KEMENANGAN MUHAMMAD IBN ‘ABDULLAH

Pengantar Kontributor :

Risalah ini berusmber dari buku Sayyid Qutb, “Beberapa Studi Tentang Islam,” (terjemahan). Teks ini diambil dari http://www.dakwah.info dalam bahasa Melayu dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Tampaknya, teks bahasa Melayu ini diubahsuai dari buku terbitan Media Dakwah (pada tahun 2001 telah memasuki cetakan ke-6).
Tiga unsur kemenangan Rasulullah SAW yang disampaikan Sayyid Qutb dalam risalah ini terdiri dari 3 hal, yaitu kejelasan visi dan prinsip keimanan yang tidak sedikitpun mundur terhadap godaan materialisme, pewujudan generasi Qur’any yang merealisasikan visi itu dalam kehidupan nyata, dan keberhasilam mengimplementasikan hukum Tuhan Pencipta Alam untuk mengatur kehidupan manusia.Tiga unsur ini bisa diadakan pada setiap zaman, dan tidak eksklusif kemampuan khusus zaman Nabi saja. Oleh sebab itu, jika kita ingin mencapai kejayaan Islam, maka tiga unsur ini harus kita realisasikan.

Isi tulisan Sayyid Qutb:

Berkumandangnya jutaan suara manusia, di belahan bumi bagian Timur dan bagian Barat, yang selalu diulang-ulang baik di pertengahan malam dan di kala siang hari: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Pesuruh Allah.

Berkumandangnya suara seperti ini selama empat belas abad lamanya, tidak pernah diam dan tidak pernah bungkam dan tidak pernah berhenti. Negara demi negara telah berganti. Keadaan demi keadaan telah bertukar. Tetapi seruan yang abadi itu tetap tidak berubah. Sebuah seruan yang telah tertanam dalam hati nurani zaman.

Berkumandangnya suara-suara ini, adalah suatu bukti yang hidup, bukti yang berbicara, tentang kemenangan Muhammad ibn Abdullah. Kemenangan itu diperoleh bukan dalam pertempuran, bukan dalam peperangan. Bukan menaklukkan kota Mekah. Bukan memerintah seluruh Jazirah Arabia. Bukan menundukkan kedua imperium Kisra dan Kaisar. Tetapi ia adalah kemenangan universal yang telah masuk ke dalam tubuh kehidupan, mengubah jalannya sejarah, menukar nasib alam dan terpateri dalam hati nurani zaman.

Kemenangan ini adalah suatu kemenangan yang tidak dapat dihilangkan oleh kelemahan seketika yang diderita umat Islam dalam suatu waktu tertentu. Nilainya tidak akan pernah berkurang karena lahirnya filsafat dan mazhab-mazhab yang baru. Cahayanya tidak akan pernah redup oleh menangnya suatu kelompok terhadap kelompok lain di suatu bagian dunia. Karena akarnya terhujam mendalam pada alam semesta, tertanam dalam hati nurani manusia, mengalir dalam saluran-saluran kehidupan.

Kemenangan yang buktinya terdapat dalam dirinya sendiri tidak memerlukan bukti dan keterangan lagi.
Sekarang marilah kita mencoba mengetahui sebab-sebabnya dan cara-caranya, agar kita dapat menggunakan sebab-sebab itu sekarang ini.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa Allah menghendaki bahwa Muhammad ibn Abdullah itu menang. Allah menghendaki bahwa agama yang lurus ini berkuasa. Tetapi Allah tidak mau kalau kemenangan itu diperoleh dengan gampang saja. Allah tidak ingin menjadikan kemenangan itu suatu mukjizat di mana tidaklah terlibat usaha manusia dan alat. Tetapi Allah menghendaki bahwa kemenangan itu berupa hasil yang wajar dari usaha dan perjuangan Rasulullah s.a.w.. Merupakan konsekuensi logis dari pengorbanan beliau dan pengorbanan para sahabatnya.

Bagi orang yang ingin mengetahui bagaimana kemenangan Rasul, dan bagaimana kemenangan Islam, maka ia hendaklah mempelajari pribadi, tingkah laku, sejarah dan perjuangan Rasul. Dengan begitu ia akan tahu bahwa jalan kemenangan itu jelas tanda-tandanya. Cara-caranya terdapat lengkap. Sebab-sebabnya jelas. Siapa yang ingin untuk mencapai kemenangan di masa manapun dan di tempat manapun, dapat menjadikan suri teladan pada diri Rasul s.a.w. itu sendiri.,
Muhammad ibn Abdullah telah menang. Kemenangannya itu mempunyai tiga unsur, di mana tersimpan seluruh persyaratan-persyaratannya.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, ketika para pemimpin Quraisy datang kepada pamannya Abu Thalib untuk bertukar pendapat. Mereka meminta kepadanya untuk menawarkan kepada keponakannya, yang agamanya telah menggelisahkan mereka, mengacaukan adat kebiasaan mereka dan menggoncang dasar-dasar kepercayaan mereka. Mereka meminta agar Muhammad diam tentang mereka, tentang agama mereka. Untuk itu Muhammad boleh meminta apa yang dikehendakinya. Kalau mau uang akan diberi. Kalau mau kekuasaan akan diberi kekuasaan. Ia boleh memperlakukan mereka sekehendak hatinya.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, ketika ia mengucapkan di telinga mereka dan di telinga zaman, perkataannya yang abadi, yang timbul dari sumber-sumber keimanan:
“Demi Allah, hai pamanku! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, dengan maksud agar meninggalkan persoalan ini, saya tidak akan melakukannya, sampai Allah menjelaskannya atau saya hancur dalam melaksanakannya.”(Al-Hadith)

Ya Allah! Demikian hebatnya sampai menggoncangkan badan. Alangkah hebatnya gambaran alam semesta yang agung. Jika mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku. Bayangkan seperti ini terambil hati nurani alam semesta itu sendiri, bukan dari khayalan seorang manusia. Gambaran seperti ini adalah gambaran yang ditimbulkan keimanan yang mutlak dari lubuk dasar perasaan.

Semenjak dari saat itu, Muhammad ibn Abdullah telah menang. Ia telah menggoncang perasaan Quraisy dengan goncangan yang menjadikannya tidak dapat tegak dengan kukuh kembali. Itulah keimanan, kekuatan yang tidak dapat dikalahkan oleh apa saja di atas bumi, bila ia kalau telah tertanam dalam perasaan seorang manusia.

Muhammad ibn Abdullah telah menang ketika ia telah berhasil menjadikan para sahabatnya r.a. gambaran hidup dari keimanannya, yaitu makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Ia telah menang semenjak dari hari di mana ia telah membentuk masing-masing sahabatnya itu menjadi sebuah al-Qur’an hidup yang berjalan di atas permukaan bumi. Ia telah menang mulai dari hari ia menjadikan setiap pribadi menjadi contoh yang melambangkan Islam. Orang melihat kepadanya dan orang melihat Islam itu sendiri.

Teks-teks agama saja tidak dapat membuat sesuatu. Buku al-Qur’an tidak dapat bertindak untuk membentuk seorang laki-laki. Prinsip-prinsip saja tidak akan hidup, sampai ia berbentuk tingkah laku.

Karena itu Muhammad telah menjadikan sebagai tujuannya yang pertama adalah membentuk laki-laki, bukan memberikan pidato-pidato, membentuk hati nurani dan bukan menyusun pidato-pidato, membentuk suatu umat, bukan mengadakan suatu filsafat. Gagasan itu sendiri telah dijamin oleh al-Qur’an yang mulia. Tugas Muhammad s.a.w. bukanlah untuk mengubah gagasan saja menjadi orang-orang yang dapat diraba tangan dan dilihat mata.

Tatkala orang-orang ini telah berjalan di dunia bagian Barat dan di dunia bahagian Timur, pada diri mereka itu orang melihat budi pekerti baru yang belum pernah dialami umat manusia, karena mereka itu merupakan terjemahan hidup dari suatu gagasan yang belum pernah dialami umat manusia sebelumnya. Di waktu itulah manusia mulai percaya kepada gagasan itu, karena ia percaya kepada laki-laki yang melambangkan gagasan itu. Mereka maju ke depan merealisasikan gagasan itu dalam diri mereka dengan mengikuti contoh yang telah ada, dan mereka menempuh jalan yang sama.
Gagasan saja tidak dapat hidup. Walaupun ia hidup, ia tidak akan dapat mendorong manusia satu langkahpun ke depan. Setiap gagasan yang hidup akan terlambang dalam diri seorang manusia yang hidup. Tiap gagasan yang berkarya dapat berubah menjadi suatu gerakan kemanusiaan.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, mulai dari hari di mana gagasan Islam itu membentuk pribadi-pribadi, keimanan mereka kepada Islam telah berubah menjadi amal perbuatan, dan dicetak dalam buku-buku berpuluh-puluh buah, lalu beratus-ratus, kemudian beribu-ribu. Tetapi bukan dicetak dalam bentuk tinta di atas kertas. Ia dicetak dengan cahaya di atas lembaran kalbu. Lalu dilepaskannya agar lembaran-lembaran itu dapat bergaul dengan manusia, memberi dan mengambil dari manusia, dan ia mengatakan dengan perbuatan dan amal, apa itu Islam yang telah dibawa Muhammad ibn Abdullah dari sisi Allah.

