MENUJU UMAT YANG KOKOH DAN BERMARTABAT

Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, sosok yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Juga kepada para nabi dan rasul, kepada seluruh sahabat dan para pengikut mereka, serta kepada semua yang mengikuti petunjuk mereka hingga hari pembalasan.

Performa indikator dakwah Islam bertolak dari keyakinan kita secara total bahwa di dunia ini tidak ada sebuah sistem yang bisa memenuhi kebutuhan umat yang sedang bangkit dengan baik dari sisi regulasi, aturan, gelora, dan perasaan sebagaimana yang diberikan oleh Islam. Alquran Al-Karim memotret aspek ini secara khusus. Kadangkala ia memberikan berbagai contoh tentangnya secara global dan kadangkala pula secara rinci. Alquran mengurai semua aspek tersebut dengan cermat dan jelas. Setiap umat yang berpegang padanya pasti akan sampai kepada yang mereka tuju. (Nahw al-Nur).

Kita meyakini bahwa ketika Allah Swt. menurunkan Alquran, menyuruh para hamba-Nya untuk mengikuti Muhammad saw., serta meridai Islam sebagai agama mereka, maka sudah tentu Dia telah meletakkan dalam agama yang lurus ini sejumlah prinsip yang harus ada untuk kehidupan, kebangkitan, dan kebahagiaan umat. Hal itu tercermin dalam firman-Nya,
Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang namanya mereka temukan tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Ia menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf, melarang mereka dari perbuatan mungkar, menghalalkan untuk mereka segala yang baik, dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk. Serta, ia membuang semua beban dan belenggu yang terdapat pada mereka (al-A’râf: 157). (Ilâ ayyi Syay`in Nad’u al-Nâs).
Kita meyakini bahwa Islam menyimpan seluruh faktor kebangkitan dan aspek kekuatan yang penting yang dibutuhkan seluruh umat dan menjadi sandaran seluruh bangsa. Di antaranya:

1. Harapan yang jelas. Alquran membantu umatnya dengan cara merubah umat yang mati menjadi umat yang memiliki vitalitas, perhatian, harapan, dan tekad. Cukuplah sebagai buktinya ketika Alquran memposisikan sikap putus asa sebagai jalan menuju kekufuran dan sebagai salah satu bentuk kesesatan. Kita bisa membaca firman Allah yang berbunyi,
“Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, menjadikan mereka sebagai pemimpin, serta menjadikan mereka sebagai pewaris bumi. Juga, akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi.” (Al-Qashash: 5-6).
“Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan merasa bersedih padahal kalian adalah umat yang paling tinggi jika kalian beriman. Jika kalian terkena luka (pada perang Uhud), kaum kafir tersebut juga mendapat luka yang sama pada perang Badar). Demikianlah saat-saat kejayaan dan kehancuran Kami putarkan di antara manusia.” (Ali Imran: 139-140).
“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahlul kitab dari negeri-negeri mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat menjaga mereka dari siksa Allah. Maka, Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak mereka sangka. Allah mencampakkan rasa takut dalam hati mereka. Maka mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan mereka sendiri dan tangan orang beriman. Jadikanlah ia sebagal pelajaran wahai yang memiliki penglihatan.” (al-Hasyr: 2).
“Apakah kalian mengira akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dirasakan orang-orang sebelum kamu. Mereka mendapatkan malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang dengan berbagai macaam cobaan sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214).

2. Bangga dengan kebangsaannya sebagai umat terbaik dan mulia yang memiliki sejumlah keistimewaan dan sejarah sehingga gambaran tersebut tertanam dalam jiwa putra-putrinya. Sehingga mereka rela mengorbankan darah dan jiwa mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan tersebut serta mau bekerja demi kebaikan, kemuliaan, dan kebahagiaan negeri ini. Marilah kita membaca firman Allah yang berbunyi,
Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia. (Ali Imran: 110).
Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan sebagai saksi bagi manusia dan Rasul pun menjadi saksi bagi kalian. (Al-Baqarah: 143)
Kemuliaan milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. (al-Munafiqun: 8).

3. Umat yang bangkit membutuhkan kekuatan yang adil dan perlu mencetak putra-putrinya sebagai prajurit. Kekuatan merupakan cara yang paling menjamin untuk mewujudkan kebenaran. Marilah kita baca firman-Nya yang berbunyi,
Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengan begitu kalian dapat menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian. (al-Anfal: 60).
Diwajibkan atas kalian untuk berperang, padahal ia adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Sertam boleh jadi pula kalian mencintai sesuatu, padahal ia buruk buat kalian. (al-Baqarah: 216).
Perangilah-perangilah di jalan Allah orang-orang yang menukar akhiratnya dengan kehidupan dunia. (al-Nisâ`: 74).
Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan teratur seperti bangunan yang kokoh. (al-Shaff: 4).

4. Umat yang bangkit tidak hanya cukup dengan kekuatan semata. Akan tetapi, di samping membutuhkan kekuatan, ia juga membutuhkan ilmu yang mengimbangi kekuatan tersebut, mengarahkannya dengan baik, serta membantunya lewat sejumlah karya dan penemuan yang dibutuhkan. Kita bisa membaca firman Allah yang berbunyi,
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha pemurah. Dia yang mengajar dengan pena. Mengajar manusia tentang apa yang tidak ia ketahui. (al-Alaq: 1-5).
Katakan, apakah sama antara yang mengetahui dan yang tidak mengetahui. Hanya orang berakal yang dapat menerima pelajaran. (al-Zumar: 9).
Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah menurunkan air hujan dari langit. Lalu, dengannya Kami keluarkan berbagai macam tumbuhan. Dan di antara gunung-guung itu ada sejumlah garis putih dan merah serta ada pula yang hitam pekat. Demikian pula di antara manusia, binatang melata, dan binatang ternak, ada yang beragam jenis dan warnanya. Demikianlah, yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah yang berilmu (ulama). (Fâthir: 27-28).

5. Umat yang bangkit membutuhkan akhlak yang mulia, kuat, dan kokoh, serta jiwa yang besar yang memiliki cita-cita tinggi. Pasalnya, ia akan menghadapi berbagai tuntutan era baru—era kebangkitan—yang tidak bisa dicapai kecuali dengan akhlak yang kuat yang benar yang bersumber dari keimanan mendalam, keteguhan, pengorbanan besar, dan kesabaran istimewa. Kita bisa membaca firman-Nya yang berbunyi,
Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya dan merugi orang yang mengotorinya. (al-Syams: 9-10).
Allah tidak merubah kondisi suatu kaum sebelum mereka merubah apa yang ada pada diri mereka. (al-Ra’ad: 11).
Di antara kaum beriman ada orang-orang yang jujur dalam janji mereka kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan ada pula yang sedang menunggu-nunggu. Mereka tidak pernah merubah janji. Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang jujur itu berkat kejujuran mereka. (al-Ahzab: 23-24).

6. Yang paling dibutuhkan oleh umat yang sedang bangkit adalah adanya penataan persoalan ekonomi. Ia merupakan persoalan terpenting di masa kini. Kita bisa membaca firman Allah yang berbunyi,
Jangan kalian menyerahkan kepada orang-orang yang akalnya belum sempurna harta (mereka yang ada pada kalian) yang Allah jadikan sebagai penopang hidup kalian. (al-Nisa: 5).
Kita juga bisa menyimak sabda Nabi saw yang berbunyi, “Sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki oleh orang saleh.”

7. Sistem atau tatanan yang berkaitan dengan individu, umat, rakyat, pemerintah, dan hubungan antar bangsa.

Akhirnya, Ustadz al-Banna menegaskan bahwa di samping pilar-pilar yang disebutkan di atas yang secara khusus terkait dengan kebangkitan umat secara langsung, Islam juga meletakkan tatanan bagi seluruh lapisan, mulai dari tataran individu sampai ke tataran masyarakat internasional guna menegakkan sebuah komunitas yang bangkit dan maju. Dalam hal ini, Ustadz al-Banna mengatakan,
“Ini adalah salah satu aspek keindahan dalam sebagian sistem Islam. Ia adalah sistem dan tatanan yang terkait dengan kebangkitan umat dengan persepsi bahwa kita memang sedang menyongsong era kebangkitan tersebut. Adapun seluruh aspek keindahan yang terdapat pada setiap sistem Islam, maka ia membutuhkan beberapa jilid buku besar dan pembahasan luas yang mencakup berbagai hal. Secara singkat kita bisa mengatakan bahwa sistem Islam yang terkait dengan individu, keluarga, umat baik pemerintah maupun rakyatnya, serta hubungan antar bangsa, maka ia (sistem Islam) telah menggabungkan antara penguasaan, kecermatan, sikap mengutamakan maslahat, berikut penjabarannya. Ia juga merupakan sistem yang paling sempurna dan paling bermanfaat yang dikenal manusia, baik dulu maupun sekarang. Hal ini didukung oleh sejarah dan dikuatkan oleh kajian mendalam terhadap semua aspek kehidupan umat. (Nahw al-Nur).
Untuk membangun jamaah Islam yang kokoh dibutuhkan empat faktor mendasar sebagaimana ditegaskan oleh Hasan al-Banna
• Membebaskan umat dari sejumlah belenggu politisnya dengan membangunnya kembali.
• Menegakkan sistem Islam yang komprehensif.
• Menghadapi peradaban materialistis.
• Memimpin dunia dan memberikan petunjuk kepada semua umat manusia.
Proyek peradaban Islam yang kita suarakan adalah proyek kemanusiaan global yang secara umum mengarah kepada terbentuknya manusia terbaik. Ia merupakan proyek yang luas dan tak terbatas. Di dalamnya terdapat spirit karya dan inovasi agar sejalan dengan gerakan alam secara harmonis dan beriringan. Selain itu, padanya terdapat unsur-unsur pembentuk ruh, akal, dan jasad. Ia merupakan proyek yang terpusat di atas landasan iman dan di dalamnya bersambung antara langit dan bumi.

Ikhtisar:
Tujuh langkah menuju kebangkitan umat adalah:
1. Memiliki harapan yang tinggi dan jelas.
2. Bangga sebagai khairu ummah (umat terbaik).
3. Memiliki kekuatan.
4. Mempunyai ilmu pengetahuan yang memadai.
5. Berakhlak yang mulia, kuat, dan kokoh.
6. Penataan persoalan ekonomi.
7. Memiliki sistem atau tatanan yang terkait dengan individu, umat, rakyat, pemerintah, dan hubungan antar bangsa.

Sumber : Syariah Online

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: