Penaklukkan Islam ke Barat

Kemunculan Islam di Hijaz merupakan sebuah peristiwa yang seharusnya disyukuri oleh umat manusia dimanapun di dunia, baik Muslim maupun non-Muslim. Mengapa demikian? Karena Islam muncul sebagai penyelamat peradaban (civilizational savior) dari keadaannya yang paling kritis dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Sebagaimana diakui oleh Joseph McCabe dalam bukunya The Splendour of the Moorish Spain, ”Adalah layak untuk dihargai bahwa orang-orang Arab [Muslim, pen.] memasuki arena pada periode paling penuh keputusasaan yang pernah dirasakan dunia sejak fajar peradabannya, yaitu pada paruh pertama abad ke tujuh. Sekiranya ada seorang pemikir filsafat di mana pun di bumi ini pada awal abad tersebut, ia tentu akan mengumumkan bahwa kisah perjalanan panjang upaya manusia untuk menciptakan peradaban telah berakhir dengan kegagalan.”

Kondisi yang buruk di berbagai wilayah serta sikap memerangi bangsa-bangsa besar seperti Romawi dan Persia telah memotivasi kaum Muslimin untuk membuka dan membebaskan berbagai wilayah dari cengkeraman imperium Barat dan Timur. Laju pembebasan (futuhat) berlangsung sangat cepat. Tulisan ini akan memberikan deskripsi ringkas tentang proses penaklukkan Islam ke arah Barat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw. (632) dan Abu Bakr al-Shiddiq ra. (634), kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar ibn al-Khattab ra. (634-644). Pada periode ini proses penaklukkan berlangsung sangat cepat ke Timur dan ke Barat. Satu persatu wilayah Arab Utara jatuh ke tangan kaum Muslimin: Syria (636) dan kemudian Palestina (638). Wilayah Iraq juga takluk pada masa yang hampir bersamaan. Semua wilayah ini sebelumnya berada di bawah imperium Romawi (Byzantium) dan Persia. Sebagai tempat menetap baru pasukan Islam, untuk lebih menyesuaikan dengan karakter geografis mereka sebelumnya, maka dibangunlah dua buah kota baru (misr), yaitu Basrah dan Kuffah (636). Kota-kota militer ini biasanya dirancang dengan posisi masjid di tengah-tengah, kemudian pusat komando pasukan, lalu di sekelilingnya dibangun rumah-rumah anggota pasukan berdasarkan asal suku mereka (karena perekrutan tentara pada masa itu berdasarkan suku/ kabilah). Maka tidak mengherankan kalau nama-nama jalan dan lokasi (quarter) di kota-kota tersebut juga mengambil nama-nama suku/ kabilah yang menempatinya.

Pasukan Islam kini mulai bergerak ke arah Mesir di bawah pimpinan ’Amr ibn al-’Ash dan berhasil menaklukkan negeri itu pada tahun 641, kecuali Aleksandria yang baru takluk satu tahun setelahnya. Pada tahun yang sama dibangun kota militer (misr) baru bernama al-Fustat yang nantinya berkembang menjadi Kairo. Penduduk Mesir dengan cepat beradaptasi dengan pemimpin mereka yang baru dan banyak yang kemudian memeluk agama Islam. Pada tahun 642, penaklukkan dilanjutkan dan kota Barqa di Cyrenaica (Libya) berhasil dikuasai.

