MENCABUT DURI DALAM DAGING

Kita kalah, kita dirusak, kita harus melawan. Bagaimana melawan sama pentingnya dengan siapa yang kita letakkan di depan garis perlawanan.

Oleh : M Anis Matta, kontributor Majalah Hidayatullah

Memang menyakitkan. Bahwa setelah lebih dari setengah abad merdeka, Indonesia masih terus mengalami “keterbelahan ideologi” akibat masuknya sekulerisme, baik yang diciptakan tangan-tangan imperialis, maupun yang masuk melalui proses globalisasi. Para pemimpin yang datang silih berganti selalu memimpin negeri Muslim terbesar di dunia ini dengan ideologi dan sistem pembangunan yang “tidak kompatibel” dengan akar ideologi dan budaya masyarakat.

Dampaknya juga menyakitkan. Bangsa Indonesia bukan saja terjebak dalam potensi konflik ideologi berkepanjangan, tapi kita juga sulit bersinergi membangun bangsa dan negara. Terpuruklah kita dalam waktu lama. Lantas negara kaya raya ini dihuni orang-orang paling miskin di dunia.

Membangun negara dengan ideologi dan sistem yang tidak lahir dari akar ideologi dan budaya bangsa akan melahirkan benturan-benturan psikososial, yang jutsru akan menghambat proses pembangunan itu sendiri.

Masalah jadi kian rumit bersama munculnya kebiasaan memaksakan kehendak dari para penguasa sekuler dengan menggunakan kekuatan militer. Meminggirkan Islam dan ummatnya dari proses penyelenggaraan negara atau akses ekonomi mungkin bisa berhasil pada suatu rezim diktator. Tapi akibatnya juga fatal: pergantian kepemimpinan nasional di negeri kita selalu berdarah-darah. Kesabaran rakyat yang panjang tiba-tiba berubah jadi amuk berdarah. Maka jatuhlah Soekarno. Jatuh pula Soeharto.

Meminggirkan Islam dan ummatnya yang notabene mayoritas di negeri ini –dari percaturan politik atau ekonomi– hanya akan menciptakan ketidakseimbangan sosial politik yang panjang, yang setiap saat mengancam integritas dan keutuhan bangsa.

Bangsa kita tidak akan pernah benar bisa bertumbuh dengan baik, jika sekulerisme masih bekerja bagai duri dalam daging: virus-virusnya mematikan sel-sel bangsa kita yang sedang tumbuh. Ia terlepas dari basis identitas dan akar budayanya. Kita tidak dapat membayangkan bangsa ini bisa tumbuh jadi besar kalau kelompok mayoritasnya adalah yang termiskin dan tidak memegang kendali politik atas negerinya sendiri. Potensi ledakan disintegrasi akan selalu ada bagai bara dalam sekam.

Faktanya kita kalah

Walaupun begitu, tidak juga merupakan sikap ksatria kalau kita tidak mau merendah untuk mengakui sebuah fakta besar: bahwa sejak pemilu 1955 hingga pemilu 1999 perimbangan perolehan suara Islam dan sekuler selalu di kisaran 40 (Islam) : 60 (sekuler). Jadi bahkan dalam sebuah prosedur yang demokratis pun mayoritas umat Islam belum tentu berafiliasi secara ideologi kepada Islam. Agama tidak mempengaruhi pilihan politik mereka.

Kira-kira dengan fakta itu kita bisa mengatakan –selanjutnya– bahwa gerakan-gerakan Islam di Indonesia selama ini –seperti Muhammadiyah dan NU– belum berhasil mengembalikan afiliasi ummat kepada Islam. Pemikir-pemikir sekuler nampaknya lebih berhasil mensosialisasi pemikiran-pemikiran mereka di kalangan ummat. Mereka lebih agresif, lebih pandai dalam mengemas gagasan, lebih pintar memilih pola pendekatan, lebih solid dalam organisasi, lebih banyak sarana dan lebih luas pula jaringannya.

Bahkan pengaruh sekulerisme justru terasa masuk dalam rongga besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Jadi di jantung pertahanan kita pun sekulerisme itu merasuki kita. Akibatnya polarisasi dalam tubuh umat Islam makin parah. Kadang bahkan terasa kalau keragaman dalam tubuh umat Islam jauh lebih rumit daripada keragaman dalam tubuh bangsa.

Faktanya mereka lebih merusak

Adalah ksatria untuk mengakui fakta kekalahan kita. Tapi juga penting untuk mengetahui tingkat kerusakan yang kita alami akibat kekalahan itu. Sekarang saja misalnya, penguasa sekuler saat ini luar biasa merusaknya. Bayangkanlah di tengah kita saat ini hidup 40 juta orang miskin, beban utang luar negeri sebesar 1600 trilyun yang bunganya setiap tahun kita bayar melalui APBN sebesar 80 trilyun. Sementara APBN kita kedodoran, penguasa sekarang mengambil jalan pintas: jual murah seluruh asset negara untuk menutupi defisit tersebut. Itu menciptakan transaksi besar, tapi juga celah korupsi yang tidak terbayangkan.

Tidak ada usaha yang cerdas untuk mendatangkan investasi asing guna memicu pertumbuhan ekonomi. Bagaimana investor asing mau datang kesini kalau yang menyambut mereka justru para koruptor dari sebuah negara rimba tanpa kepastian hukum? Apa yang akan mendatangkan investor asing kalau institusi hukum tertinggi di negeri kita, Mahkamah Agung, jutsru tampil dengan lakon paling memalukan dalam drama satu babak jual beli hukum ketika mereka menerima permohonan kasasi Akbar Tanjung.

Sementara negara-negara ASEAN mengalami pemulihan ekonomi dari krisis tahun 1997, Indonesia kita justru makin terpuruk sampai ke dasar krisis yang tidak tertanggungkan. Bahkan ledakan disintegrasi yang mungkin ditimbulkan oleh krisis ini –di tengah penguasa sekuler yang korup dan tidak peduli– sekarang mulai jadi ancaman destabilisasi kawasan ASEAN.

Konsolidasi perlawanan

Diantara kekalahan kita dan kerusakan yang diciptakan para penguasa sekuler kita berhadapan dengan sebuah tantangan besar: bagaimana mengkonsolidasi perlawanan untuk mengembalikan kepemimpinan bangsa ke tangan ummat atau –paling tidak– kepada kekuatan reformis yang bertemu dengan ummat pada semangat reformasi.

Dalam semangat reformasi kepentingan kita pada tiga lapisannya bertemu dengan kepentingan kaum reformis. Yaitu kepentingan untuk menyelamatkan bangsa, membuka jalan masuk bagi ummat dari pinggir ke tengah, dan memberi ruang partisipasi bagi sumber daya manusia da’wah untuk ikut mengelola negara.

Ini bukan aliansi ideologi. Ini adalah aliansi strategis. Yaitu aliansi kekuatan-kekuatan strategis –Islam dan reformis– untuk kepentingan-kepentingan strategis bersama. Aliansi ini diusung untuk memenangkan “agenda”, bukan “tokoh”. Tokoh –dalam aliansi ini– adalah semata-mata “bagian” dari strategi, dan “tidak boleh lebih besar dari strategi”. Sebagai bagian dari strategi, tugas kita adalah mengkonsolidasi faktor-faktor kemenangan di mana tokoh merupakan salah satunya. Memperjuangkan tokoh hanya akan meruncingkan konflik dan menyulitkan kemungkinan pertemuan kedua kekuatan tersebut.

Dalam kaitan itu, maka tokoh yang kita dukung adalah mereka yang memenuhi dua kriteria sekaligus: memenuhi atau mendekati kriteria ideal seorang pemimpin, sekaligus memiliki peluang menang yang besar. Peluang untuk memenangkan pertarungan melawan kekuatan sekuler pro status quo hanya dapat diraih oleh tokoh yang memiliki basis dukungan massa yang luas, mesin politik yang canggih, jaringan media dan dana yang besar.

Dalam keadaan dimana kemampuan-kemampuan itu tidak ditemukan pada tokoh-tokoh Islam, maka kita harus memberikan kesempatan kepada tokoh reformis lain yang dapat mengakomodasi tiga lapisan kepentingan kita.

Tapi untuk kepentingan membangun aliansi strategis itu kita harus bersikap sangat proaktif, dan tidak bersikap diam seperti seorang gadis yang dengan apatis menunggu datangnya sang Pelamar. Kita harus belajar untuk mendapatkan kendali yang lebih besar jika kita ingin orang lain mengakomodasi kepentingan-kepentingan kita.

Kita juga harus memiliki kemampuan menilai orang lain secara objektif, dan menjauhkan sedapat mungkin kebiasaan menilai orang berdasarkan suka atau tidak suka, kagum atau tidak kagum. Kita harus memandang setiap orang sebagai aktor-aktor yang memainkan peran yang berbeda-beda. Jadi yang penting adalah skenarionya, baru kemudian aktornya.

Langkah ini mengharuskan kita meninggalkan fanatisme ketokohan dan sekaligus membangun kerendahan hati untuk mengapresiasi kekuatan-kekuatan pihak lain. Kita tidak sedang berjuang untuk gengsi sebuah organisasi, tapi untuk agenda sebuah ummat. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang dengan kebesaran jiwa mau melakukan kerja-kerja perekatan dan usaha-usaha match-making (penyelarasan) dari keragaman-keragaman yang dapat dikonsolidasi menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Orang-orang itu mungkin takkan terlihat di depan layar. Tapi mereka bekerja untuk memastikan bahwa skenario berjalan sesuai rencana, dan para aktor bermain cemerlang.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: