Kekuatan Fitrah Menghadapi Ujian

Oleh : DR. M. Hidayat Nur Wahid, MA

Kita yakin bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah dan agama rahmat bagi seluruh alam, bukan agama yang membawa kerusakan kepada manusia. Islam adalah agama yang menjadi solusi dan bukan sesuatu yang membawa destruksi. Namun, memperhatikan berbagai perkembangan negatif yang menimpa umat Islam, seperti krisis multi dimensional dan tuduhan terorisme, peran umat Islam semakin ditantang untuk kembali hadir dengan cara-cara yang sesuai dengan syariat Islam rahmatan lil ‘alamin.

Persoalan krisis krusial ini tidak dapat dihadapi dengan sikap acuh tak acuh atau kepanikan dan keputusasaan. Mari kita berkaca kepada sejarah perjuangan Nabi Muhammad Saw yang telah menghadapi dan mampu mengatasi kondisi-kondisi yang lebih kritis dalam waktu yang panjang dan melelahkan. Sejarah mencatat penderitaan besar yang dialami Rasulullah Saw selama beliau berdakwah di Mekkah, antara lain dalam bentuk teror dan boikot terhadap kaum muslimin oleh orang-orang kafir Quraisy selama tiga tahun.

Bahkan dipenghujung pemboikotan itu, dua pembela utama Rasulullah Saw, yaitu istri tercinta beliau Khadijah Ra wafat, lalu disusul oleh paman beliau Abu Thalib. Arahan-arahan Allah Swt dalam menghadapi dan mengatasi kondisi seperti ini telah jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (hajran jamiila)” (QS Al-Muzammil : 10). Ada beberapa bentuk kesabaran yang diperlihatkan Rasulullah Saw dan kaum muslimin pada saat itu yang patut kita renungkan untuk menghadapi kondisi saat ini.

Pertama, keteguhan mengusung cita-cita dakwah. Meskipun pemboikotan itu demikian dahsyatnya, Rasulullah Saw dan kaum muslimin tetap bertahan pada cita-cita menegakkan kalimat Ilahi. Jika saja Rasulullah Saw seorang pemimpin yang lemah pastilah ia telah menyerah, tunduk dan patuh kepada kemauan dan teror kaum kafir Quraisy. Firman Allah Swt “Sekali-kali jangan. jangan kamu taat kepada orang-orang kafir itu. Bersujudlah dan mendekatlah (kepada Allah)” (QS Al Alaq: 19) Dalam konteks kekinian, salah satu masalah besar yang akan berdampak serius adalah manakala umat Islam kehilangan orientasi ketika menghadapi problematika perjuangan. Sehingga mereka rela menjual agamanya, harkat dan kedaulatannya yang justru hasilnya adalah semakin menjadikan umat Islam terperosok dalam kehancuran. Karenanya, umat Islam tidak boleh kehilangan orientasi untuk terus melanjutkan dakwahnya, beramar ma’ruf dengan cara yang ma’ruf dan ber-nahimunkar tidak dengan cara-cara yang munkar dengan merujuk kepada tujuan Rasulullah saw.

Bentuk kesabaran kedua adalah tetap menjaga ukhuwah di kalangan umat dan solidaritas sosial dikalangan pendukungnya. Rasulullah Saw dan kaum muslimin senantiasa mengokohkan persatuan dan solidaritas sosial diantara mereka. Dengan mengokohkan solidaritas sosial, kesengsaraan tidak akan menjadi sumber perpecahan lantaran tumbuhnya sikap saling menyalahkan. Termasuk kekompakan yang dijaga Rasulullah Saw adalah hubungan beliau dengan paman beliau Abu Thalib dan Abbas yang sekalipun belum menganut agama Islam, tetapi mereka terus menerus membela Nabi Muhammad Saw. Soliditas dan solidaritas inilah yang mampu membentengi kaum muslimin dari berbagai provokasi yang dapat melemahkan sikap dan perjuangan mereka. “Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah” (QS Ali Imran: 102). Dalam konteks kekinian, sesuatu yang disesalkan apabila dalam kondisi yang demikian kritis, umat Islam di Indonesia terjebak pada skenario teror dan poltik belah bambu yang dimainkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan kontribusi umat Islam bagi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karenanya, sikap Rasulullah di atas tetap layak untuk kita renungkan, sehingga selalu terdorong untuk tetap menjaga ukhuwah dan kerjasama diantara sesama umat Islam dan bahkan diantara keseluruhan anak bangsa Indonesia yang memiliki cita-cita memajukan bangsa ini. Karenanya, adanya perbedaan dalam bidang furu’ fiqhiyah, hendaknya tidak disikapi dengan cara melanggar salah satu kaidah utama dalam Islam, yaitu menjaga ukhuwah Islamiyah, sehingga perbedaan semacam ini tidak menjadi faktor yang memecah belah umat yang jelas-jelas dilarang oleh Al-Quran dan sangat disukai oleh syaitan.

