Madrasah Pendidikan Jiwa

Beberapa metode pendidikan jiwa yang dilakukan oleh tabi’in, yaitu sebagai berikut.

1. Takut kepada Allah dan Menahan Jiwa dari Maksiat

Allah swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (an-Naazi’aat: 40—41)

Imam Qurthubi menuturkan perkataan Mujahid untuk mengomentari firman Allah pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia kepada Allah azza wajalla ketika berada di lembah-lembah dosa dan ia terperosok di dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu’, yaitu menahan dari maksiat-maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”

Hawa nafsu yang ganas dan keras menutupi fungsi akal dan mengendalikannya. Dibutuhkan kekuatan yang besar untuk menghancurkannya, yang berpusat pada takut kepada Allah, takut dengan terbukanya segala kesalahan di hari kiamat, takut dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Demikianlah bagaimana para tabi’in mendidik jiwa mereka dan mengikutinya dengan takut kepada Allah, bersama dengan itu disertai rajaa` ‘mengharap’ ampunan dan rahmat-Nya. Dan hal itu terealisasi dengan mempelajari ilmu-ilmu tentang akhirat; mulai permasalahan alam kubur sampai masuk tempat akhir: surga atau neraka. Pembelajaran yang terperinci terhadap hal-hal yang berhubungan dengan akhirat membantu untuk menanamkan rasa takut di dalam jiwa.

2. Membentuk Jiwa yang Sabar

Allah swt. berfirman, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”(al-Kahfi: 28)

Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada kejahatan, dan di antara karakteristiknya enggan beriltizam dan terikat, tetapi senang berpindah-pindah dan lepas dari kendali, walau kendali itu bermanfaat baginya di akhirat. Jiwa juga tidak suka diperintah seseorang terhadap yang dibencinya, atau membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia memberi kecintaan pada pemiliknya untuk santai dan berleha-leha.

Diriwayatkan dari Imam Basyar al-Hafi r.a., ia berjalan bersama seseorang di jalan, kemudian temannya itu merasa haus, maka ia berkata kepadanya, “Kita minum dari air sumur ini?” Maka Imam Basyar berkata, “Sabarlah sampai sumur yang lain.” Dan ketika mereka sampai di sumur yang dimaksud, Basyar berkata kepadanya lagi, “Nanti sampai sumur yang lain.” Dan ia terus mengulanginya. Kemudian ia menoleh kepada temannya itu dan berkata, “Demikianlah kita memutuskan dunia.”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari kejadian ini dengan berkata, “Siapa yang memahami keberadaan ini, ia akan mengungkapkan alasan untuk tidak melakukan sesuatu dan berlemah lembut kepadanya, dan menjanjikan yang indah untuk menjadikan kesabaran atas apa yang telah diemban. Sebagaimana beberapa ulama salaf mengatakan kepada jiwanya yang menyuruh kepada yang jahat, ‘Demi Allah aku tidak ingin melarangmu dari yang kamu sukai ini kecuali karena ingin mengendalikan keinginanmu yang buruk.’”

Pengendalian ini merupakan azab Allah ta’ala terhadap hawa nafsu. Dan ini adalah salah satu faktor yang mendorong para sahabat r.a., kemudian para tabi’in untuk memerangi jiwa, dari yang tidak disenangi dengan larangan, terhadap apa yang dikehendaki dan dicintai hawa nafsu.

3. Mengendalikan Nafsu

Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka ditutupi dengan syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat Bukhari, surga seolah menjadi tertutup dengan hijab, dan hijab ini bukan dari kulit atau sutera atau jenis-jenis kain penutup lainnya, tetapi ia terhijab dari hal-hal yang dibenci. Oleh karenanya, itu bukan satu penutup tetapi banyak. Dan hijab yang beragam dengan corak-corak yang beragam, serta warna-warni yang berbeda, karena pada setiap musibah ada warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang mukmin sampai ke surga, kecuali dengan menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.

Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang membutuhkan waktu yang lama. Secara tersendiri, ini adalah usaha “mengendalikan jiwa” yang terkadang melenceng di sepanjang jalan. Dan sulitnya menyingkap hijab-hijab dari hal-hal yang dibenci ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk bermalasan dan santai. Ridha terhadap aib yang ada pada jiwa mereka dan atas apa yang diajukan untuk akhirat, tanpa adanya tambahan.

Pengendalian tidak disukai jiwa dan juga tidak selaras dengannya, tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain, kecuali melakukan metode ini, jika kita menginginkan barang dagangan Allah yang mahal (surga), walau jiwa kita tidak biasa mengikuti metode ini; sebagaimana jiwa-jiwa generasi pertama dan para tabi’in yang terbiasa pada kebaikan; sebagaimana ditunjukkan Imam yang konsiten, Amirul Mukminin dalam ilmu hadits, Abdullah ibnul Mubarak ketika ia berkata, “Orang-orang saleh pada masa lalu, jiwa mereka selalu mengikuti kebaikan dengan sendirinya, sedangkan jiwa kita hampir selalu mengikuti yang dibenci. Oleh karenanya, kita harus membenci jiwa yang mengajak kepada yang dibenci.”

4. Menjaga dari Sifat Kikir

Allah swt. berfirman, “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Imam al-Qurthubi berkata, “Kikir dan bakhil (asy-syukh dan al-bukhl) adalah sama. Beberapa ahli linguistik mengatakan bahwa kikir (asy-syukh) lebih keras daripada bakhil (al-bukhl).” Namun yang benar, “Kikir adalah bakhil dengan sangat tamak. Dan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kikir dengan zakat yang bukan wajib, seperti silaturahmi, menghormati tamu, dan yang sejenis dengan itu. Dan bukan termasuk kikir atau bakhil yang menginfakkan untuk hal itu. Dan barangsiapa yang merasa luas jiwanya dan tidak berinfak terhadap apa yang telah kami tuturkan dari zakat-zakat dan ketaatan-ketaatan tersebut, maka ia tidak dipelihara dari kekikiran.”

Dengan pemahaman yang menyeluruh ini, Imam al-Qurthubi mendefinisikan kikir. Jika demikian, kikir tidak seperti yang dipahami orang-orang bahwasanya kata mereka ia adalah khusus yang diinfakkan manusia pada zakat yang wajib, dan sedekah kepada orang-orang fakir dan miskin serta orang-orang yang membutuhkan, tetapi ia menyeluruh, meliputi infak dalam ketaatan-ketaatan dengan seluruh jenisnya. Dan, yang paling buruk dari jenis ini adalah kekikiran jiwa pada larangannya untuk mengerjakan amal-amal ketaatan yang dapat mendekatkannya menuju surga.

Dan kikir termasuk sifat utama jiwa, yaitu jiwa yang menahan pemiliknya dari segala yang mendekatkan kepada Allah swt. dan yang mengantarkannya ke surga. Juga sebaliknya, ia tidak mencegah pemiliknya untuk memberikan pada syahwat dan hawa nafsu yang menjauhkan dari Allah ta’ala, serta untuk mendekati neraka-Nya. Dan barangsiapa yang mampu melawan dan mengalahkan atas apa yang diinginkan dari keengganan melakukan amal-amal kebaikan, ini akan menyampaikannya kepada rahmat Allah menuju surga dan ia termasuk orang-orang yang menang.

5. Tawakal

Dari Muhammad bin Abi Imran berkata, “Aku mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar ditanya seseorang, ‘Dengan apa engkau membangun perkaramu dalam bertawakal kepada Allah?’ Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut: aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, maka tenanglah jiwaku; Aku tahu bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh selainku, maka aku sibuk dengannya; Aku tahu kematian pasti mendatangiku kapan saja, maka aku berisap-siap untuk itu; Aku tahu, aku tidak pernah lepas dari pandangan Allah di mana pun aku berada, maka aku malu kepada-Nya jika terlihat sedang melakukan maksiat.’”

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna tawakal. Namun, pendapat mereka semua bermakna menyerahkan segala sesuatu kepada Allah ta’ala dan dengan keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat memenuhinya, juga dengan menampakkan sebab-sebab untuk mendapatkan sesuatu yang dimaksud (ikhtiar), serta melepaskan diri dari bergantung pada sebab-sebab itu, dan bergantung pada yang menjadikan sebab-sebab itu, Dialah Allah ta’ala. Empat hal yang dituturkan seorang zahid, Abi Hatim yang tidak dapat mendengar, adalah bukan definisi tawakal, tapi itu adalah dasar budi pekerti yang dibangun ulama dalam hal tawakal.

6. Introspeksi Diri

a. Menghinakan Jiwa yang Menyuruh pada Kejahatan

Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik jiwa ini. Menghinakannya sebelum dihinakan oleh orang-orang lain dan sebelum mencari aib-aib mereka. Dan, ini adalah pintu masuk untuk mengintrospeksi jiwa yang diperingatkan seorang zahid, ahli ibadah, Abu Sulaiman ad-Darani, ketika ia ditanya Ahmad bin Abil Hiwari: “Fulan dan si fulan tidak berada dalam hatiku (baca: tidak aku sukai).” Ahmad bin Abil Hiwari berkata, “Dan tidak pula pada hatiku. Tetapi semoga kita datang dari hatiku dan hatimu; dan kita tidak mempunyai kebaikan dan bukannya kita tidak mencintai orang-orang saleh.”

b. Musuh yang Bodoh

Kalau Imam ad-Darani memperingatkan Ibnu Abil Hiwari saja, Yahya bin Mu’adz memperingatkan sekelompok pengikutnya dengan keteladanan, di mana ia berkata kepada mereka, ”Di antara kebahagian manusia adalah memberikan pemahaman kepada musuhnya, tapi musuhku tidak mempunyai pemahaman.” Dikatakan kepadanya, “Siapakah musuhmu?” Ia menjawab, “Jiwaku yang menjual surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi dengan syahwat yang hanya sesaat.”

Musuh yang bodoh ini berbahaya bagi jiwa, ketika menghiasi manusia dengan kepalsuan dunia, menghiasi dan mempermudah untuk melakukan syahwat-syhawat, serta meremehkan hakikat suatu kejahatan. Inilah peperangan seorang mukmin dengan jiwanya yang menyuruh berlaku jahat dan yang melupakannya terhadap nikmat-nikmat surga, juga menutup mata kepadanya, dan mengutamakan baginya kenikmatan dunia yang sementara.

c. Selalu Siaga

Ia menghinakan jiwanya dalam setiap keadaan dan tidak meninggalkan tempat bernafas yang ia bisa bernapas di dalamnya. Tidak juga memberi kesempatan untuk berburu di dalamnya dan menutup seluruh sektor-sektor yang luas di mana jiwa dapat berkeliling dan mendapatkan tempat untuk melakukan kejahatan. Namun, generasi sekarang tidak mempunyai kesiagaan seperti generasi tabi’in.

d. Jenis Introspeksi yang Lain

Orang tidak menyangka bahwa introspeksi terbatas pada introspeksi terhadap maksiat dan peremehan terhadap bahaya maksiat atau yang sejenis dengannya. Padahal, introspeksi meliputi berbagai hal, sampai pada ketaatan, ketika takut keistiqamahan pada jalan ini terpengaruh dengan perasaan bangga diri yang melupakan pemberi taufik, Allah swt. dan meremehkan orang lain dari kebenaran. Inilah jenis introspeksi yang diungkapkan kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari ‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat (menyendiri) bersama jiwanya.

Wallahu a’alam bish-shawwab.

Dikutip dari buku : Madrasah Pendidikan Jiwa-Buletin Marwa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: