Archive for June, 2007

DIBALIK KEHARUMAN

Posted in ANIS MATTA on June 27, 2007 by hufaizh

Oleh Ustadz M. Anis Matta, Lc

Nama para pahlawan mukmin sejati senantiasa harum sepanjang sejarah. Tapi hanya sedikit orang yang mengetahui betapa besar pajak yang telah mereka bayar untuk keharuman itu.

Masyarakat manusia pada umumnya selalu mempunyai dua sikap terhadap keharuman itu. Pertama, mereka biasanya akan mengagumi para pahlawan itu, bahkan terkadang sampai pada tingkat pendewaan. Kedua, mereka akan merasa kasihan kepada para pahlawan tersebut karena mereka tidak sempat menikmati hidup secara wajar. Yang kedua ini biasanya datang dari keluarga dekat sang pahlawan.

Apa yang dirasakan orang luar berbeda dengan apa yang dirasakan oleh sang pahlawan itu sendiri. Kekaguman, mungkin merupakan sesuatu yang indah bagi banyak orang. Tapi yang membayar harga keharuman yang dikagumi itu adalah para pahlawan. Dan harga itu tidah diketahui orang banyak. Maka seorang penyair arab terbesar, Al-Mutanabbi mengatakan: “Orang luar mengagumi kedermawanan sang pahlawan, tapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin dicipatakan oleh kedermawanan, orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan tetapi mereka tidak merasakan luka yang menghantarnya menuju kematian.

Tapi ada kenyataan lain yang sama sekali terbalik. Keluarga para pahlawan seringkali tidak merasakan gaung kebesaran atau semerbak harum nama sang pahlawan. Karena ia hidup ditengah tengah mereka, setiap hari bahkan setiap saat. Bagi mereka, sang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang mempunyai keinginan-keinginan dan kegemaran-kegemaran tertentu seperti mereka. Dan mereka harus menikmatinya. Maka merekalah yang sering menggoda pahlawan untuk tidak melulu “mendaki” langit, tapi juga sekali-kali “turun” kebumi.

Dan kedua sikap tersebut adalah jebakan. Kekaguman dan pendewaan sering menjebak para pahlawan, karena itu akan mempercepat munculnya rasa uas dalam dirinya. Sehingga karya yang sebenarnya belum sampai ke puncak, akhirnya terhenti di pertengahan jalan akibat rasa puas. Itulah sebabnya Imam Ghozali mengatakan, “Siapa yang mengatakan saya sudah berilmu, maka sesungguhnya orang itulah yang paling bodoh.”

Panggilan turun kebumi adalah jebakan lain. Menjadi pahlawan memang akan menyebabkan kita meninggalkan sangat banyak kegemaran dan kenikmatan hidup. Bahkan privasi kita akan sangat terganggu. Tapi itulah pajaknya. Namun banyak orang gagal melanjutkan perjalanan menuju puncak kepahlawanan karena tergoda untuk “kembali” kehabitat manusia biasa. Seperti angin sepoi yang mengirim kantuk kepada orang yang sedang membaca , seperti itulah panggilan turum kebumi penggoda sang pahlawan untuk berhenti mendaki. Itulah sebabnya Allah menegur para mujahidin yang mencintai keluarga mereka melebihi cinta mereka terhadap Allah, rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.

Maka para pahlawan mukmin sejati berdiri tegak di sana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan : tidak ada kepuasan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan.

Advertisements

ORANG LAIN DITENGAH KITA

Posted in ANIS MATTA on June 27, 2007 by hufaizh

oleh M Anis Matta, Kontributor Suara Hidayatullah

Fajar belum menyingsing ketika itu. Tiga orang laki-laki melangkah gagah menggapai takdir mereka. Senyum mereka lepas. Sorot mata mereka teduh, ada keyakinan dan kerinduan yang menggelora di sana. Mereka baru saja akan memulai sebuah kehidupan baru, kehidupan dari kehidupan yang sesungguhnya, hidupnya hidup; kehidupan akhirat sedetik setelah tiang gantungan menutup nafas mereka.

Sayyid Quthb, Yusuf Hawwas dan Abdul Fattah Ismail. Merekalah ketiga pahlawan itu, yang mengakhiri hidup di tiang gantungan, menjelang fajar hari Senin tanggal 29 Agustus 1966. Sebuah buku kehidupan telah berakhir dalam riwayat kefanaan dunia, tapi sebuah buku kehormatan telah dimulai dalam riwayat keabadian akhirat. Sebuah skenario kebatilan telah dirampungkan dengan sempurna, tapi sebuah skenario kepahlawanan baru saja dimulai dengan indahnya.

Itu peristiwa besar dalam sejarah harakah Islam yang kita catat dengan penuh kebanggaan, dan akan tetap kita kenang dengan penuh kebanggaan. Sebab darah para syuhada itulah yang sesungguhnya mengalirkan energi dalam tubuh harakah Islam, yang membuatnya sanggup bertahan di tengah berbagai macam cobaan dan penderitaan panjang yang menimpanya.

Lelaki yang menggantung Sayyid Quthb bersama kedua rekannya itu adalah Jamal Abdul Nasser. Lelaki yang disebut terakhir ini naik ke panggung kekuasaan Mesir setelah sukses melakukan kudeta militer pada 23 Juli 1952. Kudeta militer yang kemudian dikenal dengan Revolusi Juli itu dirancang melalui kerjasama antara militer dengan Ikhwanul Muslimin. Nasser sendiri, disamping merupakan perwira tinggi militer, juga merupakan seorang kader inti Ikhwan. Selama masa perencanaan dan pematangan revolusi, rumah Sayyid Quthb, yang juga dikenal sebagai pemikir kedua Ikhwan setelah Hasan Al-Banna, merupakan salah satu pusat pertemuan terpenting para tokoh perancang revolusi tersebut.

Dalam segala hal Sayyid Quthb adalah senior. Itu sebabnya Nasser selalu memanggilnya dengan sebutan “abang”. Setelah menjadi presiden, Nasser bahkan menawarkan jabatan apa pun yang diinginkan Sayyid Quthub. Tapi 14 tahun kemudian, Nasser pulalah yang menggantung seniornya, abangnya.

Pelajaran besar

Dalam sejarah pergerakan Islam, ada sebuah fakta yang terulang berkali-kali, bahwa sebagian besar musibah yang menimpa da’wah dan harakah selalu datang dari dalam harakah itu sendiri. Untuk sebagiannya, musibah itu datang dari shaf yang terlalu longgar, yang kemudian tersusupi dengan mudah.

Jangan pernah menyalahkan musuh jika mereka berhasil menyusupi shaf kita. Sebab penyusupan adalah pekerjaan yang wajar yang akan selalu dilakukan musuh. Kita juga akan selalu melakukan hal yang sama. Seperti dulu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melahirkan banyak tokoh intelijen yang dikenal dengan keahlian menyusup. Misalnya Huzaifah Ibnul Yaman dan Amru Bin ‘Ash. Tapi kalau sekarang malah shaf kita sendiri yang mengalami kebobolan. Tampaknya kita perlu belajar kembali.

Apakah shaf Rasulullah Saw sendiri tidak pernah disusupi? Dalam sebuah perang, penyusupan adalah keahlian inti tim intelijen. Orang-orang Yahudi dan munafiqin berkali-kali mencoba melakukan penyusupan ke dalam shaf Rasulullah. Tapi tidak pernah berhasil.

Begitu harakah Islam mulai membuka diri dengan masyarakat luas, masyarakat yang heterogen, maka mereka akan berhadapan dengan persoalan kontrol organisasi. Pengetatan dan pelonggaran berakar pada konsep harakah sendiri tentang mekanisme kontrol internalnya.

Keterbukaan adalah asas da’wah. Semua manusia mempunyai hak untuk dida’wahi, sama seperti mereka berhak juga untuk ikut berpartisipasi dalam da’wah. Jadi gerakan bawah tanah haruslah dianggap sebagai sebuah pengecualian, yang ditentukan oleh tuntutan kondisi lingkungan strategis da’wah.

Tapi di sinilah letak masalahnya; keterbukaan adalah tuntutan da’wah, tapi keterbukaan juga bisa membawa masalah. Salah satunya adalah penyusupan itu; terlalu ketat akan menutup ruang partisipasi dan rekrutmen, terlalu longgar akan membuka peluang penyusupan. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana membangun sebuah organisasi da’wah yang terbuka, tapi tetap rapi dan terkontrol?

Sistem kontrol

Apakah yang harus kita kontrol dalam organisasi da’wah kita? Jawabannya adalah gagasan dan orang. Gagasan perlu dikontrol karena manhaj da’wah kita mengalami proses interaksi yang dinamis dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam organisasi dan pada lingkungan strategis. Prinsip-prinsip da’wah yang bersifat fundamental dan permanen, atau yang biasa disebut dengan tsawabit, dengan pikiran-pikiran yang bersifat variabel, atau yang biasa disebut dengan mutaghayyirat, mengalami proses-proses pengujian dan pembuktian yang rumit dan kompleks.

Benturan-benturan yang berkesinambungan dengan realitas melahirkan dinamika dalam pemikiran yang menjadi sumber kekayaan harakah. Tapi dinamika itu jugalah yang harus dikontrol. Kontrol bukanlah merupakan upaya penjegalan atas munculnya gagasan-gagasan baru. Kontrol dilakukan untuk memastikan bahwa proses kreativitas dan pengembangan pemikiran dalam da’wah berlangsung dengan panduan metodologi yang benar. Keluaran (output) yang kita harapkan adalah munculnya gagasan baru yang menjadi sumber kekayaan pemikiran yang mendinamisasi da’wah.

Ambillah contoh bagaimana, misalnya, gagasan tentang penggunaan kekerasan telah mendorong banyak harakah Islam terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan penguasa dan masyarakat. Kekerasan bagi mereka adalah cara kilat untuk mengubah masyarakat atau melawan kemungkaran. Apakah munculnya gagasan itu merupakan proses dinamika pemikiran yang murni dari dalam atau ada kekuatan lain yang ‘mewahyukan’ pemikiran itu kepada harakah karena mereka memang menginginkan harakah berpikir dan bertindak begitu?

Kontrol atas orang dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada penyusup dalam organisasi da’wah. Hubungan personal dalam da’wah dilakukan atas dasar kepercayaan atau tsiqah; kepercayaan kepada aqidah, niat, fikrah, akhlak. Tapi kepercayaan itu bersifat subjektif, sedangkan manusia juga mengalami perubahan-perubahan besar di dalam dirinya. Perubahan-perubahan itulah yang perlu kita kontrol; dari saat seseorang menjadi objek da’wah, kemudian bergabung dengan da’wah hingga saat wafatnya.

Seseorang bisa dirancang sebagai penyusup ke dalam da’wah, tapi bisa juga direkrut oleh ‘orang lain’ justru setelah ia bergabung dengan da’wah. Proses rekrutmen bisa berlangsung melalui suatu rekayasa intelijen, tapi bisa juga terjadi secara natural melalui pergaulan sehari-hari. Dalam kondisi terakhir ini, seorang aktivis da’wah biasanya mengalami penyimpangan perilaku atau akhlak, larut dalam pergaulan, dan kemudian secara tidak sadar membawa ‘pesan’ orang lain tanpa sadar ke dalam da’wah.

Akhir kata, sistem proteksi gerakan da’wah harus dilakukan dengan dua cara: penguatan kesadaran manhajiah dan penguatan kesadaran intelijen. Kesadaran manhajiah akan memungkinkan kita mengontrol gagasan, sedangkan kesadaran intelijen memungkinkan kita mengontrol orang.•••

MENCABUT DURI DALAM DAGING

Posted in ANIS MATTA on June 27, 2007 by hufaizh

Kita kalah, kita dirusak, kita harus melawan. Bagaimana melawan sama pentingnya dengan siapa yang kita letakkan di depan garis perlawanan.

Oleh : M Anis Matta, kontributor Majalah Hidayatullah

Memang menyakitkan. Bahwa setelah lebih dari setengah abad merdeka, Indonesia masih terus mengalami “keterbelahan ideologi” akibat masuknya sekulerisme, baik yang diciptakan tangan-tangan imperialis, maupun yang masuk melalui proses globalisasi. Para pemimpin yang datang silih berganti selalu memimpin negeri Muslim terbesar di dunia ini dengan ideologi dan sistem pembangunan yang “tidak kompatibel” dengan akar ideologi dan budaya masyarakat.

Dampaknya juga menyakitkan. Bangsa Indonesia bukan saja terjebak dalam potensi konflik ideologi berkepanjangan, tapi kita juga sulit bersinergi membangun bangsa dan negara. Terpuruklah kita dalam waktu lama. Lantas negara kaya raya ini dihuni orang-orang paling miskin di dunia.

Membangun negara dengan ideologi dan sistem yang tidak lahir dari akar ideologi dan budaya bangsa akan melahirkan benturan-benturan psikososial, yang jutsru akan menghambat proses pembangunan itu sendiri.

Masalah jadi kian rumit bersama munculnya kebiasaan memaksakan kehendak dari para penguasa sekuler dengan menggunakan kekuatan militer. Meminggirkan Islam dan ummatnya dari proses penyelenggaraan negara atau akses ekonomi mungkin bisa berhasil pada suatu rezim diktator. Tapi akibatnya juga fatal: pergantian kepemimpinan nasional di negeri kita selalu berdarah-darah. Kesabaran rakyat yang panjang tiba-tiba berubah jadi amuk berdarah. Maka jatuhlah Soekarno. Jatuh pula Soeharto.

Meminggirkan Islam dan ummatnya yang notabene mayoritas di negeri ini –dari percaturan politik atau ekonomi– hanya akan menciptakan ketidakseimbangan sosial politik yang panjang, yang setiap saat mengancam integritas dan keutuhan bangsa.

Bangsa kita tidak akan pernah benar bisa bertumbuh dengan baik, jika sekulerisme masih bekerja bagai duri dalam daging: virus-virusnya mematikan sel-sel bangsa kita yang sedang tumbuh. Ia terlepas dari basis identitas dan akar budayanya. Kita tidak dapat membayangkan bangsa ini bisa tumbuh jadi besar kalau kelompok mayoritasnya adalah yang termiskin dan tidak memegang kendali politik atas negerinya sendiri. Potensi ledakan disintegrasi akan selalu ada bagai bara dalam sekam.

Faktanya kita kalah

Walaupun begitu, tidak juga merupakan sikap ksatria kalau kita tidak mau merendah untuk mengakui sebuah fakta besar: bahwa sejak pemilu 1955 hingga pemilu 1999 perimbangan perolehan suara Islam dan sekuler selalu di kisaran 40 (Islam) : 60 (sekuler). Jadi bahkan dalam sebuah prosedur yang demokratis pun mayoritas umat Islam belum tentu berafiliasi secara ideologi kepada Islam. Agama tidak mempengaruhi pilihan politik mereka.

Kira-kira dengan fakta itu kita bisa mengatakan –selanjutnya– bahwa gerakan-gerakan Islam di Indonesia selama ini –seperti Muhammadiyah dan NU– belum berhasil mengembalikan afiliasi ummat kepada Islam. Pemikir-pemikir sekuler nampaknya lebih berhasil mensosialisasi pemikiran-pemikiran mereka di kalangan ummat. Mereka lebih agresif, lebih pandai dalam mengemas gagasan, lebih pintar memilih pola pendekatan, lebih solid dalam organisasi, lebih banyak sarana dan lebih luas pula jaringannya.

Bahkan pengaruh sekulerisme justru terasa masuk dalam rongga besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Jadi di jantung pertahanan kita pun sekulerisme itu merasuki kita. Akibatnya polarisasi dalam tubuh umat Islam makin parah. Kadang bahkan terasa kalau keragaman dalam tubuh umat Islam jauh lebih rumit daripada keragaman dalam tubuh bangsa.

Faktanya mereka lebih merusak

Adalah ksatria untuk mengakui fakta kekalahan kita. Tapi juga penting untuk mengetahui tingkat kerusakan yang kita alami akibat kekalahan itu. Sekarang saja misalnya, penguasa sekuler saat ini luar biasa merusaknya. Bayangkanlah di tengah kita saat ini hidup 40 juta orang miskin, beban utang luar negeri sebesar 1600 trilyun yang bunganya setiap tahun kita bayar melalui APBN sebesar 80 trilyun. Sementara APBN kita kedodoran, penguasa sekarang mengambil jalan pintas: jual murah seluruh asset negara untuk menutupi defisit tersebut. Itu menciptakan transaksi besar, tapi juga celah korupsi yang tidak terbayangkan.

Tidak ada usaha yang cerdas untuk mendatangkan investasi asing guna memicu pertumbuhan ekonomi. Bagaimana investor asing mau datang kesini kalau yang menyambut mereka justru para koruptor dari sebuah negara rimba tanpa kepastian hukum? Apa yang akan mendatangkan investor asing kalau institusi hukum tertinggi di negeri kita, Mahkamah Agung, jutsru tampil dengan lakon paling memalukan dalam drama satu babak jual beli hukum ketika mereka menerima permohonan kasasi Akbar Tanjung.

Sementara negara-negara ASEAN mengalami pemulihan ekonomi dari krisis tahun 1997, Indonesia kita justru makin terpuruk sampai ke dasar krisis yang tidak tertanggungkan. Bahkan ledakan disintegrasi yang mungkin ditimbulkan oleh krisis ini –di tengah penguasa sekuler yang korup dan tidak peduli– sekarang mulai jadi ancaman destabilisasi kawasan ASEAN.

Konsolidasi perlawanan

Diantara kekalahan kita dan kerusakan yang diciptakan para penguasa sekuler kita berhadapan dengan sebuah tantangan besar: bagaimana mengkonsolidasi perlawanan untuk mengembalikan kepemimpinan bangsa ke tangan ummat atau –paling tidak– kepada kekuatan reformis yang bertemu dengan ummat pada semangat reformasi.

Dalam semangat reformasi kepentingan kita pada tiga lapisannya bertemu dengan kepentingan kaum reformis. Yaitu kepentingan untuk menyelamatkan bangsa, membuka jalan masuk bagi ummat dari pinggir ke tengah, dan memberi ruang partisipasi bagi sumber daya manusia da’wah untuk ikut mengelola negara.

Ini bukan aliansi ideologi. Ini adalah aliansi strategis. Yaitu aliansi kekuatan-kekuatan strategis –Islam dan reformis– untuk kepentingan-kepentingan strategis bersama. Aliansi ini diusung untuk memenangkan “agenda”, bukan “tokoh”. Tokoh –dalam aliansi ini– adalah semata-mata “bagian” dari strategi, dan “tidak boleh lebih besar dari strategi”. Sebagai bagian dari strategi, tugas kita adalah mengkonsolidasi faktor-faktor kemenangan di mana tokoh merupakan salah satunya. Memperjuangkan tokoh hanya akan meruncingkan konflik dan menyulitkan kemungkinan pertemuan kedua kekuatan tersebut.

Dalam kaitan itu, maka tokoh yang kita dukung adalah mereka yang memenuhi dua kriteria sekaligus: memenuhi atau mendekati kriteria ideal seorang pemimpin, sekaligus memiliki peluang menang yang besar. Peluang untuk memenangkan pertarungan melawan kekuatan sekuler pro status quo hanya dapat diraih oleh tokoh yang memiliki basis dukungan massa yang luas, mesin politik yang canggih, jaringan media dan dana yang besar.

Dalam keadaan dimana kemampuan-kemampuan itu tidak ditemukan pada tokoh-tokoh Islam, maka kita harus memberikan kesempatan kepada tokoh reformis lain yang dapat mengakomodasi tiga lapisan kepentingan kita.

Tapi untuk kepentingan membangun aliansi strategis itu kita harus bersikap sangat proaktif, dan tidak bersikap diam seperti seorang gadis yang dengan apatis menunggu datangnya sang Pelamar. Kita harus belajar untuk mendapatkan kendali yang lebih besar jika kita ingin orang lain mengakomodasi kepentingan-kepentingan kita.

Kita juga harus memiliki kemampuan menilai orang lain secara objektif, dan menjauhkan sedapat mungkin kebiasaan menilai orang berdasarkan suka atau tidak suka, kagum atau tidak kagum. Kita harus memandang setiap orang sebagai aktor-aktor yang memainkan peran yang berbeda-beda. Jadi yang penting adalah skenarionya, baru kemudian aktornya.

Langkah ini mengharuskan kita meninggalkan fanatisme ketokohan dan sekaligus membangun kerendahan hati untuk mengapresiasi kekuatan-kekuatan pihak lain. Kita tidak sedang berjuang untuk gengsi sebuah organisasi, tapi untuk agenda sebuah ummat. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang dengan kebesaran jiwa mau melakukan kerja-kerja perekatan dan usaha-usaha match-making (penyelarasan) dari keragaman-keragaman yang dapat dikonsolidasi menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Orang-orang itu mungkin takkan terlihat di depan layar. Tapi mereka bekerja untuk memastikan bahwa skenario berjalan sesuai rencana, dan para aktor bermain cemerlang.***

SERASA DAN SERASI

Posted in ANIS MATTA on June 27, 2007 by hufaizh

Oleh : M. Anis Matta, Lc

Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanent bila kita ingin membangun sebuah hubungan jangka panjang. Tapi seperti berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik, maka mereka tidak menghargainya.Atau mungkin mereka mengenalnya, tapi terasa terlalu jauh untuk dijangkau, seperti mimpi memetik bintang atau mimpi memeluk gunung. Atau mungkin ia mengenalnya, tapi terasa terlalu mewah untuk sebuah kelas sosial, atau kurang serasi untuk sebuah suasana.

Kira-kira itulah yang membuat Aisyah – Radhiyallahu ‘anha – sekali ini benar-benar gundah. Orang terbaik dimuka bumi ketika itu, Amirul Mu’minin, Khalifah kedua, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Umu Kaltsum. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran beliau kecuali bahwa Abu Bakar, sang Ayah, yang juga Khalifah Pertama, telah mendidik puteri-puterinya dengan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Aisyah karena itu, percaya bahwa adiknya tidak akan kuat beradaptasi dengan pembawaan Umar yang kuat dan kasar. Bahkan ketika Abu Bakar meminta pendapat Abdurrahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, beliau menjawab : “Dia yang paling layak, kecuali bahwa dia kasar”.

Dengan sedikit bersiasat, Aisyah meminta bantuan Amru bin ‘Ash untuk “menggiring” Umar agar menikahi Ummu Kaltsum yang lain, yaitu Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib yang ketika itu berumur 11 tahun. Karena garis jiwa, akal dan ruh mereka lebih setara dan karena itu mereka akan tampak lebih serasi karena bisa serasa. Berbekal pengalaman sebagai diplomat ulung, pesan itu memang sampai kepada Umar. Akhirnya Umar menikahi Umu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib.

Kesetaraan dan keserasian. Itu yang lebih menentukan daripada sekedar pesona an sich. Ibnu Hazm menjelaskan, kalau ada lelaki tampan menikahi perempuan jelek, atau sebaliknya, itu bukan sebuah keajaiban. Yang ajaib adalah kalau seorang lelaki meninggalkan kekasih yang cantik dan memilih kekasih baru yang jelek. “Saya tidak bisa memahaminya. Tapi memang tidak harus dijelaskan”.

Ibnu Hazm, imam terbesar pada mazhab Zhahiryah, yang menulis puluhan buku legendaris dalam fiqh, hadits, sejarah, sastra, puisi dan lainnya, lelaki tampan yang lembut dan seorang pecinta sejati, putera seorang menteri di Cordova, suatu ketika harus menelan luka: cintanya ditolak oleh seorang perempuan yang justru bekerja dirumahnya. Ibnu Hazm bahkan mengejar-ngejarnya dan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi tetap saja ditolak: “Saya teringat, kadang-kadang saya masuk melalui pintu rumahku dimana gadis itu ada disana, untuk berdekat-dekat dengannya. Tapi begitu ia tahu aku mendekat ia segera menjauh dengan sopan dan tenang. Jika ia memilih pintu lain, maka aku akan kesana juga tapi dia akan pindah lagi ketempat lain. Dia tahu aku sangat mencintainya walaupun perempuan-perempuan tidak tahu hal itu karena jumlah mereka sangat banyak di istanaku”.

Begitulah lelaki yang memiliki semua pesona itu ditolak. Bahkan ketika suatu saat Ibnu Hazm menyaksikan gadis itu menyanyi di istananya, Ibnu Hazm benar-benar terpesona dan makin mencintainya. Tapi ia hanya berkata dengan lirih: “Oh, nyanyian itu seakan turun ke hatiku, dan hari itu tidak akan pernah kulupakan sampai hari ketika berpisah dengan dunia”.

Oh, lelaki baik yang terluka oleh hukuman keserasaan dan keserasian.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 129 Th.7/Shafar 1427 H/30 Maret 2006 M

Memimpin Umat, Puncak Prestasi Rabbani

Posted in Artikel on June 27, 2007 by hufaizh

Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Âli `Imrân: 79)

Sumber : Syariah Online

Kalau kita tengok sejarah kaum muslimin, paling tidak di negeri ini, kita akan menemukan bahwa sebagian besar pejuang dan pahlawan negeri ini adalah kaum muslimin. Lihat misalnya: Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar dan lain-lain.

Bukan hanya para pejuang yang sebagian besar muslim, bahkan, slogan atau syi`ar yang diangkat pun adalah slogan dan syi`ar agama. Misalnya Pangeran Diponegoro mengangkat dirinya sebagai khalîfatullâh fi ardhihi, juga bergelar sayyidin panotogomo (pemimpin yang menata kehidupan beragama). Termasuk juga saat perjuangan revolusi kemerdekaan. Melalui radio yang ada pada waktu itu, Bung Tomo selalu mengumandangkan takbir Allâhu Akbar untuk memanggil kaum muslimin terjun ke medan perjuangan, membangun dan memompa semangat mereka, dan hasilnya bisa kita baca dalam kisah-kisah heroik perjuangan arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 November 1945. Saking hebatnya daya juang mereka inilah, tanggal ini ditetapkan sebagai hari pahlawan Republik Indonesia.

Akan tetapi, pasca perjuangan ini, banyak para kiai beserta para santrinya “kembali” ke pesantren, untuk mengurus pendidikan agama (Islam), kembali kepada kegiatan belajar dan mengajar, “menyerahkan” urusan kepemimpinan umat ini kepada “orang lain”. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk membenarkan atau men-justifikasi hal ini, di antaranya adalah bahwa urusan kepemimpinan umat itu adalah bagian dari politik dan politik itu kotor, sudah seyogianya agama dijauhkan dan “dibersihkan” atau dijaga kebersihannya dari hal-hal yang kotor.

Ada satu kisah lagi yang menarik untuk kita renungkan.

Adalah seorang ustadz yang sehari-hari mengajar para mahasiswa di perguruan tinggi. Suatu saat ia mendapatkan “anugerah” untuk menjadi seorang pejabat yang lumayan tinggi kedudukannya. Karena inilah ia “meninggalkan” dunia mengajarnya. Seorang ustadz lain berkomentar, “Kenapa ia meninggalkan medan juang ajar mengajar dan menerjunkan diri dalam dunia politik? Dunia ajar mengajar lebih maslahat bagi Islam dan kaum muslimin!”

Dua kisah di atas, dan juga kisah-kisah lainnya menggambarkan bahwa ada “dikotomi” antara dunia ajar mengajar agama (Islam) dengan dunia politik, seakan kita yang selalu berusaha menolak pola pikir sekularisme dengan gigih, sering sekali terjebak pada prilaku sekularisme itu sendiri saat bersikap, berkomentar dan menyetel kehidupan kita dengan cara mendikotomikan dua kehidupan tersebut.

Ayat yang kita kutip di atas menegaskan bahwa tidak ada seorang ulama` yang menguasai ilmu kitab Allah, atau mendapatkan hikmah dari Allah SWT, atau diangkat menjadi nabi dan rasul, kecuali mereka menyeru kepada kaumnya agar mereka menjadi manusia-manusia rabbânî.

Secara eksplisit, sifat manusia rabbânî –sebagaimana dimaksud oleh ayat 79 surat Âli `Imrân adalah mereka yang secara kontinyu dan rutin (istilah Arabnya: tajaddud wa al-istimrâr) melakukan dua hal, yaitu:

Dirâsat al-kitâb (mengaji, belajar dan mengkaji kitab Allah SWT), dan
Ta`lîm al-kitâb (mengajarkan kitab Allah SWT).
Namun, ada satu kajian yang sangat menarik yang dilakukan oleh Imâm al-Mufassirîn (pemimpin para ahli tafsir), yaitu Ibnu Jarîr al-Thabarî (224 – 310 H).

Dalam kitabnya; Jâmi` al-Bayân fî ta’wîl Al-Qur’ân, vol. 3, hal. 351 – 354 (Kairo: Dâr al-Taufîqiyah), setelah ia menjelaskan beragam pendapat `ulama’ dalam hal ini, ia sampai kepada kesimpulan sebagai berikut:

Rabbânî adalah level atau mustawâ yang lebih tinggi dari sekedar al-fiqh (memahami agama) dan al-`ilm (ilmu atau penguasaan kitab Allah).
Rabbânî seseorang yang menggabungkan antara al-fiqh dan al-`ilm dengan:
Al-Bashira bi al-siyâsah (melek, bahkan, sangat melek politik)
Al-Bashira bi al-tadbîr (melek, bahkan, sangat melek terhadap manajemen, dan kepemimpinan)
Al-Qiyâm bi syu-ûn al-ra`iyyah wa mâ yushlihuhum fî dun-yâhum wa dînihim (melaksanakan dan menjalankan segala urusan rakyat dan segala hal yang membawa kemaslahatan mereka, baik dalam kehidupan dunia mereka maupun kehidupan agama mereka). (lihat hal. 353).

Dengan demikian, Rabbânî adalah sandaran manusia dalam al-fiqh, al-`ilm dan berbagai urusan agama dan dunia (lihat pada halaman yang sama).

Ibnu Jarîr al-Thabarî menyandarkan kesimpulannya pada dua hal, yaitu:

Sandaran bahasa.
Sandaran kepada salaf.

Secara bahasa kata Rabbânî adalah bentuk nisbat dari kata Rabbân. Sedangkan kata Rabbân adalah bentuk mubâlaghah (hiperbolis) dari kata Râbbî, yaitu isim fâ`il dari fi`il rabba – yarubbu yang artinya adalah seseorang yang mentarbiyah manusia, dalam arti mengurus segala kemaslahatan urusan mereka, menumbuhkembangkannya dan melaksanakan atau menjalankan segala urusan itu untuk mereka.

Ibnu Jarîr –rahimahullâh- tidak hanya menyandarkan pendapatnya kepada kajian bahasa semata, akan tetapi, ia juga merujuk kepada salaf al-shâlih. Dalam hal ini ia merujuk kepada perkataan Mujâhid (21 – 102 H), seorang murid handal Ibn `Abbas –radhiyâllâhu `anhu- dan juga seorang ulama’ tâbi`in yang menjadi rujukan utama dalam tafsîr Al-Qur’ân. Mujâhid berpendapat bahwa Rabbânî adalah level di atas al-ahbâr (para `ulama’).

Dengan pendapatnya ini, Ibnu Jarîr tidak berarti menafikan adanya pendapat-pendapat lain tentang maksud rabbânî, akan tetapi, justru ia mengadopsi pendapat-pendapat yang ada.

Terkait hal ini ia berkata, “Seorang yang `âlim fiqih dan hikmah adalah bagian dari al-mushlihîn (pembaharu, orang-orang yang membawa dan mendatangkan mashlahat), ia adalah seseorang yang mentarbiyah segala urusan manusia dengan cara mengajarkan segala macam kebaikan kepada mereka, juga menyeru mereka kepada segala hal yang membawa kemaslahatan bagi mereka, dengan demikian, ia adalah seorang yang penuh hikmah yang bertaqwa kepada Allah SWT, ia adalah seorang wali (penguasa, pemimpin) yang mengurus segala urusan manusia agar berjalan di atas minhaj yang menjadi pilihan orang-orang yang adil yang memperbaiki segala urusan manusia dengan cara melaksanakannya di tengah-tengah mereka, urusan yang mendatangkan kemaslahatan dan manfaat dunia dan akhirat mereka<!–[endif]–>. (lihat pada halaman yang sama dari kitab Ibn Jarir).

Bila kajian Ibnu Jarîr ini kita kaitkan dengan tarikh (sejarah), kita akan mendapati bahwa tidak ada seorang nabi kecuali ia menjadi pemimpin umat, bukan sekadar pemimpin “agama”, akan tetapi juga pemimpin duniawi mereka, lihat misalnya nabi Yusuf -`alaihi al-salâm-, ia pernah menjadi menteri yang mendatangkan kemakmuran bagi penduduk Mesir dan sekitarnya, lihat pula nabi Daud dan nabi Sulaimân -`alaihimâ al-salâm-, dan lihat pula nabi kita Muhammad –shallallâhu `alaihi wa sallam-

Lihat pula kisah Abû Bakar al-Shiddîq, `Umar bin al-Khaththâb, Utsmân bin al-`Affân, `Alî bin Abî Thâlib –radhiyallâhu `anhum-, yang pernah menjadi khalîfah dan amîr al-mukminîn. Juga banyak sahabat nabi yang “puncak karirnya” pernah menjadi gubernur (wâlî), semuanya ini menjelaskan bahwa mereka tidak hanya mengurus kehidupan “agama” manusia, akan tetapi juga mengurus “dunia” mereka.

Dan sebagai penutup taujih ini, marilah kita renungkan, kita hayati dan kita amalkan doa qur’ânî ini, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqân: 74)

Penaklukkan Islam ke Barat

Posted in ALWI ALATAS on June 19, 2007 by hufaizh

Kemunculan Islam di Hijaz merupakan sebuah peristiwa yang seharusnya disyukuri oleh umat manusia dimanapun di dunia, baik Muslim maupun non-Muslim. Mengapa demikian? Karena Islam muncul sebagai penyelamat peradaban (civilizational savior) dari keadaannya yang paling kritis dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Sebagaimana diakui oleh Joseph McCabe dalam bukunya The Splendour of the Moorish Spain, ”Adalah layak untuk dihargai bahwa orang-orang Arab [Muslim, pen.] memasuki arena pada periode paling penuh keputusasaan yang pernah dirasakan dunia sejak fajar peradabannya, yaitu pada paruh pertama abad ke tujuh. Sekiranya ada seorang pemikir filsafat di mana pun di bumi ini pada awal abad tersebut, ia tentu akan mengumumkan bahwa kisah perjalanan panjang upaya manusia untuk menciptakan peradaban telah berakhir dengan kegagalan.”

Kondisi yang buruk di berbagai wilayah serta sikap memerangi bangsa-bangsa besar seperti Romawi dan Persia telah memotivasi kaum Muslimin untuk membuka dan membebaskan berbagai wilayah dari cengkeraman imperium Barat dan Timur. Laju pembebasan (futuhat) berlangsung sangat cepat. Tulisan ini akan memberikan deskripsi ringkas tentang proses penaklukkan Islam ke arah Barat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw. (632) dan Abu Bakr al-Shiddiq ra. (634), kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar ibn al-Khattab ra. (634-644). Pada periode ini proses penaklukkan berlangsung sangat cepat ke Timur dan ke Barat. Satu persatu wilayah Arab Utara jatuh ke tangan kaum Muslimin: Syria (636) dan kemudian Palestina (638). Wilayah Iraq juga takluk pada masa yang hampir bersamaan. Semua wilayah ini sebelumnya berada di bawah imperium Romawi (Byzantium) dan Persia. Sebagai tempat menetap baru pasukan Islam, untuk lebih menyesuaikan dengan karakter geografis mereka sebelumnya, maka dibangunlah dua buah kota baru (misr), yaitu Basrah dan Kuffah (636). Kota-kota militer ini biasanya dirancang dengan posisi masjid di tengah-tengah, kemudian pusat komando pasukan, lalu di sekelilingnya dibangun rumah-rumah anggota pasukan berdasarkan asal suku mereka (karena perekrutan tentara pada masa itu berdasarkan suku/ kabilah). Maka tidak mengherankan kalau nama-nama jalan dan lokasi (quarter) di kota-kota tersebut juga mengambil nama-nama suku/ kabilah yang menempatinya.

Pasukan Islam kini mulai bergerak ke arah Mesir di bawah pimpinan ’Amr ibn al-’Ash dan berhasil menaklukkan negeri itu pada tahun 641, kecuali Aleksandria yang baru takluk satu tahun setelahnya. Pada tahun yang sama dibangun kota militer (misr) baru bernama al-Fustat yang nantinya berkembang menjadi Kairo. Penduduk Mesir dengan cepat beradaptasi dengan pemimpin mereka yang baru dan banyak yang kemudian memeluk agama Islam. Pada tahun 642, penaklukkan dilanjutkan dan kota Barqa di Cyrenaica (Libya) berhasil dikuasai.

Pembagian dan nama-nama wilayah Arfrika Utara ketika itu ketika itu tidak sama dengan sekarang. Libya masih terbagi dua: Tripolitania dan Cyrenaica. Tunisia lebih dikenal sebagai Carthage. Orang-Orang Arab kemudian menyebut seluruh wilayah ini sebagai Ifriqiya. Sementara itu Aljazair Barat dan Maroko Timur dikenal sebagai Maghrib al-Awsath (Barat Tengah/ Middle West) dan Maroko Barat disebut sebagai Maghrib al-Aqsha (Barat Jauh/ Far West). Bagian Utara dari wilayah-wilayah ini dikuasai oleh Byzantium yang beragama Kisten Orthodoks, sementara bagian pedalamannya dihuni oleh suku-suku Berber yang masih menganut paganisme (ada juga yang menganut agama Kristen dan Yahudi). Proses penaklukkan ke wilayah-wilayah ini berjalan lambat karena pada akhir masa kekhalifahan Uthman ibn Affan (644-656) dan ’Ali ibn Abi Thalib (656-661) terjadi perang sipil yang berkepanjangan. Kekhalifahan Islam kemudian berganti menjadi Kerajaan di bawah Dinasti Bani Umayyah (661-750).

Pada masa-masa selanjutnya, ada beberapa pimpinan pasukan Muslim yang akan terlalu panjang jika disebutkan satu persatu di tempat ini. Salah satu tokoh yang cukup menonjol adalah ’Uqbah ibn Nafi’. Ia dan pasukannya melanjutkan proses penaklukkan ke Barat dan sebagai sebuah strategi. Ia membangun kota baru bernama Qayrawan antara tahun 670 dan 675 sebagai ibu kota Ifriqiya. ’Uqba dan pasukannya kemudian melakukan serangan kilat ke arah Barat, memaksa kaum Berber berlindung ke pedalaman, hingga tiba di tepi Samudera Atlantik. Di tepian Atlantik ia berseru, ”Allahu Akbar! Sekiranya saya tak terhalang oleh laut ini, saya akan terus maju ke kerajaan-kerajaan Barat yang belum dikenal, menyatakan kebesaran Nama-Mu serta menundukkan bangsa-bangsa yang menyembah tuhan-tuhan selain-Mu itu.” Sayangnya penaklukkan ini tidak bersifat permanen. Dalam perjalanan pulang ke Qayrawan, ia dan pasukannya diserang oleh orang-orang Berber dan karenanya gugur sebagai syuhada.

Setelah beberapa kali terjadi pergantian kepemimpinan, pada tahun 704, Musa ibn Nusayr ditetapkan sebagai Gubernur Ifriqiya yang baru. Di bawah kepemimpinannya, Seluruh wilayah Afrika Utara berhasil ditaklukkan. Menjelang tahun 710, kota Tangiers (Tanjah) di ujung Utara Maroko berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin. Thariq ibn Ziyad, jenderal kepercayaan Musa ibn Nusayr, diamanahkan memimpin kota ini, sementara Musa sendiri kembali ke Qayrawan.

Pada saat yang sama di Utara, Andalusia (Spanyol) yang ketika itu dikendalikan oleh bangsa Visigoth sedang mengalami kekacauan politik. Kondisi itu mengundang kaum Muslimin untuk masuk ke wilayah tersebut. Tepat setahun setalah percobaan pertama pada bulan Ramadhan tahun 710, proses penaklukkan yang sesungguhnya dimulai. Thariq ibn Ziyad dan sekitar 1200 pasukan Islam menyeberang ke Andalusia. Pasukan Visigoth berkekuatan 70.000-100.000 pasukan dipukul hancur oleh kaum Muslimin dan raja mereka, Roderick, terbunuh dalam pertempuran tersebut. Proses penaklukkan selanjutnya berlangsung sangat cepat, karena masyarakat Andalusia dan orang-orang Yahudi di sana yang tidak merasa puas dengan pemerintahan Visigoth cenderung bersikap apatis, bahkan memberikan bantuan, dalam proses penaklukkan yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Pada tahun 712, Musa dan pasukannya menyeberang ke Andalusia dan ikut menyempurnakan proses penaklukkan. Andalusia pun jatuh ke tangan kaum Muslimin yang beberapa abad kemudian mengukir sebuah peradaban yang sangat indah di sana.

Diambil dari: Sang Penakluk Andalusia oleh Alwi Alatas (Penerbit Zikrul Hakim, 2007)

The End of History is Islam

Posted in Artikel on June 19, 2007 by hufaizh

Setelah berahirnya perang dingin (cold war) di Abad ke-20, keluarlah
Amerika dan sekutunya (barat) sebagai pemenang dan pengendali
tunggal dunia dengan duduk diatas puncak ‘kekuasaan Barat’ Amerika
Serikat sebagai the only one soperpower in the world.

Sejak itu para pemikir Barat maupun non-Barat sibuk mencari Hipotesa
dan ramalan bagaimana kelanjutan dari episode sejarah perjalanan
umat manusia. Apakah ada episode baru, dalam arti ada peradaban
lain yang akan menggantikan posisi komunis sebagi musuh Barat?
Ataukah ini merupakan ahir dari episode perjalanan sejarah umat
manusia di dunia? dalam arti Barat sebagi peradaban yang akan
memimpin umat manusia hingga ahir zaman..

Adalah Prancis Fukuyama salah seorang ilmuan yang berpengaruh di
Barat melontarkan pemikirannya dalam artikelnya di jurnal Interest
1989 yang berjudul “The End of History?” Ia mengatakan
bahwa “Setelah Barat melakukan rival idiologinya monarki herediter,
fasisme dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsensus yang luar
biasa terhadap Demoktrasi Liberal”. Ia berpendapat bahawa “Demokrasi
Liberal adalah semacam titik ahir dari sebuah evolusi ideologi atau
bentuk final dari bentuk pemerintahan”. Dalam hal ini Fukuyama
sepertinya mamaksakan bangsa-bangsa non-Barat untuk mengikuti jejak
langkah barat dan menagdopsi Demokrasi Leberal sebagai ideologi
negara, barang siapa menolak, maka ia akan terseret dengan
sendirinya oleh derasnya arus gelombang globalisasi.

Tesis Fukuyama ini banyak menuai kritik pedas dari para pemikir
barat maupun non Barat yang didasarkan pada 1) Adanya dua kubu Peradaban barat yang keduanya ingin menjadi super power in the word, Amerika dan Eropa. Salah satu insiden yang menimbulkan gep diantara mereka adalah invasi AS
atas Irak. Sehingga Thomas L. Friedman dan Jonh Bilt (PM Swedia)
bertanya It is the end of the west? Begitu juga dengan Charlest A.
Kupchan, ia mengatakan “The nex clash of civilization will not be
between the west and the rest but between the U.S. and Europe__and
Americans remain largly oblivius. 2) Adanya peradaban lain yang akan menjadi cabaran
(tantangan) bagi Peradaban Barat sebagimana yang di ramalakan
Bernad Lewis dan Samuel P. Huntington dengan teori terkenalnya “Clash of Clasivilitation”

Antara Islam dan Barat

Berbeda dengan Fukuyama , Bernad Lewis melalui artikelnya yang
berjudul “The Roots of Muslim Rag” membuat suatu paradigma bahwa
setelah berahirnya perang dingin, Barat membutuhkan new enemy
(musuh baru) yang akan menggantikan posisi komunis sebagai musuhnya
di Perang Dingin. Kemudian tentang siapa musuh barunya itu ia
membahasnya dalam buku populernya “Islam and the West”. Sehingga
dari sanalah muncul__apa yang ia istilahkannya dengan__
benturan peradaban (clash of civilization).

Gagasan Lewis ini di ta’kid lagi oleh muridnya Huntington didalam
bukunya “The Clash of Civization and The Remaking and World Order”.
Ia menuliskan bahwa Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah
membuat Barat tidak merasa aman.
Kemudian dia meneruskan pemikirannya ini dalam bukunya “Who Are We?”
Disini Ia lebih jelas lagi memvonis Islam sebagai musuh Barat menggantikan
posisi komunis pasca perang dingin. Bahkan Petrick J. Buchanan dalam
artikelnya “Is Islam an Enemy the United States ?” Ia menulis ” Bagi
sebagian orang Amerika yang mencari musuh baru untuk uji coba
kekuasaan setelah runtuhnya komunis, Islam adalah pilihannya.

fenomena mutahir seperti Serangn 11 September 2003, invasi AS atas
Afganistan, Irak dan Somalia, Dukunan AS atas Israel, Tekanan AS atas Iran, insidenc karikatur Nabi
Muhammad SAW, seolah-olah membenarkan rumusan Lewis dan muridnya
Huntington tentang benturan (clash) peradaban. Kita juga memperhatikan bagaimana semangatnya Presiden Iran Ahmadinejad menenteng AS dan Barat, hingga beliau mengunjungi negara-negara berhaluan kiri (Venezuela dan Nikaragua)untuk membebaskan negara-negara dari cebgkraman AS. Begitu juga dengan Ali Khamenei mengunjungi Raja Arab saudi mengusulkan kerjasama strategis untuk mengatasi problematika dunia Islam dan berupaya semaksimal mungkin untuk menyatukan Umat Islam. Ini juga menunjukan bahwa benturan peradaban akan terjadi.

Bernad Lewis dan Huntington adalah ilmuan Barat yang sangat
konfrontioinis terhadap Islam, merekalah yang sebenarnya
mengompori panasnya hubungan Barat dan Islam. Berbagai mitologi dan
demonologi terus dikembangkan seperti Islamic Threat (ancaman
Islam), Islamic Peril (bahaya Islam), Kerajaan setan, Islamic Bom”
dan lain sebagainya. Bahkan pikiran kotor yang mereka lontarkan dan
paradigma jahat yang mereka buat seakan-akan menabuh gendang
peperangan antara Barat dan Islam.

Islam is Never Die

Prancis Fukuyama, Bernad Lewis, Samuel P. Huntington dan para
pemikir barat lainnya yang paranoid terhadap Islam harus menengok
kembali sejarah perjalanan umat manusia bahwa setiap peradaban
memiliki batas waktunya dan setiap umat memiliki umurnya, dan
didalam hidup ini berlaku hukum alam (sunatullah) yang tidak dapat
dihindari, dielakan dan dirubah oleh akal dan tangan manusia,
termasuk siklus kejayaan dan kehancuran suatu peradaban manusia, ia
adalah sunatullah.
Arnold Toynbee sorang sejarawan Barat mengatakan bahwa di bumi ini
telah ada sekitar 21 peradaban umat manusia yang jatuh dan silih
berganti

Islam is The End of History

Kalo Fukuyama mengatakan bahwa the end of history adalah Peradaban
Barat, maka penulis sendiri lebih yakin bahwa the end of history
adalah Peradaban Islam. Darimana kita tau itu, sedangkan Islam sendiri__di abad modern ini__ belum memberikan karyanya yang khas yang menunjukan bahwa Islam akan bangkit dan menjadi ahir bagi sejarah peradaban umat manusia. Tapi setidaknya ada tiga alasan yang penulis jadikan sebagai sandaran: Pertama, Pesan Robbani: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami
pergilirkan di antara manusia ” (Qs.3 : 140). Sepanjang sejarah,
telah banyak yang berkuasa dan tidak satupun yang kekal. Sekarang,
Dimana Peradaban Romawi? Tak ada bekasnya selain bangunan-bangunan
kuno dan arsitek-arsitek material. Dimana Peradaban Yunani? musnah,
tak mewariskan apapun selai Filsafat nonesensial dan budaya
paganisme. Dimana Peradaban Persia ? mati, Tak meninggalkan apa-apa
selain cerita-cerita kuno. Dimana superpower Uni Soiet dan
idiologi komunisnya? runtuh dan luluh tak ada daya melawan kekuatan
Barat. Semuanya mati dan hancur kecuali satu, umat Islam.
“Dan telah kami jadikan kamu (umat Islam) ebagi umatan wasathan
(umat adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas umat
manusia “(Qs. Al Baqoroh:183 ) Jadi karakteristik umat ini adalah
sebagai saksi atas umat manusia seluruhnya, saksi atas umat gobiroh
(terdahulu) sebagiman tersurat dalm Al Quran dan saksi atas uamat
mutahir sebagaiman kita saksikan dan kita alami sekarang. Dalam ayat
lain Allah SWT berfirman : ” Allah SWT menjanjikan kepada orang-
orang yang beiman dan ang mengerjakan kebajikan akan menjadikan
mereka berkuasa di muka bumi ini, sebgaimana Ia menjadikan orang-
orang sebelum kamu berkuasa ……” (Qs. An Nur:55)

Kedua, Pesan Nabawi : Diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Qubail,
Abdullah ibnu ‘Ash berkata: ” Ketika kami duduk bersama Rasullah
SAW, apabila ia ditanya ” Kota manakah yang akan pertama kali
dibuka, Konstantinovel atau Roma? Rasulullah SAW menjawab :
Konstanti novel yang akan poertama kali dibuka, kemudian Roma”.
Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa a) Para sahabat sebenarnya
sudah mengetahui bahwa Konstantinovel dan Roma akan dibuka, tapi
mereka ingin mengetahui mana yang akan pertama kali dibuka. b) Ini
adalah kabar gembira dari Rasulullah SAW yang pasti benar adanya.
Sehingga pada tahun 1453 M Konstantinovel dapat dibuka oleh sultan
Muhammad Alfaatih. Tinggal satu imperium lagi yaitu Roma. Dan
sebenarnya seketika itu juga Al Faatih telah menyiapkan pasukan
untuk menyambut dan menyempurnakan Busyra Nabawi (kabar gembira dari
Nabi SAW) membuka Roma, tapi itu belum tercapai. Ini adalah kehendak
Allah SWT agar tersisa amal/tugas bagi kita untuk membukanya. c) Ada
sebgaian ulama yang berpendapat bahwa arti dari kata “Rumiyyah”
disana bukan Roma ibu kota Italia sekarang, tapi yang diingikan
adalah makna majazinya yaitu imperium Barat hususnya Amerika. Kenapa
Romawi disini dikaitkan dengan imperium Barat. Ada beberapa alasan.
a) Karena yang menjadi unsur pembentuk peradaban barat salah satunya
adalah Peradaban Romawi.
b) Sikap barat dan kebijakan luar negrinya tak beda jauh dengan
imperium Romawi ketuka itu. Sebagaimana di singgung oleh
Toynbee “Amerika kini membela sesuatu yang dulu dibela oleh Roma.
Roma dulu secarakonsisten mendukung kaum kaya untuk melawan kaum
miskin disemua komunitas asing yang jatuh dibawah penaklikannya. Dan
karena kaum miskin sejau ini, kapanpun dan dimanapun jumlahnya selal
lebih banyak dari kaum kaya. Kebijakan Roma selalu tidak seimbang dan
menimbulkan kepercayaan atas sebgaian besar orang

Ketiga Adanya sinyal-sinyal keruntuhan Peradaban barat. Hal ini
bisa dilihat dari beberapa hal
a) Terjadinya krisis moral dan kehampaan spiritual masyarakat Barat
yang lebih mementingkan aspek jasmani dan melalaikan aspek rohani.
b) Adanya paradok Peradaban Barat dalam menetapkan kebijakan luar
negrinya dengan menggunakan politik double standar, inilah yang
menyebabkan mereka kehilangan legitimasi dari dunia international.
c) Barat sudah tidak pantas lagi meminpin umat manusia, karena
mereka sudah lalai untuk bersikap persuasif, akomodatif, berlaku
adil dan menjadi problem slover__bukan problem mikker__terhadap
gejala-gejala global yang menegangkan masyarakat dunia. mereka hanya
‘hoby’ mengintervensi masalah dalam-luar negri suatu negara. Kelalaian
inilah yang akan menjadikan Barat__meminjam istilah Munawar
A.M.__ditimpa ‘hukum sejarah’ (baca: kehancuran). Firman
Allah “katakanlah itu semua karena (kelalaian) dirimu sendiri”.(Qs.
3:165). d) Barat terlalu angkuh dan sombong dengan kemajuan yang
mereka capai baik dalam bidang ilmu dan teknologi, ekonomi, militer
dan sebagainya, sehingga mereka merasa kuat dan tidak ada satupun
yang mampu menandingi kekuatan mereka. “Adapun kaum ‘Aad mereka
menyombongkan diri di muka bumi tampa (mengindahkan) kebenaran dan
mereka berkata”Sipakah yang lebun hebat kekuatannya dari kami?”
Tidakkah mereka memperhatikan Allah yang menciptakan mereka Dia
lebih hebat kekuaatan-Nya dari mereka?.” (Qs. 41: 15).

Dari ketiga alasan yang penulis paparkan diatas, kita dapat
mengambil statment bahwa kini Peradaban Barat sedang menggelinding
ketepi jurang kehancuran sebagai akibat dari kelalaian, kesombongan
dan kerusakan yang mereka lakukan, Munawar A.M. mengibaratkanya
seperti menara gading atau bangunan kokoh yang perlahan tapi pasti,
rayap-rayap sedang berkerumun menggerogoti tiang-tiang penyangganya.
Begitu juga Bernard Shaw pernah mengatakan “Romawi runtuh, Babylon
runtuh, kini tiba giliran Amerika”.

Dibalik itu, arus kebangkitan Islam sudah menemukan momentumnya,
kini umat Islam sedang berjalan menuju Alba’tsu fil Islam
(kebangkitan Peradaban Islam) yang sudah diduga oleh dunia
intelektual akan mengancam existensi Peradaban Barat. Walaupun Barat
berusaha semaksimal mungkin untuk membendung arus kebangkitan itu
dengan berbagai strategi jahatnya seperti politik double standar,
mitologi dan deminologi, paradigma kotor, dan propaganda jahat,
invasi pemikiran , bahkan dengan invasi militer sekalipun,
ketahuilah bahwa Islam is never die, because Islam is the end of
History.

Oleh : Nurfarid-Sinai Mesir