Bentuk kesabaran ketiga adalah terus melakukan inovasi perjuangan dakwah. Selama pemboikotan berlangsung, dakwah Islam tetap dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya, sebagai bukti tidak matinya semangat dan cita-cita kaum muslimin. Para sahabat tetap gencar mendatangi rombongan para tamu keagamaan yang datang dari Mekkah dan menyampaikan pesan-pesan Islam kepada mereka. Kegiatan ini tidaklah mudah, karena setiap saat orang-orang Quraisy mencegah mereka dengan propaganda-propaganda penuh kebohongan. Bahkan Abu Lahab selalu berada di belakang Rasulullah Saw ketika beliau sedang menemui pimpinan kabilah-kabilah untuk menyampaikan dakwah Islam. Saat itu Abu Lahab selalu mengcounter dakwah beliau dengan mangatakan bahwa Rasulullah Saw telah berbohong dan menyampaikan ajaran yang tidak benar.

Kegigihan yang diperlihatkan oleh Rasulullah Saw dan kaum muslimin menandakan bahwa sebesar apapun rintangan yang dihadapi maka ikhtiar untuk mencari jalan keluar bagi pemecahan masalah-masalah dakwah tidaklah terhenti. “Dan sesungguhnya orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami pasti akan kami tunjukan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ankabut: 69). Dalam konteks kekinian, dengan masalah yang datang bertubu-tubi terhadap umat Islam dan bangsa Indonesia cenderug memunculkan sikap apatisme dan ketidakpedulian terhadap nasib sesama umat.

Masing-masing cenderung menyelamatkan diri sendiri dan tidak peduli dengan nasib orang lain, dengan mengikuti pola-pola solusi baku yang dimilikinya. Rasulullah Saw sebagaimana kisah yang ditampilkan di atas membuktikan bahwa justru dengan terus melakukan inovasi yang kontrukstif, krisis akan dapat ditanggulangi. Oleh karena itu keberanian, sikap inovasi dan kreatifitas harus diwujudkan dalam jiwa setiap pemimpin dan umat Islam, bukan jiwa yang beku, menyerah dan tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil yang akan menyebabkan kita menjadi bebek, menjadi kolaborator musuh-musuh bangsa dan akhirnya menjadi kuli di negeri sendiri. Bentuk kesabaran yang keempat adalah senantiasa menjadikan doa dan tawakal sebagai benteng penjaga eksisitensi umat.

Diantara sikap dan ajaran yang diperintahkan Allah dan dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dan kaum muslimin adalah sikap berdoa memohon pertolongan Allah, Dzat Yang Maha Kaya, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana,serta sepenuhnya bertawakal diri (berserah diri) atas ketentuan terbaik yang kaan didapatkan mereka dari Allah Swt. Inilah yang dilakukan Rasulullah Saw dan kaum muslimin dalam berbagai peristiwa penindasan yang dialami mereka, termasuk dalam masa pemboikotan yang memakan waktu tiga tahun itu. Dalam konteks kekinian, seringkali karena kekalutan yang demikian akut sseorang atas sekelompok orang tidak lagi merasa penting berdoa dan berserah diri kepada Allah.

Tetapi dalam upaya mencari solusi krisis yang menimpa dirinya, ia justru meminta tolong dan berserah diri kepada selain Allah, yang justru semakin menghisabnya ke dalam pusaran krisis yang tidak berujung. Hendaknya kaum muslimin Indonesia menyadari bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga kita tidak hanya mengandalkan ikhtiyar-ikhtiyar kemanusiaan dan melupakan peran Allah Swt sebagai penentu. Rasulullah Saw seorang tokoh yang telah sukses mengantarkan umatnya keluar krisis itulah yang justru mengajarkan tentang pentingnya sikap berdoa dan bertawakal yang menandakan akan adanya sikap tawadhu, tahu diri dan penuh harapan kepada Zat Yang Maha Segala-galanya, yaitu Allah Swt. Sekali lagi umat Islam Indonesia harus percaya diri dengan panduan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mereka miliki.

Apalagi kita baru saja menyelesaikan ibadah puasa satu bulan lamanya, dimana di dalamnya kita biasakan untuk menginternalisasi secara efektif terhadap prinsip-pinsip kesabaran di atas. Kesadaran peran itu juga ditempa melalui berbagai akfitas kepedulian sosial termasuk dalam bentuk membayar zakat, sedekah, memakmurkan masjid, dan interaksi intensif dengan Al-Qur’an. Inilah kondisi fitrah yang merupakan jati diri setiap umat Islam. Ia mungkin terkotori oleh berbagai sikap menyimpang, akan tetapi interaksi intensif dengan aktifitas satu bulan Ramadhan itulah yang kiranya mengembalikan kita kepada fitrah. Fitrah yang begitu kokoh untuk kita jadikan sebagai pijakan penting untuk memberi kontribusi dan amal soleh bagi solusi problematika umat dan bangsa. Kita perlu terus menggelorakan semangat ini, sebab kita sadar bahwa keselamatan umat Islam berarti keselamatan bangsa ini. Sebaliknya keterpurukan umat Islam pasti akan membawa kehancuran bangsa ini. [http://www.pks-jaksel.or.id]

Advertisements

Comments are closed.

%d bloggers like this: