah, dihukum gantung pada hari Jum’at, 7 Desember 1954 akibat pengkhianatan kawannya yang cinta kedudukan dan kekuasaan, Jamal Abdun Nashir. Padahal Jamal Abdun Nashir telah berjanji setia untuk berjuang bersama jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin untuk menegakkan Islam di muka bumi ini, membantu saudara-saudaranya yang dizalimi oleh musuh- musuh Allah. Akan tetapi dia tidak tahan dengan godaan jabatan dan fitnah dunia, sehingga sampai hati dia gantung saudaranya dalam satu jama’ah, seorang ulama dan pejuang Palestina yang telah berkorban dengan harta dan jiwanya.

Ketika akan dieksekusi, Syaikh Farghali berdiri di depan tiang gantungan dengan teguh dan tegar. Ia tersenyum dan nampak bahagia karena akan menemui Al-Khalik, sambil mengulang-ulang perkataan saudaranya yang lebih dulu syahid, Saya ingin segera menemui-Mu, Wahai Rabbi, agar Engkau ridha.”

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).(QS: Al-Ahzab/33: 23)

Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.(QS: Muhammad/47: 4)

Semoga Allah memasukkan Syaikh Muhammad Farghali dan mereka yang dieksekusi di tiang gantung bersamanya ke dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat, yaitu para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Amin. (H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA)

sumber : eramuslim

Silaturrahim dengan Dubes RI untuk Arab Saudi

Posted in SILATURRAHIM on September 9, 2008 by hufaizh
Kirim

Dr. Salim Segaf Al Jufri (dakwatuna.com)dakwatuna.com – Beberapa waktu yang lalu, kami dari tim dakwatuna.com mendapat kesempatan untuk bersilaturrahim, bermuwajahah – tatap muka – dengan Dubes RI untuk Arab Saudi, Dr. Salim Segaf Al Jufri.

Sosok yang murah senyum dan akrab itu, boleh jadi tidak pernah bermimpi menjadi Dubes, karena beliau lebih banyak terjun di dunia pendidikan, sebagai dosen ketika itu. Namun, takdir mengharuskan lain, beliau harus meninggalkan dunia kampus (mungkin untuk sementara waktu) dan menekuni dunia “Baru”, dunia diplomasi.

Beliau menghabiskan kuliah S1 sampai S3 di Arab Saudi. Inilah yang menjadi bekalan dan modal dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan, lobi, diplomasi dan lainnya.

Tercatat beliau termasuk Dubes yang berprestasi. Salah satunya, beliau bisa menghadirkan Raja Arab Saudi, ke lobbi Bandara King Abdul Aziz, untuk menyambut Presiden RI, saat berkunjung ke sana. Sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah raja-raja Arab. Ternyata, dengan peristiwa itu, kepala negara atau pimpinan-pimpinan Timur Tengah melakukan hal yang sama. Lebih menghormati. Indonesia lebih dihargai.

Tentu banyak cerita dan prestasi lain yang beliau buktikan.

Dalam kesempatan silaturrahim itu beliau memberikan banyak taushiyah kepada kita. Di antaranya:

Pentingnya sikap optimisme dalam menjalani hidup. Sikap optimisme itu diwujudkan dalam berkarya. Beliau memberi contoh, seorang syaikh – yang berarti sudah berumur atau kakek-kakek -, menanam pohon Zaitun. Pohon zaitun akan berbuah setelah kira-kira dua puluh lima tahun. Ketika ia ditanya, mengapa ia cepek-capek menanam pohon yang ia sendiri tidak akan mungkin memakan buahnya. Dengan mantap ia menjawab, bukankah kita sekarang ini makan buah Zaitun berkat pohon yang ditanam oleh kakek-kakek kita terdahulu? Begitu juga dengan kita sekarang, sekarang kita menanam untuk generasi yang akan datang.

Kalau dalam bahasa Rasulullah saw. “Tanamlah pohon yang berada di tangan Anda, meskipun besuk terjadi hari Kiamat.” Ungkapan yang mendalam sekali, mendorong setiap kita untuk berbuat, berkarya dan memberi yang terbaik untuk orang lain, dalam setiap kesempatan, meskipun kehidupan besok binasa.

Sikap optimisme akan diraih juga dengan do’a. Do’a seorang muslim kepada saudaranya, bahkan kepada saudara jauh tanpa sepengetahuannya, akan dikabulkan. “Do’amu terhadap saudaramu tanpa sepengetahuannya langsung dikabulkan, dan bagimu kebaikan do’a yang sama.”

Termasuk do’a dan restu orang tua, akan menguatkan sikap optimisme. “Do’a yang makbul di antaranya adalah do’a orang tua kepada anaknya.”

Orang tua, terutama ibu memiliki hubungan khusus dengan anak-anaknya, oleh karena itu, anak-anak hendaknya memperhatikan keduanya dan melaksanakan birrul walidain. Beliau mencontohkan, seorang suami itu milik ibunya, yang berkewajiban memperhatikan ibunya. Melakukan komunikasi, silaturrahim, mendo’akannya, membantunya. Bahkan terhadap kedua orang tua yang sudah meninggal sekalipun, dengan cara misalnya, memberi hadiah kepada orang yang menjadi sahabat mereka ketika masih hidup, atau terhadap keluarganya.

Itulah di antara taushiyah yang beliau sampaikan. Semoga bermanfaat. Allahu a’lam. (ut

ramadhan bulan solusi

Posted in Artikel with tags on August 28, 2008 by hufaizh

Oleh : DR. Hidayat Nur Wahid, MA

Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan 1429 H yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.

Memang, ada realitas pahit terkait dengan persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?

Ramadhan, supertrainer

Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (Al-Baqarah:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini.

Kendati demikian, terdapat beberapa klasifikasi Muslim pada bulan ini. Pertama, orang yang menanti kehadiran Ramadhan dengan suka cita, bekerja keras menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Kedua, orang yang memasuki bulan Ramadhan dan keluar darinya dengan tanpa perubahan dan tidak bertambah darinya kebajikan apa pun. Ketiga, orang yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan ini. Ia dengan khusyu melakukan ibadah dan beramal saleh. Namun bila Ramadhan usai, ia akan kembali kepada ‘habitat’-nya semula.

Keempat, orang yang di bulan ini hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun tetap melakukan kemaksiatan. Kelima, orang yang menjadikan siang hari Ramadhan bagai malam dengan tidur sepanjang hari dan mengisi malamnya dengan lahwu (kegiatan yang melalaikan). Dan keenam, golongan manusia yang tidak mengenal Allah baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun meskipun ia mengaku sebagai seorang Muslim.

Bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan bak madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki. Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.

Untuk itu, setiap Muslim hendaknya mengantisipasi kehadiran bulan bertaburan berkah ini dengan mempersiapkan diri, mengoptimalkan daya dan upaya meraih hari esok yang lebih baik (Al-Hasyr:18). Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.

Bulan solusi

Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Pertama, puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah Allah. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.

Kedua, bulan Ramadhan yang merupakan satu bulan dari 12 bulan dalam setahun, dimuati dengan ketaatan dan taqarrub kepada Allah yang dapat memanifestasikan makna ubudiyah kepada-Nya yang paling tinggi. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud bila hanya ‘kerja keras’ di depan meja makan saat berbuka dan sahur.

Ketiga, perut kenyang dalam kehidupan Muslim dapat memandulkan perasaan sehingga hati menjadi keras, menyuburkan sikap liar, dan maksiat kepada Allah dan sesama manusia. Dan ini bertentangan dengan karakter Muslim sesungguhnya. Keempat, sesungguhnya bagian dari fundamen-fundamen penting yang menyokong kebangkitan umat Islam adalah kasih sayang resiprokal dan solidaritas sosial di antara sesama Muslim.

Para the haves akan sulit menyayang orang fakir dengan kasih sayang yang jujur tanpa melewati dan menjalani keperihan dan derita kefakiran serta pahitnya kelaparan itu sendiri. Manfaat yang paling berharga yang dipetik oleh orang kaya adalah kesempatan menjadi ‘orang fakir dan miskin’ tersebut, karena ia mengalami hidup seperti itu secara riil.

Ketika solusi muraqabatullah, ketaatan, taqarrub, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi di bulan Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, sesungguhnya banyak persoalan negeri dan bangsa ini dapat diselesaikan. Di antaranya, persoalan korupsi, pembunuhan, perampokan, kenaikan BBM yang disusul dengan peristiwa terkutuk pemboman Bali jilid II dan banyak lagi penyakit-penyakit sosial lain yang terjadi di tengah masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai tersebut.

Kendati demikian, bulan Ramadhan –bila dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur– dapat menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial yang lenyap tersebut, sehingga yang diutamakan bukan hitungan rasional-matematis saja, tetapi ikut ‘merasakan’ derita dan jeritan hati rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunda atau menekan persentase kenaikan seminimal mungkin.

Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat Al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, sekali lagi, sebagai wahana memupuk solidaritas tinggi antarumat manusia yang disempurnakan pada akhir bulan dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai manifestasi puncak solidaritas sosial tersebut. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi. Wallahu a’lam

sumber : http://hidayatnurwahid.blogdetik.com

* Tulisan ini pernah dimuat di harian Republika, Rabu 5 Oktober 2005 (dengan beberapa perbaikan)

Sumbangan Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk Kemerdekaan Republik Indonesia

Posted in Artikel on August 20, 2008 by hufaizh

Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Atas desakan IM, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi RI.

***

Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah enunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.

Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.

Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”

Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.

Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.

Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.

“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan.

Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.

Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.

Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.

Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.

Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam.

Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.

Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.

Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munashoroh besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.

Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.

Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.

Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.

“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.

Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.

Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.

Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.

Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.

Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.

Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.

Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.

“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.

Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.

Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.

Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.

Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.

Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.

Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.

Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.

Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.

Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.

Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.

Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.

Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.

___
Sumber: Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004. Oleh: Rizki Ridyasmara

http://www.al-ikhwan.net/index.php/akhbar-ikhwan/2007/sumbangan-ikhwanul-muslimun-untuk-kemerdekaan-republik-indonesia/

Canda Generasi Terbaik

Posted in Artikel on August 19, 2008 by hufaizh

Sinai Online: Detik demi detik berlalu, hari-hari dalam kehidupan selalu berjalan. Kebaikan dalam saat-saat yang mahal itu adalah seperti yang dungkapkan oleh Sa’îd bin Abdul Aziz: “Tiada kebaikan dalam hidup ini melainkan diamnya orang yang sadar (ingat kepada Allah) dan bicaranya orang yang berilmu.”

Waktu dalam kehidupan seorang muslim adalah kesempatan untuk berbuat baik, membahagiakan dan meringankan beban sahabat-sahabatnya. Senda gurau dan canda memiliki waktu, syarat dan batasan yang masuk akal sehingga tidak berlebihan di dalamnya. Karena Islam tidak memerlukan orang-orang yang gemar bercanda dan bermain. Sebaliknya Islam membutuhkan orang-orang serius dan sungguh-sunguh yang menggunakan waktunya dalam menuntut ilmu, berdakwah, berjihad, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Adapun orang yang gemar bercanda sesungguhnya ia telah berbuat buruk terhadap diri dan agamanya. Orang yang mencintai sunnah Rasulullah Saw., hanya menyisakan sedikit saja waktunya untuk bersenda gurau. Sesungguhnya merupakan kesalahan yang besar menjadikan lawak sebagai profesi yang dilakukan secara terus menerus dan berlebihan dengan beralasan pada perbutan Rasulullah Saw.. Hal ini tidak jauh beda dengan orang yang menghabiskan waktunya sepanjang hari dengan menonton tari-tarian dengan beralasan bahwa Rasulullah Saw. mengizinkan Aisyah menonton permainan orang-orang zanûj (sejenis orang Negro) pada suatu hari raya.

Dari Ahnaf bin Qais ia berkata, Umar bin Abdil Aziz berkata kepadaku: “Wahai Ahnaf, orang yang banyak tertawa sedikit wibawanya, orang yang banyak bercanda ia akan diremehkan karenanya, orang yang gemar melakukan sesuatu akan terkenal dengannya, orang yang banyak berbicara pasti banyak kesalahannya dan sedikit rasa malunya, barang siapa yang sedikit rasa malunya sedikit pula sifat wara’nya (sifat menjauhi maksiat, sybuhat dan mubâhât—perkara-perkara yang dibolehkan—yang berlebihan), dan barang siapa yang sedikit sifat wara’nya maka matilah hatinya.”

Sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh dalam amalnya dan khawatir terhadap masa depan yang akan dihadapinya, tentunya berada dalam keadaan yang jauh dari canda dan main-main. Ia adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Musa bin Ismail: “Kalau aku berkata kepada kalian bahwa aku sama sekali tidak pernah melihat Hammâd bin Salamah tertawa maka aku telah jujur kepada kalian. Ia selalu disibukkan oleh dirinya, baik untuk menyampaikan hadis, membaca, bertasbih atau shalat, ia telah membagi harinya untuk amalan-amalan sepreti itu.”

Hal ini karena mereka selalu khawatir terhadap masa depannya setelah mati, takut mengalami prahara hari kiamat di mana badan akan bergetar hebat ketika melihatnya. Abdullah bin Abu Ya’la pernah berkata: “Mengapa engkau tertawa, padahal mungkin saja kain kafanmu telah keluar dari tukang pemutih kain (ajalmu sudah dekat).” Diceritakan dari sebagian orang shalih, suatu ketika ia (Abdullah bin Abu Ya’la) melihat seorang lelaki yang sedang tertawa lebar. Kemudian ia menegur orang itu: “Apa-apaan ini, apakah kamu pernah merasakan kamatian? Orang itu menjawab: “Tidak”. Ia bertanya lagi: “Apakah (engkau mengetahui) timbangan kebaikanmu telah lebih berat?” “Tidak,” jawab orang itu. Ia bertanya lagi: “Apakah kamu telah berhasil menyebrangi titian Shirat? “Tidak,” katanya. Kemudian Abdullah berkata: “Lantas untuk apa semua tawa dan senang-senang ini?” Orang itu kemudian menangis dan berkata: “Aku berjanji kepada Allah untuk tidak tertawa lagi setelah ini untuk selamanya.”

Sungguh menkjubkan! Cepat sekali ia tersadar dari kelengahannya dan bangun dari jatuhannya. Entah apa yang terjadi kalau saja ia mendengar tertawaan-tertawaan di perkumpulan-perkumpulan zaman sekarang, senda gurau orang-orang yang tidak punya pekerjaan, dan kesalahan-kesalahan orang yang banyak bicara. Apakah sebagian orang sekarang yang tenggelam dalam kelengahan, gelamor duniawi dan gemar berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat tidak merasa malu ketika melihat sehari saja dari hari-harnya Wakî’ bin Jarrâh. Sungguh ia tidak akan beranjak ke tempat tidur sebelum habis membaca sepertiga al-Quran, kemudian bangun di akhir malam dan membaca al-mufashshal (surat-saurat pendek seperti pada juz ‘Amma), kemudian duduk dan beristigfar sampai terbit waktu fajar kemudian shalat dua rakaat (sebelum subuh).

Saudaraku! Dimanakah posisi kita dibanding orang-orang itu? Al-Hârits al-Ghanawy berkata: “Rib’iy bin Hirâsy bersumpah untuk tidak tertawa sampai ia mengetahui posisinya apakah di surga atau neraka.” Al-Hârits juga berkata: “Orang-orang yang memandikan jenazahnya mengabarkan kepadaku bahwasanya ketika mereka memandikannya, ia terus-menerus tersenyum di atas ranjangnya sampai mereka selesai memandikannya.” Semoga Allah mengasihani kelemahan, sikap berlebihan dan panjangnya kelalaian kita. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ismail bin Abdullah: “Wahai Ismail, berapakah umurmu sekarang? Ismail menjawab: “Enam puluh tahun lebih beberapa bulan.” Umar berkata: “Wahai Ismail, jauhilah olehmu senda gurau.”

Wahai saudaraku:


إِذَا مَا أَتَتْكَ الْأَرْبَعُوْنَ فَعِنْدَهَا فَاخْشَ الْإِلَهَ وَكُنْ لِلْمَوْتِ حَذِرًا

Apabila empat puluh tahun telah mendatangimu maka ketika itu
Takutlah kepada Tuhan dan berhati-hatilah dengan kematian

Al-Fudhail bin ‘Iyâdh berkata: “Diriwayatkan kepadaku bahwa suatu hari Thalhah bin Musharrif tertawa, kemudian ia tersadar dan berkata pada dirinya, ‘Apakah yang engkau tertawakan? Sesungguhnya orang yang (berhak) tertawa adalah yang telah melewati segala rintangan dan menyebrangi titian Shirat’.”
Dari Sa’îd bin Sâlim al-Qaddâh, ia berkata: “Aku pernah mendengar Abdul Aziz bin Abi Rawwâd berkata kepada seseorang, ‘Barang siapa yang tidak merasa diperingati oleh tiga hal maka tidak ada yang dapat memperingatkannya lagi: Islam, Quran dan uban’.”

Barang siapa yang memperhatikan silih bergantinya hari dan cepatnya berlalu, serta kematian yang datang secara tiba-tiba, maka ia akan berfikir bagaimana mungkin ia akan menikmati suatu nikmat dengan nyaman atau menenangkan jiwanya dengan lelucon dan permainan, karena hisab dan balasan yang berat pasti akan datang.

Saudaraku…
Kita telah mendengar kisah-kisah teladan tentang mereka dan dapat melihat betapa besar kesungguhan mereka. Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, apakah kita akan meninggalkan senyuman, canda dan permainan bersama sahabat dan orang-orang yang kita cintai?

Imam adz-Dzahabi berkata: “Tertawa kecil dan senyum lebih diutamakan.
Meninggalkan hal ini menurut ulama ada dua macam: pertama, utama bagi yang meninggalkannya sebagai bentuk adab dan takut kepada Allah serta sedih terhadap (keadaan) dirinya yang memprihatinkan. Kedua, tercela bagi yang melakukannya karena kebodohan, kesombongan atau dibuat-buat seperti halnya orang yang banyak tertawa akan diremehkan dengannya. Tidak diragukan lagi bahwa tertawa di masa muda lebih ringan dan dimaklumi dari pada di masa tua.

Adapun senyuman dan wajah yang cerah lebih utama dari kedua hal tersebut. Rasulullah Saw. bersabda:


تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda:

لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَلْيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْن الْخُلُق

“Kalaian tidak akan sanggup (memenuhi hajat) manusia dengan hartamu, maka kamu akan memenuhi hal itu dengan wajah yang cerah dan akhlak yang baik dari kalian.” (HR. Hakim dan Bazzar)

Namun kedudukan yang tetinggi semua itu adalah orang yang ahli menangis di malam hari dan selalu tersenyum di siang hari. Jarir ra berkata:


مَا رَآنِى رَسُوْلُ اللهٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسَّمَ

“Tidak pernah Rasulullah Saw. melihat kepadaku kecuali dalam keadaan tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tetapi siapa yang tidak tahu bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang nabi yang wajib shalat malam, dan beliau selalu menangis dan mengeluh kepada Rabb-nya.

Oleh karena itu Seyogyanya bagi orang yang suka tertawa agar mengurangi hal itu dan mencela dirinya karenanya. Dan seharusnya bagi orang yang selalu bermuka masam agar tersenyum dan menjadikan mukanya berseri serta memurkai dirinya yang memiliki akhlak yang tidak mulia. Segala sesuatu yang melenceng dari i’tidaâl (keadilan, kelurusan dan keseimbangan) adalah tercela, maka setiap diri hendaknya selalu ber-mujâhadah (berjuang melawan nafsu) dan berlatih.

(Dikutip dari buku Rufaqa’ fit Tharîq karya: Abdul Malik bin Muhammad al-Qâsim)

Menjadi Hamba “Robbani” Bukan Sekedar “Romadhani”

Posted in Artikel on August 15, 2008 by hufaizh
untitled.jpg

Indahnya Bulan Ramadhan

Allah SWT berfirman :

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai semua orang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana puasa pernah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, semoga kamu terpelihara” (Al Baqarah 183).

Begitu cepat waktu berlalu, tanpa terasa Ramadhan kembali akan kita jelang. Sungguh cepat rasanya perjalanan masa meskipun setahun tak pernah kurang dari 12 bulan. Demikian memang waktu terus berjalan, bergerak dan berputar sesuai dengan porosnya, mengikuti sunnatullah yang tidak bisa dihentikan, kecuali Allah semata. Perjalanan hidup manusia di dunia adalah merupakan waktu yang terus berjalan, dan kelak nanti akan ada pertanggungjawaban di akhirat, untuk apa waktu yang disediakan dalam hidup dipergunakan? Dan Allah SWT banyak bersumpah dalam kitab-Nya dengan menggunakan waktu; seperti yang banyak termaktub dalam Juz 30, disitu Allah bersumpah dengan waktu-waktu yang biasa demi dilalui oleh manusia. secara umum Allah menyebutkan; Demi masa (surat Al-Asr), dan secara khusus Allah menyebutkan demi waktu Fajar (surat Al-Fajr), Demi waktu Dhuha (surat Ad-Dhuha), demi waktu malam dan demi waktu siang (surat Al-Lail) dan lain-lainnya.. Tentunya sumpah tersebut mengisyaratkan akan pentingnya waktu yang harus diperhatikan oleh manusia dan kesempatan emas untuk dipergunakan sebaik-baiknya sehingga tidak menjadi orang yang merugi.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Asr:1-3)

Dan dalam ayat lainnya Allah juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk:2)

Jadi inti dari terhindar dari kerugian terhadap waktu yang disediakan adalan iman dan amal salih.

Dan Allah mempergilirkan kehidupan ini, juga untuk melihat siapa yang memiliki jiwa juhud dan mendapatkan syahadah dalam hidupnya serta mendapatkan ridha dari Allah SWT.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

“Dan masa itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’”. (Ali Imran:140)

Namun, syukur al-hamdulillah kita masih sempat menemui Ramadhan dan semoga semua kita dapat berpuasa sesuai dengan perintah Allah, dan menjadikannya waktu dan kesempatan berharga untuk memperbanyak ibadah, amal shalih dan aktivitas lainnya untuk mendapatkan rihda Allah SWT.

Kita tentunya merindukan kehadiran bulan Ramadhan sebagaimana rindunya Rasulullah SAW dengan bulan ini. Kita tentunya bahagia dengan hadirnya bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah saw bahagia menyambut bulan ini.  Begitupun tentunya kita sangat senang dengan bulan Ramadhan yang kita jelang, sebagaimana Rasulullah saw sangat senang ketika bulan Ramadhan akan dijelang. Oleh karena itulah, sejak bulan Rajab, Nabi saw mulai banyak membaca doa :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah hidup kami di bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah usia kami hingga bulan ramadhan”.

Dan ketika menyambut terbitnya bulan sabit saat memasuki bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW berdoa pula :

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ

“Ya Allah, terbitkanlah (dan tampakkanlah) hilal kepada kami (diiringi) dengan keberkahan dan keimanan serta keselamatan dan keislaman, (jadikanlah dia) sebagai hilal kebaikan dan petunjuk, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.” (At-Tarmidzi (9/142), imam Ahmad (1/162), Ad-Darimi (2/7) dan lain-lain, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 220).

Selama Ramadhan, Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak ibadah dan amal kebajikan, termasuk infak, sedekah dan menyantuni fakir miskin. Dengan demikian, Ramadhan membawa berkah berupa peningkatan nilai keislaman, kekuatan iman dan keamanan, serta merebaknya kedermawanan.

Bulan Ramadhan dengan banyak keistimewaannya telah banyak kita dengar dan ketahui, nama yang tidak asing bagi umat Islam. Sayyidus suhur (penghulu bulan-bulan) adalah merupakan julukan yang sangat indah, bulan nuzulul Quran, bulan tarbiyah, bulan tarqiyah (peningkatan) taqwa dan amal ibadah, sebagaimana bulan ini memiliki banyak gelar sesuai dengan fungsi dan peranannya. Antara lain : Syahrul barakah (bulan penuh kenikmatan dan limpahan karunia), Syahrul Najah (bulan kemenanga dan pelepasan dari azab neraka), Syahrul Juud (bulan kemurahan), Syahrul Muwasah (bulan kepedulian dan memberi pertolongan kepada yang membutuhkan), Syahrul Rahmah (bulan penuh rahmat Allah), dan julukan-julukan indah lainnya.