Pembagian dan nama-nama wilayah Arfrika Utara ketika itu ketika itu tidak sama dengan sekarang. Libya masih terbagi dua: Tripolitania dan Cyrenaica. Tunisia lebih dikenal sebagai Carthage. Orang-Orang Arab kemudian menyebut seluruh wilayah ini sebagai Ifriqiya. Sementara itu Aljazair Barat dan Maroko Timur dikenal sebagai Maghrib al-Awsath (Barat Tengah/ Middle West) dan Maroko Barat disebut sebagai Maghrib al-Aqsha (Barat Jauh/ Far West). Bagian Utara dari wilayah-wilayah ini dikuasai oleh Byzantium yang beragama Kisten Orthodoks, sementara bagian pedalamannya dihuni oleh suku-suku Berber yang masih menganut paganisme (ada juga yang menganut agama Kristen dan Yahudi). Proses penaklukkan ke wilayah-wilayah ini berjalan lambat karena pada akhir masa kekhalifahan Uthman ibn Affan (644-656) dan ’Ali ibn Abi Thalib (656-661) terjadi perang sipil yang berkepanjangan. Kekhalifahan Islam kemudian berganti menjadi Kerajaan di bawah Dinasti Bani Umayyah (661-750).

Pada masa-masa selanjutnya, ada beberapa pimpinan pasukan Muslim yang akan terlalu panjang jika disebutkan satu persatu di tempat ini. Salah satu tokoh yang cukup menonjol adalah ’Uqbah ibn Nafi’. Ia dan pasukannya melanjutkan proses penaklukkan ke Barat dan sebagai sebuah strategi. Ia membangun kota baru bernama Qayrawan antara tahun 670 dan 675 sebagai ibu kota Ifriqiya. ’Uqba dan pasukannya kemudian melakukan serangan kilat ke arah Barat, memaksa kaum Berber berlindung ke pedalaman, hingga tiba di tepi Samudera Atlantik. Di tepian Atlantik ia berseru, ”Allahu Akbar! Sekiranya saya tak terhalang oleh laut ini, saya akan terus maju ke kerajaan-kerajaan Barat yang belum dikenal, menyatakan kebesaran Nama-Mu serta menundukkan bangsa-bangsa yang menyembah tuhan-tuhan selain-Mu itu.” Sayangnya penaklukkan ini tidak bersifat permanen. Dalam perjalanan pulang ke Qayrawan, ia dan pasukannya diserang oleh orang-orang Berber dan karenanya gugur sebagai syuhada.

Setelah beberapa kali terjadi pergantian kepemimpinan, pada tahun 704, Musa ibn Nusayr ditetapkan sebagai Gubernur Ifriqiya yang baru. Di bawah kepemimpinannya, Seluruh wilayah Afrika Utara berhasil ditaklukkan. Menjelang tahun 710, kota Tangiers (Tanjah) di ujung Utara Maroko berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin. Thariq ibn Ziyad, jenderal kepercayaan Musa ibn Nusayr, diamanahkan memimpin kota ini, sementara Musa sendiri kembali ke Qayrawan.

Pada saat yang sama di Utara, Andalusia (Spanyol) yang ketika itu dikendalikan oleh bangsa Visigoth sedang mengalami kekacauan politik. Kondisi itu mengundang kaum Muslimin untuk masuk ke wilayah tersebut. Tepat setahun setalah percobaan pertama pada bulan Ramadhan tahun 710, proses penaklukkan yang sesungguhnya dimulai. Thariq ibn Ziyad dan sekitar 1200 pasukan Islam menyeberang ke Andalusia. Pasukan Visigoth berkekuatan 70.000-100.000 pasukan dipukul hancur oleh kaum Muslimin dan raja mereka, Roderick, terbunuh dalam pertempuran tersebut. Proses penaklukkan selanjutnya berlangsung sangat cepat, karena masyarakat Andalusia dan orang-orang Yahudi di sana yang tidak merasa puas dengan pemerintahan Visigoth cenderung bersikap apatis, bahkan memberikan bantuan, dalam proses penaklukkan yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Pada tahun 712, Musa dan pasukannya menyeberang ke Andalusia dan ikut menyempurnakan proses penaklukkan. Andalusia pun jatuh ke tangan kaum Muslimin yang beberapa abad kemudian mengukir sebuah peradaban yang sangat indah di sana.

Diambil dari: Sang Penakluk Andalusia oleh Alwi Alatas (Penerbit Zikrul Hakim, 2007)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: