Archive for May, 2007

Mendeteksi “Sumber” Bencana

Posted in Artikel on May 29, 2007 by hufaizh

Dari dasar laut (ada tsunami), daratan (ada gempa dan lumpur), di gunung (ada letusan), di sekeliling kita ada infeksi flu burung busung lapar. Tanda-tanda apakah ini, Ya Allah?

 

Oleh: H. Nasrulloh Afandi, Lc

Kecanggihan teknologi seakan-akan tak berkutik (lagi) untuk sekedar mengurangi, apalagi membendung beragam estafeta bencana dan musibah yang tanpa kompromi setiap saat bisa dahsyat menimpa segala penjuru bangsa kita.

Hilangnya Adam air, pesawat Boeing 737 tipe 400 sebagai andalan dibanding tipe lain di bawahnya seperti 737-300 apalagi 737-200, belum lama ini, adalah contoh kecil dari keterbatasan ‘teknologi manusia’, para ahli dari luar negeri dikerahkan, namun belum mendapatkan titik terang insiden itu.

Ya Allah…, lengkap sudah bencana bangsa ini! Seolah-olah musibah ‘kecanduan’ untuk terus menggerus bangsa kita. Dari dasar laut (ada tsunami), dari daratan (ada gempa), dari puncak gunung (ada letusan), di sekeliling kita ada wabah infeksi dari binatang ke jasad manusia (flu burung dan sejenisnya). Juga ada kekurangan pangan (berupa busung lapar).

Belum hilang duka dari musibah-musibah tersebut, kini menggila terjadinya bencana dari alat-alat yang dihasilkan oleh ‘rekayasa’ manusia, kapal (tenggelam), pesawat (meledak), kereta api (terjungkal), termasuk dalam nominasi ini adalah luapan “lumpur panas” Lapindo yang tak jelas tanggung jawabnya, dan selusin musibah lainnya.

Memang, Allah SWT tidak butuh disembah (QS.Ibrahim: 8). Namun dalam kondisi sedemikian memilukan ini, jika kita merasa sebagai manusia berperadaban (modern), tentu selain meningkatkan ‘pembenahan dan kewaspadaan teknologi’. Tak kalah signifikannya, sudah saatnya pula kita ‘waspada’ atau kembali insaf atas kebenaran dan keagungan Tuhan, dengan segala ‘rambu-rambu’-NYa yang telah lama blak-blakan ditabrak oleh banyak manusia abad ini.

Alangkah baiknya jika semua elemen bangsa ini dengan ikhlas kembali bersimpuh kepada Tuhan. Tidaklah cukup hanya ‘diwakili’ oleh komunitas ulama (saja). Meminjam istilah para ahli agama: ”Fafirru ila Allah”, mari kita semua menangis bertaubat di hadapan Allah SWT.

Detektor Bencana’

Benar, banyak hadits meriwayatkan bahwa kasih sayang Rasulullah SAW tidak mengizinkan jika umatnya akan didera bencana akibat banyak melakukan dosa, sebagaimana umat para Nabi terdahulu itu. Harapan-Nya: Siapa tau anak–cucu manusia kelak akan banyak yang bertakwa kepada Allah SWT.

Namun kita tak patut berbangga! Karena secara terpisah baginda Nabi SAW pun bersabda kepada Ummu Salamah (istriNya): “Jika segala bentuk kemaksiatan telah merajalela di dalam suatu bangsa (umat-Ku), maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya kepada mereka”.

Ummu Salamah bertanya: Wahai Rasulallah, apakah dalam kondisi (dilaknat) itu masih terdapat orang sholeh, taat beribadah?”

Rasulullah menjawab: “Ia, masih ada”.

Ummu Salamah bertanya lagi: “Lalu bagaimana mereka?”

Rasulullah pun menjawab: “Orang-orang shaleh taat beribadah yang terdapat pada kaum (bangsa) tersebut, juga turut ditimpa bencana, kemudian mereka akan mendapatkan ampunan dan keridhoan dari Allah”. (HR. Ahmad dari Ummu Salamah isteri Nabi SAW. VI/ 304 atau no.26122, Al-Haitsami mengatakan, hadits ini rijalnya shahih).

Diantara esensi hadits tersebut. Kemaksiatan ‘segelintir’ orang, tidak hanya si pelaku yang menanggung akibatnya, tapi juga mampu menyebabkan datang dahsyatnya adzab bagi orang lain, bahkan seluruh bangsanya, yang taat beribadah sekalipun turut terkena imbasnya. Sungguh memilukan!

Contoh Nyata

Berbagai bencana, bentuk dan proses timbul hanya karena ‘diundang’ oleh manusia dengan ragam dosa-dosa yang dilakukannya sendiri, Al-Quran membuktikannya.

Kaum (selanjutnya disebut masyarakat) Nabi Nuh AS diadzab, ditenggelamkan dengan banjir bandang karena kekafiran mereka, hingga salah seorang anak Nabi Nuh sendiri (bernama Kan’an) pun turut tenggelam karena keinkarannya (lihat QS. Huud/11: 41-44).

Masyarakat Nabi Luth AS (termasuk juga isterinya), mereka homoseks (istilah anak sekarang ‘gay’), diadzab oleh Allah dengan dihujani batu panas dan buminya dibalik (Lihat QS. Huud/ 11: 82-84).

Masyarakat Nabi Syu’aib AS, di Madyan dihantam gempa hingga jadi mayat-mayat yang bergelimpangan karena kekafiran mereka dan curang dalam menakar dan menimbang. (Lihat QS. Al-A’raaf: 85-94).

Manusia zaman Nabi Ibrahim dirubah wujud menjadi monyet karena mensepelekan sholat(Jumat) demi menumpuk harta (Lihat QS al-Baqarah : 65).

Masyarakat “Tsamud” dihancurkan dengan petir, dan masyarakat ‘Ad dihancurkan dengan angin dingin sangat kencang (lihat QS al-Haaqqah/69: 4-7).

Fir’aun (Ramsis 11) dan kroni-kroninya yang kafir telah dihunjami bencana berupa taufan, belalang, kutu, kodok, dan darah; kemudian minta agar dimohonkan oleh Nabi Musa AS untuk dilepaskan dari adzab itu. Setelah dilepaskan oleh Allah adzabnya, lalu mereka kafir lagi, bahkan sang Firaun tetap memproklamirkan diri sebagai ‘Tuhan’. Maka Allah tenggelamkan mereka di dasar laut Merah. (Lihat al-A’raaf/ 7:133-136).

Iblis dilaknat oleh Allah SWT, dikeluarkan dari surga karena tidak mau mengikuti perintahNya, untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. ( lihat al-Hijr/ 15: 34-36).

Masyarakat Nabi Hud AS mendustakan Nabinya, maka mereka dibinasakan oleh Allah. (lihat as-Syu’ara’/ 26: 139).

Masyarakat Nabi Shaleh angkuh, kafir, dan menyembelih unta mukjizat yang tidak boleh diganggu, maka dilanda dahsyatnya bermacam-macam adzab (Lihat al-A’raaf/ 7:77-79).

Contoh di atas, hanya sebagian dari data atau ‘dokumen bencana’ yang terdapat di dalam al-Quran, dan masih banyak contoh lainnnya. Belum cukupkah contoh-contoh itu sebagai pijakan introspeksi keimanan kita? Bukankah kemaksiatan dan bentuk bencana yang terjadi pada masyarakat terdahulu itu sudah banyak terjadi dan melanda bangsa kita, meski(bencana) lain bentuknya?

Pun di zaman Rasulullah Muhammad SAW(Nabi kita), umat Islam kocar-kacir dalam peperangan di gunung Uhud. Karena mayoritas Muslimin waktu itu tak mengindahkan(strategi perang) Baginda Nabi. Sehingga Hamzah sang paman Nabi SAW yang taat pun menanggung resiko terbunuh, adalah kronologis mirip dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah di atas tadi.

Wajah Bopeng

Bebarangan dengan estafeta dahsyatnya bencana. Hampir segala kemaksiatan yang pernah dilakukan oleh masyarakat (kaum) terdahulu yang mendatangkan bencana itu, anehnya segala ragam (kemaksiatan itu) terus bertambah menjalar kesegala sendi hidup dan kehidupan bangsa kita. Sungguh aneh!

Diantara contohnya. Free sex, Over dosis narkotika liar, kian akrab ‘bersahabat’ dengan berbagai lapisan usia penghuni negeri ini. Utamanaya kronis menjangkit komunitas generasi muda tak terkecuali mereka yang ‘fisiknya’ akrab dengan bangku institusi pendidikan. Persis zaman jahiliyah, sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pun bersabda: “Bahwa maraknya zina adalah penyebab utama terjadinya malapetaka“(HR. Ahmad).

Perempuan Lia Eden telah lama mengaku sebagai ‘malaikat Jibril’, Abdurrahman pengikutnya mengaku reinkarnasi ‘Nabi Muhammad’. Bak regenerasi(tepatnya anak-cucu) Firaun, bukan? Meski belum ada yang memproklamirkan diri sebagai ’Tuhan’.

Sekarang juga banyak yang suka dengan sesama jenis. Pria dengan pria, wanita dengan wanita. Se, semua sudah kebalik-balik. Inikah reinkarnasi masyarakat Nabi Luth?

Illegal logging dan sejenisnya, alias banyak kerusakan akibat perbuatan tangan-tangan manusia, kian menjadi ’berita wajib’ bangsa kita (lihat QS. ar-Ruum/ 30: 41).

Manipulasi, korupsi dijadikan lahan utama menumpuk kekayaan oleh para penguasa. Rakyat menjerit (busung lapar) tak dihiraukan. Bak ‘Raja Qorun’, dengan kekuasan dan kekayaannya berlimpah(masih juga) serakah merampas sebutir perhiasan mas yang hanya dikenakan seorang anak yatim kelaparan, yang akhirnya oleh Allah SWT ia pun beserta istana dan segala kekayannya dijebloskan ke perut bumi(QS. al-Qashash/ 28: 76-82).

Astaghirullah al-Adzim! Alangkah indahnya jika kita bersama-sama memohon ampunan pada Allah SWT di segala situasi.

Yang juga tak kalah dasyatnya adalah, makluk bernama; Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sepilis). Jika illegal logging merusak hutan, Sepilis merusak akidah umat. Barangkali semua contoh-contoh di atas itulah akibatnya.

Ya, sesuai ‘sportifitas keimanan’, bukankah seharusnya mendekatkan diri kepada Tuhan (Munajat), mari memohon ampunan (istighfar), berdoa atau berdikir dan amaliah ibadah lainnya.

Tidaklah hanya dilakukan ketika manusia dirundung tragisnya musibah, juga tidak pula harus dilakukan gegap-gempita di panggung terbuka, seperti istighotsah. Apalagi, jika ‘tangisan tobatnya’ diekspose oleh media massa dan disaksikan oleh banyak manusia.

Alhasil, setiap saat selayalnya kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan hanya karena sedang atau takut akan didera bencana atau dijangkit wabah. Labih bagus lagi, kita mulai sekarang juga!

 

[Penulis pemerhati umat beragama dan kini Mahasiswa (NU) yang sedang studi di universitas Karaouiyine Maroko. Email: \n gusgaul@yahoo.com Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya ]- Hidayatullah.

Advertisements

Madrasah Pendidikan Jiwa

Posted in Artikel on May 29, 2007 by hufaizh

Beberapa metode pendidikan jiwa yang dilakukan oleh tabi’in, yaitu sebagai berikut.

1. Takut kepada Allah dan Menahan Jiwa dari Maksiat

Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (an-Naazi’aat: 40—41)

Imam Qurthubi menuturkan perkataan Mujahid untuk mengomentari firman Allah pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia kepada Allah azza wajalla ketika berada di lembah-lembah dosa dan ia terperosok di dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu’, yaitu menahan dari maksiat-maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”

Hawa nafsu yang ganas dan keras menutupi fungsi akal dan mengendalikannya. Dibutuhkan kekuatan yang besar untuk menghancurkannya, yang berpusat pada takut kepada Allah, takut dengan terbukanya segala kesalahan di hari kiamat, takut dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Demikianlah bagaimana para tabi’in mendidik jiwa mereka dan mengikutinya dengan takut kepada Allah, bersama dengan itu disertai rajaa` ‘mengharap’ ampunan dan rahmat-Nya. Dan hal itu terealisasi dengan mempelajari ilmu-ilmu tentang akhirat; mulai permasalahan alam kubur sampai masuk tempat akhir: surga atau neraka. Pembelajaran yang terperinci terhadap hal-hal yang berhubungan dengan akhirat membantu untuk menanamkan rasa takut di dalam jiwa.

2. Membentuk Jiwa yang Sabar

Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”(al-Kahfi: 28)

Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada kejahatan, dan di antara karakteristiknya enggan beriltizam dan terikat, tetapi senang berpindah-pindah dan lepas dari kendali, walau kendali itu bermanfaat baginya di akhirat. Jiwa juga tidak suka diperintah seseorang terhadap yang dibencinya, atau membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia memberi kecintaan pada pemiliknya untuk santai dan berleha-leha.

Diriwayatkan dari Imam Basyar al-Hafi r.a., ia berjalan bersama seseorang di jalan, kemudian temannya itu merasa haus, maka ia berkata kepadanya, “Kita minum dari air sumur ini?” Maka Imam Basyar berkata, “Sabarlah sampai sumur yang lain.” Dan ketika mereka sampai di sumur yang dimaksud, Basyar berkata kepadanya lagi, “Nanti sampai sumur yang lain.” Dan ia terus mengulanginya. Kemudian ia menoleh kepada temannya itu dan berkata, “Demikianlah kita memutuskan dunia.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari kejadian ini dengan berkata, “Siapa yang memahami keberadaan ini, ia akan mengungkapkan alasan untuk tidak melakukan sesuatu dan berlemah lembut kepadanya, dan menjanjikan yang indah untuk menjadikan kesabaran atas apa yang telah diemban. Sebagaimana beberapa ulama salaf mengatakan kepada jiwanya yang menyuruh kepada yang jahat, ‘Demi Allah aku tidak ingin melarangmu dari yang kamu sukai ini kecuali karena ingin mengendalikan keinginanmu yang buruk.’”

Pengendalian ini merupakan azab Allah ta’ala terhadap hawa nafsu. Dan ini adalah salah satu faktor yang mendorong para sahabat r.a., kemudian para tabi’in untuk memerangi jiwa, dari yang tidak disenangi dengan larangan, terhadap apa yang dikehendaki dan dicintai hawa nafsu.

3. Mengendalikan Nafsu

Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat Bukhari, surga seolah menjadi tertutup dengan hijab, dan hijab ini bukan dari kulit atau sutera atau jenis-jenis kain penutup lainnya, tetapi ia terhijab dari hal-hal yang dibenci. Oleh karenanya, itu bukan satu penutup tetapi banyak. Dan hijab yang beragam dengan corak-corak yang beragam, serta warna-warni yang berbeda, karena pada setiap musibah ada warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang mukmin sampai ke surga, kecuali dengan menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.

Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang membutuhkan waktu yang lama. Secara tersendiri, ini adalah usaha “mengendalikan jiwa” yang terkadang melenceng di sepanjang jalan. Dan sulitnya menyingkap hijab-hijab dari hal-hal yang dibenci ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk bermalasan dan santai. Ridha terhadap aib yang ada pada jiwa mereka dan atas apa yang diajukan untuk akhirat, tanpa adanya tambahan.

Pengendalian tidak disukai jiwa dan juga tidak selaras dengannya, tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali melakukan metode ini, jika kita menginginkan barang dagangan Allah yang mahal (surga), walau jiwa kita tidak biasa mengikuti metode ini; sebagaimana jiwa-jiwa generasi pertama dan para tabi’in yang terbiasa pada kebaikan; sebagaimana ditunjukkan Imam yang konsiten, Amirul Mukminin dalam ilmu hadits, Abdullah ibnul Mubarak ketika ia berkata, “Orang-orang saleh pada masa lalu, jiwa mereka selalu mengikuti kebaikan dengan sendirinya, sedangkan jiwa kita hampir selalu mengikuti yang dibenci. Oleh karenanya, kita harus membenci jiwa yang mengajak kepada yang dibenci.”

4. Menjaga dari Sifat Kikir

Allah swt. berfirman, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Imam al-Qurthubi berkata, “Kikir dan bakhil (asy-syukh dan al-bukhl) adalah sama. Beberapa ahli linguistik mengatakan bahwa kikir (asy-syukh) lebih keras daripada bakhil (al-bukhl).” Namun yang benar, “Kikir adalah bakhil dengan sangat tamak. Dan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kikir dengan zakat yang bukan wajib, seperti silaturahmi, menghormati tamu, dan yang sejenis dengan itu. Dan bukan termasuk kikir atau bakhil yang menginfakkan untuk hal itu. Dan barangsiapa yang merasa luas jiwanya dan tidak berinfak terhadap apa yang telah kami tuturkan dari zakat-zakat dan ketaatan-ketaatan tersebut, maka ia tidak dipelihara dari kekikiran.”

Dengan pemahaman yang menyeluruh ini, Imam al-Qurthubi mendefinisikan kikir. Jika demikian, kikir tidak seperti yang dipahami orang-orang bahwasanya kata mereka ia adalah khusus yang diinfakkan manusia pada zakat yang wajib, dan sedekah kepada orang-orang fakir dan miskin serta orang-orang yang membutuhkan, tetapi ia menyeluruh, meliputi infak dalam ketaatan-ketaatan dengan seluruh jenisnya. Dan, yang paling buruk dari jenis ini adalah kekikiran jiwa pada larangannya untuk mengerjakan amal-amal ketaatan yang dapat mendekatkannya menuju surga.

Dan kikir termasuk sifat utama jiwa, yaitu jiwa yang menahan pemiliknya dari segala yang mendekatkan kepada Allah swt. dan yang mengantarkannya ke surga. Juga sebaliknya, ia tidak mencegah pemiliknya untuk memberikan pada syahwat dan hawa nafsu yang menjauhkan dari Allah ta’ala, serta untuk mendekati neraka-Nya. Dan barangsiapa yang mampu melawan dan mengalahkan atas apa yang diinginkan dari keengganan melakukan amal-amal kebaikan, ini akan menyampaikannya kepada rahmat Allah menuju surga dan ia termasuk orang-orang yang menang.

5. Tawakal

Dari Muhammad bin Abi Imran berkata, “Aku mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar ditanya seseorang, ‘Dengan apa engkau membangun perkaramu dalam bertawakal kepada Allah?’ Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut: aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, maka tenanglah jiwaku; Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh selainku, maka aku sibuk dengannya; Aku tahu kematian pasti mendatangiku kapan saja, maka aku berisap-siap untuk itu; Aku tahu, aku tidak pernah lepas dari pandangan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya jika terlihat sedang melakukan maksiat.’”

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna tawakal. Namun, pendapat mereka semua bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan dengan keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat memenuhinya, juga dengan menampakkan sebab-sebab untuk mendapatkan sesuatu yang dimaksud (ikhtiar), serta melepaskan diri dari bergantung pada sebab-sebab itu, dan bergantung pada yang menjadikan sebab-sebab itu, Dialah Allah ta’ala. Empat hal yang dituturkan seorang zahid, Abi Hatim yang tidak dapat mendengar, adalah bukan definisi tawakal, tapi itu adalah dasar budi pekerti yang dibangun ulama dalam hal tawakal.

6. Introspeksi Diri

a. Menghinakan Jiwa yang Menyuruh pada Kejahatan

Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik jiwa ini. Menghinakannya sebelum dihinakan oleh orang-orang lain dan sebelum mencari aib-aib mereka. Dan, ini adalah pintu masuk untuk mengintrospeksi jiwa yang diperingatkan seorang zahid, ahli ibadah, Abu Sulaiman ad-Darani, ketika ia ditanya Ahmad bin Abil Hiwari: “Fulan dan si fulan tidak berada dalam hatiku (baca: tidak aku sukai).” Ahmad bin Abil Hiwari berkata, “Dan tidak pula pada hatiku. Tetapi semoga kita datang dari hatiku dan hatimu; dan kita tidak mempunyai kebaikan dan bukannya kita tidak mencintai orang-orang saleh.”

b. Musuh yang Bodoh

Kalau Imam ad-Darani memperingatkan Ibnu Abil Hiwari saja, Yahya bin Mu’adz memperingatkan sekelompok pengikutnya dengan keteladanan, di mana ia berkata kepada mereka, ”Di antara kebahagian manusia adalah memberikan pemahaman kepada musuhnya, tapi musuhku tidak mempunyai pemahaman.” Dikatakan kepadanya, “Siapakah musuhmu?” Ia menjawab, “Jiwaku yang menjual surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi dengan syahwat yang hanya sesaat.”

Musuh yang bodoh ini berbahaya bagi jiwa, ketika menghiasi manusia dengan kepalsuan dunia, menghiasi dan mempermudah untuk melakukan syahwat-syhawat, serta meremehkan hakikat suatu kejahatan. Inilah peperangan seorang mukmin dengan jiwanya yang menyuruh berlaku jahat dan yang melupakannya terhadap nikmat-nikmat surga, juga menutup mata kepadanya, dan mengutamakan baginya kenikmatan dunia yang sementara.

c. Selalu Siaga

Ia menghinakan jiwanya dalam setiap keadaan dan tidak meninggalkan tempat bernafas yang ia bisa bernapas di dalamnya. Tidak juga memberi kesempatan untuk berburu di dalamnya dan menutup seluruh sektor-sektor yang luas di mana jiwa dapat berkeliling dan mendapatkan tempat untuk melakukan kejahatan. Namun, generasi sekarang tidak mempunyai kesiagaan seperti generasi tabi’in.

d. Jenis Introspeksi yang Lain

Orang tidak menyangka bahwa introspeksi terbatas pada introspeksi terhadap maksiat dan peremehan terhadap bahaya maksiat atau yang sejenis dengannya. Padahal, introspeksi meliputi berbagai hal, sampai pada ketaatan, ketika takut keistiqamahan pada jalan ini terpengaruh dengan perasaan bangga diri yang melupakan pemberi taufik, Allah swt. dan meremehkan orang lain dari kebenaran. Inilah jenis introspeksi yang diungkapkan kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari ‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat (menyendiri) bersama jiwanya.

Wallahu a’alam bish-shawwab.

Dikutip dari buku : Madrasah Pendidikan Jiwa-Buletin Marwa

K.H. Rahmat Abdullah; Syekh Tarbiyah, Berdakwah Menembus Ruang dan Waktu

Posted in TOKOH on May 29, 2007 by hufaizh

Oleh : Muhammad Syarief

Reformasi yang digulirkan pada tahun 1998 telah menjadi cahaya terang bagi umat Islam Indonesia. Azas tunggal yang selama beberapa dekade dijunjung tinggi lambat laun berhasil ditumbangkan, seiring bertambah cerahnya masa depan dakwah di tanah air. Hal ini takkan pernah terjadi tanpa adanya kerja keras yang melahirkan bibit-bibit unggulan. Satu hal yang menjadi catatan: bibit itu takkan pernah lahir tanpa adanya sosok seorang dai, yang tak mengenal letih dalam menyuarakan kebenaran. Di antara sosok itu adalah Ustad Rahmat Abdullah, sang juru dakwah yang pantang menyerah demi tegaknya Islam. Beliau lebih dikenal di kalangan aktivis dakwah sebagai syekh tarbiyah.
Beliau lahir di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 3 Juli 1953. Putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah. Sebagai anak Betawi, beliau lebih bangga apabila tanah kelahirannya disebut dengan Jayakarta, nama lain kota Jakarta yang diberikan oleh Pangeran Fatahillah.
Belum puas menikmati kasih sayang sang ayah, beliau yatim saat usianya genap 11 tahun. Beliau hanya diwarisi percetakan sablon ayahnya, modal sekaligus sumber usaha untuk menyambung hidup keluarga. Namun Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Kesedihan yang menghampirinya tak menyurutkan semangat untuk mendalami ilmu agama. Waktu luang setiap pagi beliau manfaatkan untuk mengaji (belajar membaca Alquran, baca-tulis Arab, kajian akidah, akhlak, dan fikih) yang dilanjutkan dengan sekolah dasar di siang hari.
Di era 60-an, Rahmat remaja termasuk aktivis demonstran anggota KAPPI & KAMI, yang lebih dikenal dengan angkatan 66. Padahal waktu itu beliau masih duduk di bangku SMP.
Melihat kurangnya perhatian sekolah terhadap masalah agama, beliau kemudian pindah sekolah ke Ma’had Asy-Syafi’iyah di Bali, Matraman, Jakarta, yang didirikan oleh K.H. Abdullah Syafi’i. Di sini, kecerdasan Rahmat teruji. Setelah diterima di bangku kelas tiga MI, beliau kemudian ‘meloncat’ ke kelas lima. Saat itulah kali pertama beliau mengenal ilmu nahwu yang menjadi pelajaran favoritnya. Dengan ilmu itu, beliau akhirnya dapat memahami siaran radio berbahasa Arab “Shout Indonesia” yang disiarkan RRI saat itu. Selepas MI, Rahmat remaja melanjutkan studinya ke jenjang MTs di Ma’had yang sama. Di sini, beliau mulai belajar ushûlul fiqh, mushthalahul hadîts, psikologi, dan ilmu pendidikan. Namun, pelajaran yang beliau gemari adalah talaqqî, yang dibimbing langsung oleh K.H. Abdullah Syafi’i; sosok kiai karismatik yang memberikan banyak inspirasi. Pada saat itu juga, Rahmat muda pun mulai merintis dakwah, berkhidmah kepada umat dengan mengajar di Ma’had Asy-Syafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan. Hal ini beliau jalani selama bertahun-tahun, berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Tak jarang untuk memberikan les privat beliau pun harus melewati lorong-lorong Jakarta hingga larut malam. Namun keikhlasan senantiasa menyelimuti beliau, karena semangat dakwah sudah terpatri dalam dirinya. Rahmat seorang santri yang cerdas, bersemangat baja, dan pantang menyerah, sehingga wajar kalau beliau kemudian dijadikan murid kesayangan K.H. Abdullah Syafi’i. Hingga pada tahun 1980, beliau bersama empat rekannya yang lain, sempat akan diberangkatkan ke Kairo untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar. Namun sayang, kesempatan itu gagal, karena ada ‘fitnah’ dari kalangan internal. Namun semangat Rahmat untuk belajar sedikit pun tak mengendur. Sejak beliau diperkenalkan K.H. Abdullah Syafi’i dengan seorang syekh dari Mesir, mulalilah beliau tertarik dengan pemikiran tokoh-tokoh Islam. Hasan Al-Banna, Sayyid Qutub, dan tokoh nasional seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Muhammad Natsir, merupakah tokoh-tokoh Islam yang beliau kagumi. Dalam waktu singkat beliau melahap buku-buku mereka dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Beliau pun sempat berdiskusi dan berguru dengan tokoh nasional Muhammad Natsir, Mohammad Roem, dan Syafrudin Prawiranegara. Beliau pun mengaku mengadopsi metode orasi dari orator ternama Isa Ansari dan Buya Hamka, serta sang guru K.H. Abdullah Syafi’i.
Kekaguman beliau kepada tokoh-tokoh mujahid itulah yang kemudian menjadikannya dai yang mempunyai keahlian luar biasa. Sebagian muridnya mengatakan beliau adalah tokoh yang unik, karena pemikirannya yang tidak hanya tertuju kepada skrip kitab-kitab klasik, tetapi juga terbuka dengan alur pemikiran kotemporer. Maka di sela-sela ceramahnya, kita pun menemukan perpaduan pemikiran klasik dan modern. Tak jarang kritikan tajam pun ia layangkan ke pemikiran kiri seperti Karl Marx.
Keseriusan Rahmat dalam menggeluti dunia dakwah membuatnya lupa kalau usianya sudah menginjak kepala tiga. Akhirnya, di usianya yang ke 32, Rahmat mengakhiri masa lajangnya, dengan menikahi Sumarni, adik kelasnya ketika masih sekolah di Ma’had dulu. Pernikahan pun dilangsungkan pada tanggal 15 Ramadan 1405 H. (1984). Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai tujuh orang anak.
Sekalipun sudah berkeluarga, bukan halangan bagi Rahmat untuk terus berkiprah dalam dunia dakwah. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin, dan beberapa tokoh pemuda Islam pada saat itu, mereka tergabung dalam Harakah Islamiyah di era 80-an; halaqah dakwah yang terinspirasi dari pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang didirikan Hasan Al-Banna. Inspirasi dakwah Hasan Al-Banna sebenarnya sudah lama menjadi acuan Rahmat Abdullah. Gayung pun bersambut. Beliau bertemu dengan rekan-rekannya yang seide dan sepemikiran. Bersama mereka, beliau berjuang melalui jalur pendidikan, kaderisasi, dan pengajian. Di wadah ini, Rahmat juga merintis sebuah majalah Islam yang banyak diminati pemuda Islam pada saat itu. Sayang, rezim orde baru yang berkuasa memaksa mereka untuk menutup segala aktivitas dakwahnya. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Rahmat untuk membuka lembaran baru di dalam dunia dakwah. Setelah lama berpetualang di dunia dakwah, bersama muridnya pada tahun 1993, Rahmat mendirikan Islamic Center Iqra’; lembaga Islam yang bergerak dalam pengembangan dunia pendidikan dan sosial, di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Sejak saat itu kesibukannya bertambah padat, mengkaji kitab klasik dan juga kontemporer. Sekalipun demikian, beliau tidak lupa untuk terus mengembangkan potensi diri. Membaca, mengkaji Alquran dan tafsir, hadis beserta syarah terus beliau tekuni.
Pasca runtuhnya rezim orde baru, beliau terjun dalam dunia politik. Mungkin tak terbersit sedikit pun di benaknya untuk berkecimpung di dunia itu. Namun untuk kelangsungan dakwah, tugas itu pun akhirnya diemban. Pada tahun 1999, beliau diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan—partai yang didirikannya bersama dengan rekan-rekan seperjuangannya, setelah lebih sepuluh tahun dirintis bersama, yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Kemudian beliau beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera.
Pada tahun 2004, karir politiknya kembali melejit. Beliau terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan pada pencalonan beliaulah pertama kalinya Bandung dimenangkan oleh partai Islam, sejak awal pemilu tahun 1955.
Dai sekaligus budayawan. Itulah Rahmat Abdullah. Perjalanan hidupnya dalam menyelami lautan dakwah banyak beliau rangkai dalam untaian bait-bait syair, puisi, serta artikel-artikel kecil. Di kala muda, beliau kerap berlatih teater, bersama guru dan teman-teman seperjuangannya. Kepedulian beliau terhadap budaya memang tak boleh dipandang sebelah mata. Beliau mempunyai sumbangsih yang besar dalam proses islamisasi budaya (dakwah kultural) di tanah air. Dengan sahabat seperjuangannya, Abu Ridho (mantan wakil ketua MPP PK-Sejahtera), beliau memberikan warna baru dalam dinamika seni dan budaya Indonesia, tapi beliau tidak ingin disebut sebagai seorang seniman, sekalipun kemampuannya dalam hal seni tak diragukan.
Dai, demonstran, budayawan, dan filosof ini akhirnya menduduki kursi ‘empuk’ DPR di komisi III. Bersuara lantang, kritis namun tetap sopan, itulah kesan yang didapat dari rekan-rekannya di Parlemen. Amanat di partai pun dengan penuh semangat beliau emban. Hingga di penghujung hayatnya, beliau diamanahkan sebagai Ketua Badan Penegak Organisasi Partai Keadilan Sejahtera.
Ada yang datang dan ada yang pergi, itulah sunatullah. Selepas menyempurnakan wudlu untuk menunaikan salat Maghrib, beliau dipanggil menghadap Sang Khalik, Selasa, 14 Juni 2005. Beliau wafat pada usia 52 tahun. Umur yang tergolong muda untuk seorang politisi. Tidak seimbang memang dengan rambut kepala dan jenggotnya yang sudah memutih. Mujahid dari kampung Betawi ini wafat dengan meninggalkan istri dan tujuh orang anaknya.
Kota Jakarta pun seakan menangis, mengucurkan hujan deras mengiringi kepergian beliau. Puluhan ribu muridnya tanpa kuasa menahan haru mengantarkan jenazahnya ke persemayaman terakhir. Syekh tarbiyah itu telah pergi, namun semangat dakwah yang diwariskan kepada murid-muridnya takkan memudar. Selamat jalan Ustad Rahmat…. Perjuangan yang telah lama engkau rintis ini, akan terus kami lanjutkan. (Sinai Mesir)

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Tamat)

Posted in MELURUSKAN SEJARAH on May 28, 2007 by hufaizh

Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:

Tujuan:
– SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,
– BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).

Sifat:
– SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,
– BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Bahasa:
– SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia,
– BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda:
– SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda,
– BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda,

Sikap Terhadap Agama:
– SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,
– BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan:
– SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,
– BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan,

Korban Perjuangan:
– Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,
– Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Kerakyatan:
– SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan,
– BO bersifat feodal dan keningratan,

Melawan Arus:
– SI berjuang melawan arus penjajahan,
– BO menurutkan kemauan arus penjajahan,

Kelahiran:
– SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905,
– BO baru lahir pada 20 Mei 1908,

Seharusnya 16 Oktober
Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.

Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang sesungguhnya anti Islam dan a-historis.

Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan “Hari Kebangkitan Nasional”. (Tamat/Rizki Ridyasmara-Eamuslim)

Kekuatan Fitrah Menghadapi Ujian

Posted in Artikel on May 24, 2007 by hufaizh

Oleh : DR. M. Hidayat Nur Wahid, MA

Kita yakin bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah dan agama rahmat bagi seluruh alam, bukan agama yang membawa kerusakan kepada manusia. Islam adalah agama yang menjadi solusi dan bukan sesuatu yang membawa destruksi. Namun, memperhatikan berbagai perkembangan negatif yang menimpa umat Islam, seperti krisis multi dimensional dan tuduhan terorisme, peran umat Islam semakin ditantang untuk kembali hadir dengan cara-cara yang sesuai dengan syariat Islam rahmatan lil ‘alamin.

Persoalan krisis krusial ini tidak dapat dihadapi dengan sikap acuh tak acuh atau kepanikan dan keputusasaan. Mari kita berkaca kepada sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw yang telah menghadapi dan mampu mengatasi kondisi-kondisi yang lebih kritis dalam waktu yang panjang dan melelahkan. Sejarah mencatat penderitaan besar yang dialami Rasulullah Saw selama beliau berdakwah di Mekkah, antara lain dalam bentuk teror dan boikot terhadap kaum muslimin oleh orang-orang kafir Quraisy selama tiga tahun.

Bahkan dipenghujung pemboikotan itu, dua pembela utama Rasulullah Saw, yaitu istri tercinta beliau Khadijah Ra wafat, lalu disusul oleh paman beliau Abu Thalib. Arahan-arahan Allah Swt dalam menghadapi dan mengatasi kondisi seperti ini telah jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (hajran jamiila)” (QS Al-Muzammil : 10). Ada beberapa bentuk kesabaran yang diperlihatkan Rasulullah Saw dan kaum muslimin pada saat itu yang patut kita renungkan untuk menghadapi kondisi saat ini.

Pertama, keteguhan mengusung cita-cita dakwah. Meskipun pemboikotan itu demikian dahsyatnya, Rasulullah Saw dan kaum muslimin tetap bertahan pada cita-cita menegakkan kalimat Ilahi. Jika saja Rasulullah Saw seorang pemimpin yang lemah pastilah ia telah menyerah, tunduk dan patuh kepada kemauan dan teror kaum kafir Quraisy. Firman Allah Swt “Sekali-kali jangan. jangan kamu taat kepada orang-orang kafir itu. Bersujudlah dan mendekatlah (kepada Allah)” (QS Al Alaq: 19) Dalam konteks kekinian, salah satu masalah besar yang akan berdampak serius adalah manakala umat Islam kehilangan orientasi ketika menghadapi problematika perjuangan. Sehingga mereka rela menjual agamanya, harkat dan kedaulatannya yang justru hasilnya adalah semakin menjadikan umat Islam terperosok dalam kehancuran. Karenanya, umat Islam tidak boleh kehilangan orientasi untuk terus melanjutkan dakwahnya, beramar ma’ruf dengan cara yang ma’ruf dan ber-nahimunkar tidak dengan cara-cara yang munkar dengan merujuk kepada tujuan Rasulullah saw.

Bentuk kesabaran kedua adalah tetap menjaga ukhuwah di kalangan umat dan solidaritas sosial dikalangan pendukungnya. Rasulullah Saw dan kaum muslimin senantiasa mengokohkan persatuan dan solidaritas sosial diantara mereka. Dengan mengokohkan solidaritas sosial, kesengsaraan tidak akan menjadi sumber perpecahan lantaran tumbuhnya sikap saling menyalahkan. Termasuk kekompakan yang dijaga Rasulullah Saw adalah hubungan beliau dengan paman beliau Abu Thalib dan Abbas yang sekalipun belum menganut agama Islam, tetapi mereka terus menerus membela Nabi Muhammad Saw. Soliditas dan solidaritas inilah yang mampu membentengi kaum muslimin dari berbagai provokasi yang dapat melemahkan sikap dan perjuangan mereka. “Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah” (QS Ali Imran: 102). Dalam konteks kekinian, sesuatu yang disesalkan apabila dalam kondisi yang demikian kritis, umat Islam di Indonesia terjebak pada skenario teror dan poltik belah bambu yang dimainkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan kontribusi umat Islam bagi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karenanya, sikap Rasulullah di atas tetap layak untuk kita renungkan, sehingga selalu terdorong untuk tetap menjaga ukhuwah dan kerjasama diantara sesama umat Islam dan bahkan diantara keseluruhan anak bangsa Indonesia yang memiliki cita-cita memajukan bangsa ini. Karenanya, adanya perbedaan dalam bidang furu’ fiqhiyah, hendaknya tidak disikapi dengan cara melanggar salah satu kaidah utama dalam Islam, yaitu menjaga ukhuwah Islamiyah, sehingga perbedaan semacam ini tidak menjadi faktor yang memecah belah umat yang jelas-jelas dilarang oleh Al-Quran dan sangat disukai oleh syaitan.

Bentuk kesabaran ketiga adalah terus melakukan inovasi perjuangan dakwah. Selama pemboikotan berlangsung, dakwah Islam tetap dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya, sebagai bukti tidak matinya semangat dan cita-cita kaum muslimin. Para sahabat tetap gencar mendatangi rombongan para tamu keagamaan yang datang dari Mekkah dan menyampaikan pesan-pesan Islam kepada mereka. Kegiatan ini tidaklah mudah, karena setiap saat orang-orang Quraisy mencegah mereka dengan propaganda-propaganda penuh kebohongan. Bahkan Abu Lahab selalu berada di belakang Rasulullah Saw ketika beliau sedang menemui pimpinan kabilah-kabilah untuk menyampaikan dakwah Islam. Saat itu Abu Lahab selalu mengcounter dakwah beliau dengan mangatakan bahwa Rasulullah Saw telah berbohong dan menyampaikan ajaran yang tidak benar.

Kegigihan yang diperlihatkan oleh Rasulullah Saw dan kaum muslimin menandakan bahwa sebesar apapun rintangan yang dihadapi maka ikhtiar untuk mencari jalan keluar bagi pemecahan masalah-masalah dakwah tidaklah terhenti. “Dan sesungguhnya orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami pasti akan kami tunjukan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ankabut: 69). Dalam konteks kekinian, dengan masalah yang datang bertubu-tubi terhadap umat Islam dan bangsa Indonesia cenderug memunculkan sikap apatisme dan ketidakpedulian terhadap nasib sesama umat.

Masing-masing cenderung menyelamatkan diri sendiri dan tidak peduli dengan nasib orang lain, dengan mengikuti pola-pola solusi baku yang dimilikinya. Rasulullah Saw sebagaimana kisah yang ditampilkan di atas membuktikan bahwa justru dengan terus melakukan inovasi yang kontrukstif, krisis akan dapat ditanggulangi. Oleh karena itu keberanian, sikap inovasi dan kreatifitas harus diwujudkan dalam jiwa setiap pemimpin dan umat Islam, bukan jiwa yang beku, menyerah dan tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil yang akan menyebabkan kita menjadi bebek, menjadi kolaborator musuh-musuh bangsa dan akhirnya menjadi kuli di negeri sendiri. Bentuk kesabaran yang keempat adalah senantiasa menjadikan doa dan tawakal sebagai benteng penjaga eksisitensi umat.

Diantara sikap dan ajaran yang diperintahkan Allah dan dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dan kaum muslimin adalah sikap berdoa memohon pertolongan Allah, Dzat Yang Maha Kaya, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana,serta sepenuhnya bertawakal diri (berserah diri) atas ketentuan terbaik yang kaan didapatkan mereka dari Allah Swt. Inilah yang dilakukan Rasulullah Saw dan kaum muslimin dalam berbagai peristiwa penindasan yang dialami mereka, termasuk dalam masa pemboikotan yang memakan waktu tiga tahun itu. Dalam konteks kekinian, seringkali karena kekalutan yang demikian akut sseorang atas sekelompok orang tidak lagi merasa penting berdoa dan berserah diri kepada Allah.

Tetapi dalam upaya mencari solusi krisis yang menimpa dirinya, ia justru meminta tolong dan berserah diri kepada selain Allah, yang justru semakin menghisabnya ke dalam pusaran krisis yang tidak berujung. Hendaknya kaum muslimin Indonesia menyadari bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga kita tidak hanya mengandalkan ikhtiyar-ikhtiyar kemanusiaan dan melupakan peran Allah Swt sebagai penentu. Rasulullah Saw seorang tokoh yang telah sukses mengantarkan umatnya keluar krisis itulah yang justru mengajarkan tentang pentingnya sikap berdoa dan bertawakal yang menandakan akan adanya sikap tawadhu, tahu diri dan penuh harapan kepada Zat Yang Maha Segala-galanya, yaitu Allah Swt. Sekali lagi umat Islam Indonesia harus percaya diri dengan panduan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mereka miliki.

Apalagi kita baru saja menyelesaikan ibadah puasa satu bulan lamanya, dimana di dalamnya kita biasakan untuk menginternalisasi secara efektif terhadap prinsip-pinsip kesabaran di atas. Kesadaran peran itu juga ditempa melalui berbagai akfitas kepedulian sosial termasuk dalam bentuk membayar zakat, sedekah, memakmurkan masjid, dan interaksi intensif dengan Al-Qur’an. Inilah kondisi fitrah yang merupakan jati diri setiap umat Islam. Ia mungkin terkotori oleh berbagai sikap menyimpang, akan tetapi interaksi intensif dengan aktifitas satu bulan Ramadhan itulah yang kiranya mengembalikan kita kepada fitrah. Fitrah yang begitu kokoh untuk kita jadikan sebagai pijakan penting untuk memberi kontribusi dan amal soleh bagi solusi problematika umat dan bangsa. Kita perlu terus menggelorakan semangat ini, sebab kita sadar bahwa keselamatan umat Islam berarti keselamatan bangsa ini. Sebaliknya keterpurukan umat Islam pasti akan membawa kehancuran bangsa ini. [http://www.pks-jaksel.or.id]

Menanti Tunas-tunas Baru

Posted in Artikel on May 24, 2007 by hufaizh

 

Oleh : M. Miftah Al Aflah

 

Tarbiyah berasal dari bahasa arab robaa-yarbuu yang berarti tumbuh, mengembang (menumbuhkan tunas baru) seperti tunas mengeluarkan daun dan menumbuhkan akar serta mengokohkan batang. Sebuah tunas akan tumbuh dari proses tarbiyah

Tarbiyah adalah sebuah sistem manajemen Rasulullah s.a.w yang begitu rapih dan teratur yang akan membawa perubahan besar pada setiap individu yang berada didalamnya.sebut saja umar r.a sebagai aksioma keberhasilan dari proses Tarbiyah dan sederet nama lainnya yang menyabet gelar lulusan madrasah Rasulullah s.a.w, metamorfosa terjaga begitu rapih (sekor ulat yang menjijikan akan berubah menjadi kupu-kupu pelangi yang mengagumkan.

Namun banyak individu yang meragukan tarbiyah sebagai proses peningkatan kualitas diri tanpa alasan yang jelas, bahkan telinga mereka alergi ketika mendengar kata tarbiyah..

Tarbiyah vs Organisasi-organisasi di Amerika

Amerika boleh berbangga dan menamakan diri sebagai negara super power yang memiliki orang-orang hebat dalam mengatur manajemen dan organisasi, padahal islam memiliki sebuah manajemen yang lebih hebat, berkaca pada sekitar tahun 70 dan 80 an kebanyakan manajer di Amerika adalah pemberi disiplin karung goni yaitu mereka menimbun pengamatan mengenai prilaku buruk para bawahan mereka dan suatu hari pada saat tinjauan prestasi tiba (yaitu pada akhir tahun) mereka marah karena karung sudah begitu penuh, mereka jadi panas dan membuang segala sesuatu keatas meja, mereka memberi tahu orang-orang mereka segala sesuatu yang mereka lakukan dengan salah selama beberapa bulan terakhir atau lebih (cara ini sangatlah tidak efektif) namun metode ini terus berlangsung sebelum akhirnya Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson memberikan terobosan baru bagaimana cara mengelola organisasi dengan baik dalam bukunya “The One Minute Manager” dalam buku ini disebutkan bahwa seharusnya tinjauan prestasi dijadikan suatu proses yang berlangsung terus (continue) bukan dilakukan hanya sekali setahun., dan banyak lagi solusi dan teori-teori yang dipaparkan dalam buku ini sebagai solusi dari pelbagai permasalahan yang terjadi dalam sebuah organisasi. Begitu tepat dan cerdasnya solusi-solusi yang dipaparkan dalam buku ini sehingga dalam waktu lebih dari 10 tahun ribuan manajer top dan 500 perusahaan fortune di Amerika telah mengikuti pelbagai teknik dalm buku ini dan berhasil meningkatkan produktivitas kemampuan kerja dan kemakmuran pribadi, termasuk pria dan wanita secara perseorangan di :Chase Manhattan bank, Kota Pitssburg, Holiday Inn, America Can, Harvard University, Cornell university, Monsanto, Georgia pacific, Johnson & Johnson, 20th Century fox Video, Kentucky Fried Chicken, ARA Series, Hewlett-Packard, Pepsi-Cola Bottling, Apple Computers, Texaco Loockheed, Hickory Farm, AT&T – dan banyak organisasi lainnya. Bahkan David C. jones, jendral U.S.A.F, ketua gabungan kepala staf mengusahakan agar metode-metode yang ada pada buku ini digunakan diseluruh angkatan bersenjata A.S

Shalawat dan salam atas baginda Rasulullah s.a.w yang tak menerapkan disiplin karung goni pada Tarbiyah, dan tak perlu menunggu terbitnya buku “The One Minute Manager” untuk mendapatkan sebuah trobosan dan ide baru dalam meningkatkan kualitas para mutarobbinya, karena sudah jelas Tarbiyah memeliki pedoman sebuah buku yang langsung diterbitkan oleh sang kholik Allah s.w.t yang langsung disampaikan kepada Rasulullah s.a.w melalui distributor malaikat Jibril a.s. adalah Al-Quran sebagai solusi kehidupan baik individu, organisasi sampai negara sekalipun.

Al-quran telah memberikan jawaban jauh sebelum buku “the One Minute Manager” diterbitkan, jika buku ini mengemukakan metode tinjauan prestasi sebagai proses yang berlangsung terus (baru pada tahun 1981), maka 14 abad yang lalu Al-quran telah memberikan solusi tersebut, firman Allah ‘saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” adalah sebagai tinjauan prestasi yang berlangsung secara terus, bukan dilakukan hanya sekali dalam setahun. Kemudian dalam ayat lain disebutkan “dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari yang mungkar” apakah anjuran “amar ma’ruf nahi munkar” dalam ayat ini hanya dilakukan setahun sekali???

Kemudian, jika selama lebih dari sepuluh tahun ribuan manajer top dan 500 perusahaan fortune diseluruh Amerika telah mengikuti pelbagai teknik dalm buku “The One Minute Manager” dan berhasil meningkatkan produktivitas, kepuasan kerja, dan kemakmuran pribadi, maka sudah berapa juta orang yang mengambil manfaat dan pelbagai teknik dalam manajemen rasulullah (tarbiyah) yang berdasarkan pedoman sebuah buku terbitan langsung dari sang kholik (Al-Quran)??? Sedangkan itu sudah berjalan bukan hanya baru 10 tahun, melainkan sejak 14 abad yang lalu???

Tarbiyah telah melahirkan seorang ja’far yang tak membiarkan tangan kirinya terluka saat tangan kanannya terputus oleh pedang lawan, ia gantikan tangan kiri yang kemudian juga terputus, ia gunakan sisa lengannya untuk bertahan sampai tubuhnya terpotong dua yang Allah gantikan dengan sayap untuk terbang kemana saja di Syurga.

Ja’far adah aksioma dari keberhasilan Tarbiyah yang tertata begitu rapih, maka salah BESAR jika ada individu yang meragukan Tarbiyah sebagai proses peningkatan kualitas diri, banyak orang menyangkal sistemnya yang salah, padahal masalahnya adalah mekanismenya, iklim jahiliyah yang masih tersisa, individu-individu yang belum cukup siap menerima perubahan

* * *

Tarbiyah vs Yahudi

Oarang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela sampai orang-orang islam mengikuti ajaran mereka, mereka begitu cerdik, segala persiapan mereka tata sedini mungkin untuk melawan islam, organisasi mereka begitu rapih dan teratur, mereka telah mengajarkan dan mendidik anak-anak mereka bahwa “islam adalah musuh kalian yang harus kalian taklukan”, mereka telah menanam segala sesuatu untuk 10-20 tahun kedepan, mereka telah menanam : kebencian terhadap islam, racun, dendam, kebebasan, komunisme, liberialisme dan banyak lagi, dan ketika mereka panen, kita tidak mendapatkan apa-apa kecuali produk gagal yang bertebaran dimana-mana. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas merebaknya spesies baru yang sama sekali asing : bertelinga tapi tetap tuli, bermata namun tetap buta, bermulut namun tetap bisu?

Tarbiyah sepanjang hidup, itulah kata kunci bagi siapa saja yang berpikiran maju, sebuah lahan luas tanpa batas yang diairi sungai-sungai dengan kualitas air paling jernih untuk menumbuhkan tunas-tunas baru 10-20 tahun kedepan sebagai tandingan bagi para yahudi la’natullah, dari lahan inilah kita akan memanen produk-produk berkualitas dan bermutu tinggi.

Tiada yang lebih menyejukkan hati seperti sejuknya harapan terwujudnya janji Allah “hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai nya, yang bersifat lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela, itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendakinya, dan Allah maha luas (pemberiannya) lagi maha mengetahui.” (SINAI MESIR)

Wallahua’lam bishawab.