Namun dari sekian banyak keistimewaan dan keutamaannya, sangat sedikit dari umat islam yang belum menyadarinya, atau mungkin mereka sadar tapi belum menyentuh lubuk hati mereka sehingga saat Ramadhan tiba, tidak ada raut wajah yang sumringah atau bergembira menyambutnya. Mengikuti amaliyah Ramadhan sebagai kegiatan ritual saja, sekedar melepas dan menggugurkan kewajiban atau sekedar adat (kebiasaan) yang sudah biasa dilakukan setiap tahun, sehingga setiap kali selesai bulan Ramdhan kepribadian seseorang tidak meningkat dan berubah, tetap seperti yang lama, yang berubah hanyalah umurnya saja, setiap hari terus bertambah.

Insya Allah, Kami mencoba menghadirkan kajian sederhana, yang berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan amaliyah Ramadhan, yang diberi tema “menjadi hamba “RABBANI bukan sekedar “RAMADHANI”. Dengan maksud bahwa ketika memasuki bulan ini kita dapat menjadi hamba yang benar-benar mengabdikan diri kepada Allah, taat dan patuh kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, benar-benar menjadi hamba rabbbani bukan hanya ramadhani, yang tidak hanya sekedar melewati bulan ramadhan sebagai ritual tahunan tanpa makna, tidak hanya mengubah prilaku makan, menahan haus dan lapar disiang hari tanpa hasil yang berharga, melakukan tarawih di malam harinya, dan aktivitas ritual lainnya yang ada dalam bulan ramadhan tanpa ada perubahan dalam diri secara maksimal, namun berusaha untuk mengambil hikmah yang terkandung dalam segala aktivitas, ibadah dan amaliyah di bulan tersebut sehingga mendapatkan derajat yang paling mulia disisi Allah; yaitu Taqwa.

Karena itulah agar puasa tidak sia-sia, sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, maka hendaknya  melakukan persiapan diri dengan cara :

1. Persiapan Ruhiyah; dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.

2. Persiapan Fikriyah; melalui pembekalan diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah dan ibadah di bulan Ramadhan.

3. Pesiapan Jasadiyah; dengan menjaga kesehatan badan, menciptakan kebersihan lingkungan serta mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan teratur.

4. Maliyah; dengan menyiapkan diri menabung dan menyisihkan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar kepada orang lain dan membantu orang yang membutuhkan.

Agar kelak menjadi hamba rabbani baik qobla (sebelum), atsna’a (pada saat) dan ba’da (setelah) ramadhan.

Namun menjadi hamba robbani tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, perlu waktu, tenaga dan usaha terutama ilmu dan pengetahuan, karena setiap amal ibadah harus dilandasi dengan ilmu pengetahuan agar tidak terjerumus pada taklid, karena itu pula Allah SWT berfirman :

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“… Namun jadilah kalian hamba Robbani, terhadap apa yang telah kalian pelajari dari kitab Al-Quran dan dari apa yang telah kalian kaji”. (Ali Imran:79)

Rasulullah saw bersabda :

لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِي مَا فِي رَمَضَانَ مِنْ خَيْرٍ لَتَمَنَّوْا السَّنَةَ كُلِّهَا رَمَضَانَ

”Andaikan umatku mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.”  (HR. Ibnu Khuzaimah).

تُفَتَّحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغَلَّقُ أَبْوَابُ النَّارِ، وَيُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، وَيُنَادِي فِيهِ مُنَادٍ كُلَّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ هَلُمَّ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ اقْتَصِرْ

“Bulan Ramadhan; di dalamnya pintu surga dibuka, pintu neraka di tutup dan syaitan-syaitan dibelenggu, di dalamnya pada setiap malamnya ada seruan; wahai para pencari kebaikan marilah kemari, dan wahai para pelaku kejahatan berhentilah”. (Thabrani)

doa.gif

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (Ali Imran:8)

Sumber al-ikhwan.net