Mukmin Berdaya dan Memberdayakan

Posted in SABDA NABI on May 23, 2007 by hufaizh

Oleh : Ust. Tate Qomaruddin

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing ada kebaikan. Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah.” (H.R. Imam Muslim)

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Musliam dalam Al-Qadar bab Al-Amru bil-quwwati wa tarkil-‘ajzi wal-isti’anati billah watafwidhil-maqadir lillah (Perintah untuk kuat dan meninggalkan kelemahan, meminta pertolongan kepada Allah dan menyerahkan urusan takdir kepada Allah)

Nilai kekuatan seorang mukmin yang paling utama terletak pada kekuatan iman dan takwa. Tapi itu saja belumlah cukup. Kekuatan fisik tidak kalah pentingnya. Itulah pesan yang disampaikan dalam hadis di atas. Tentang hadis ini, Al-Qurthubi menyatakan, “Al-Qowiy (orang yang kuat) dalam hadis ini adalah orang yang kuat badan dan jiwanya dan tinggi semangatnya. Dengan itu dia layak menjalani berbagai tugas ibadah seperti haji, shaum, memerintahkan kepada ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran. Dan orang lemah adalah yang sebaliknya.” (Dalam Nuzhatul-Muttaqin)

Seorang mukmin tidaklah hidup untuk dirinya sendiri. Kehadiran seorang mukmin dalam kehidupan haruslah memberi arti positif bagi kehidupan itu. Dia hidup untuk memberi kontribusi dan manfaat bagi orang banyak. Kiprah seorang mukmin dalam banyak ruang dan peran kehidupan akan sangat menentukan kualitas kehidupan itu. Ini tidak mungkin dilakukannya jika ia tidak berdaya. Kekuatan seorang mukmin dibutuhkan untuk menghadirkan kemaslahatan dalam banyak ranah kehidupan dan membuat masyarakat berdaya, misalnya dalam hal:

a. Sosial Politik

Salah satu indikasi keberdayaan politis adalah memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara; berani mengatakan ‘tidak’ bagi segala yang berada di luar jalur kebenaran; dan sebaliknya siap untuk mendukung bahkan berkorban untuk kebenaran. Islam juga memerintahkan muslim melakukan kontrol kepada penguasa dan pembelaan kepada yang tertindas. Islam telah menetapkan prinsip penting dalam kaitan dengan ini, “Tidak boleh taat kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Al-Khaliq (Allah swt.).”

Tolonglah saudaramu baik dalam keadaan zalim ataupun dalam keadaan terzalimi.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kami mengerti tentang membela orang yang dizalimi. Tapi bagaimana membela orang yang zalim?” Rasulullah saw. menjawab, “Anda membimbing tangan mereka (untuk mencegah kezalimannya).” (H.R. Bukhari)

Muslim yang berdaya juga tidak pernah menyerah ketika berjuang menegakkan keadilan agar masyarakat dapat merasakan hak-hak mereka; agar mereka hidup dengan aman dan tenteram; agar mereka dapat merasakan kekayaan alam yang telah Allah karuniakan. Firman Allah swt.:

كي لا يكون دولة بين الأغنياء منكم

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

واتقوا الله إن الله شديد العقاب

Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Q.S. Al Hasyr 59: 7)

b. Ekonomi

Rasulullah saw. menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai langkah kedua setelah membangun masjid, ketika tiba di Madinah. Beliau menyadari bahwa kaum Yahudi telah lama menguasai pusat-pusat perdagangan. Bahkan merekalah pemilik pusat-pusat perdagangan itu. Akibatnya mereka menguasai hampir seluruh aset kota Madinah dan daerah-daerah sekelilingnya. Para Yahudi itu melakukan perdagangannya dengan cara monopli sehingga kendali harga berada di tangan mereka. Sungguh sangat tepat ketika Rasulullah saw. memutuskan untuk membangun pusat perdagangan kaum Muslimin. Maka ketika kaum Muslimin dalam perilaku bisnisnya menampilkan sikap dan sifat terpuji, masyarakat serta merta menyambut kehadiran pasar yang dibangun oleh Rasulullah saw. itu dan ini artinya mulai meninggalkan sentra-sentra perdagangan Yahudi. Pada gilirannya pasar berada dalam kendali Rasulullah saw. dan secara ekonomi Madinah beralih ke tangan beliau.

Secara operasional, Rasulullah saw. juga terlibat langsung dalam penyelesaian berbagai masalah ekonomi yang terjadi pada para sahabat. Sampai-sampai beliau membantu melelangkan beberapa barang milik sahabat yang membutuhkan modal. Dalam sebuah hadis disebutkan,

Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah saw. guna mengadukan perihal kemelaratan yang dideritanya, lalu ia pulang. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, ‘Pergilah hingga kamu mendapatkan sesuatu (untuk dijual).’ Orang itu lalu pergi dan pulang lagi (menghadap Rasulullah saw.) dengan membawa sehelai kain dan sebuah cangkir. Orang itu lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, sebagian kain ini biasa digunakan keluarga saya sebagai alas dan sebagiannya lagi sebagai penutup tubuh. Sedangkan cangkir ini biasa mereka gunakan sebagai tempat minum.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga satu dirham?’ seorang laki-laki menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. berkata lagi, ‘Siapa yang mau membeli keduanya dengan harga lebih dari satu dirham.’ Seorang laki-laki mengatakan, ‘Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Kalau begitu kedua barang itu untuk kamu.’ Lalu Rasulullah saw. memanggil orang (yang menjual barang) itu seraya mengatakan, ‘Belilah kapak dengan satu dirham dan makanan untuk keluargamu dengan satu dirham.’ Orang itu kemudian melaksakan perintah itu lalu datang lagi kepada Rasulullah saw. Maka Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya, ‘Pergilah ke lembah itu, dan janganlah kamu meninggalkan ranting, duri, atau kayu bakar. Dan janganlah kamu menemuiku selama lima belas hari.’ Maka orang itu pun pergi dan mendapatkan uang sepuluh dirham. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Pergi dan belilah makanan untuk keluargamu dengan uang lima dirham.’ Orang itu mengatakan, “Ya Rasulullah, Allah telah memberikan barokah dalam apa yang kauperintahkan kepadaku.” (H.R. Baihaqi)

c. Kesehatan Fisik dan Kesehatan Lingkungan

Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Allah swt. menurunkan penyakit dan obat. Dan Allah telah menyediakan obat untuk setiap penyakit. Maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (Sunan Abu Dawud juz 4 hal. 7 no. 3847).

Ini menunjukkan bahwa keberdayaan dan kekuatan fisik telah menjadi perhatian Islam sejak awal. Islam juga sangat peduli dengan pemeliharaan lingkungan agar tidak terjadi pencemaran atau berkembangnya bibit penyakit. Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah tiga perbuatan terkutuk: buang air besar di sumber-sumber air, di jalan, dan di bawah bayang-bayang (tempat berteduh).” (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain)

d. Pelestarian Alam

Seorang mukmin mendapat amanah untuk menjaga amanah Allah swt. berupa alam semesta ini. Dalam masalah pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah keberesannya.” (Q.S. Al A’raf 7: 56).

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memotong pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.” (H.R. Abu Dawud)

Dalam menjelaskan hadis ini Imam Abu Dawud mengatakan, “Barangsiapa menebang pohon bidara yang tumbuh di tengah lapang yang dipergunakan sebagai tempat berteduh orang yang lewat ataupun binatang, karena main-main dan berlaku zalim, tanpa ada kebenaran padanya, maka Allah akan menenggelamkan kepalanya di neraka.” Ini menegaskan bahwa pepohonan tidak boleh ditebang kecuali sekadar kebutuhan dan itupun harus dengan perhitungan yang cermat.

Islam juga menghargai dan memuji orang yang memfungsikan tanah yang mati atau terbengkalai agar menjadi subur dan produktif. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala.” (H.R. Ahmad)

Bahkan lebih ‘ekstrem’ dari itu, saat akan terjadi kiamat sekalipun, jangan berhenti menanam. Rasulullah saw. bersabda, Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan seseorang di antara kalian ada benih tanaman, maka selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri maka lakukanlah.” (H.R. Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad)

Untuk mewujudkan kemaslahatan dan keberdayaan itu tidak bisa seorang mukmin memerlukan kekuatan dan keberdayaan. Oleh karena itu Rasulullah SAW. memesankan,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allahdan janaganlah lemah, ” Wallahu a’lam.