Dan akhirnya, Muhammad ibn Abdullah telah menang, pada saat ia menjadikan hukum Islam itu suatu sistem yang mengatur kehidupan, yang mengendalikan masyarakat, dan mengatur hubungan antara manusia, dan menguasai baik nasib manusia maupun benda-benda.

Islam adalah suatu kepercayaan yang menimbulkan hukum. Di atas hukum itu berdiri sistem. Dari aqidah, hukum dan sistem terbentuklah pohon Islam. Sebagaimana halnya dengan setiap pohon kayu, maka dia terdiri dari akar, batang dan buah.

Buah dan batang tidak akan ada tanpa akar yang menghunjam di dalam bumi. Akar tidak ada gunanya tanpa batang. Dan batang tidak akan ada gunanya kalau tidak menghasilkan buah untuk dimakan, untuk kepentingan kehidupan.
Karena itu Islam merasa perlu agar supaya hukum itu menjadi peraturan kehidupan: “Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang ingkar.”

Karena itu, mitos yang mengatakan bahwa agama dan negara adalah dua hal yang terpisah, tidak terdapat dalam Islam. Negara tidak bisa ada tanpa agama, dan agama tidak bisa ada tanpa hukum dan sistem.

Dari semenjak hari pertama didirikannya negara Islam, maka hukum Islamlah yang memerintah negara ini. Dan orang yang mengeluarkan hukum Islam itulah yang melaksanakan pemerintahannya.

Negara Islam itu telah dimulai semenjak kaum Muslimin itu baru berupa sekumpulan kecil manusia, yang sanggup mempertahankan diri terhadap permusuhan, dan sanggup pula memelihara diri terhadap godaan untuk menyeleweng dari agama Allah, dan bahwa mereka berkumpul dalam sebidang tanah yang dilindungi oleh bendera Islam.

Ketika itulah Islam berubah menjadi suatu sistem kemasyarakatan yang mengatur hubungan antara kaum Muslimin. Ia berubah menjadi suatu sistem sejagat di mana atas dasarnya orang Islam bergaul dengan orangorang lain.

Kemudian Islam merembes ke segenap penjuru dunia, dan ke manapun ia sampai, ia selalu membawa aqidahnya, hukumnya dan sistemnya. Siapa yang ingin memeluk aqidahnya boleh masuk Islam. Siapa yang tidak mahu masuk, maka: “Tidak ada paksaan dalam agama,” tetapi hukum dan sistem Islam selalu melindungi setiap bumi yang dimasukinya. Manusia mendapati di dalamnya suatu bentuk keadilan yang belum pernah dikenal umat manusia sebelumnya. Orang menjumpai di dalamnya kebajikan yang belum pernah dirasakan umat manusia sebelumnya. Ketika itu masuklah orang ke dalam agama Allah beramai-ramai dan ketika itu terwujudlah janji Allah yang telah diberikannya kepada rasulNya:
“Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu, dan meminta ampunlah kepadanya. Ia sesungguhnya amat menerima taubat.”(An-Nasr: 1-3)

Islam menang kerana aqidah kepercayaannya telah diterjemahkan menjadi hukum. Dan hukum ini mengadakan suatu sistem yang menggoncangkan perasaan manusia, dan memberikan ketenteraman kepada hati seluruh penduduk bumi.
Ketika itulah Muhammad ibn Abdullah menang. Karena ia telah melaksanakan hukum Allah sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.

Itulah yang menjadi unsur-unsur kemenangan abadi dalam hati nurani alam semesta itu, yang akarnya terhujam dalam kehidupan.

Itulah yang dikumandangkan oleh jutaan suara di dunia belahan Barat dan di dunia belahan Timur. Itulah yang didendangkan oleh jutaan bibir manusia.

Unsur-unsur ini adalah unsur-unsur yang alami, logis dan realistis. Unsur-unsur ini dimiliki oleh kita kaum Muslimin ini, di setiap generasi dan di setiap masa. Unsur-unsur ini ada di dalam tangan kita, yang dapat kita coba dan kita usahakan. Dengan unsur-unsur itu, kita dapat sampai kepada kemenangan, yang telah dijanjikan Tuhan bagi setiap orang yang menolongnya:

“Dan sungguh pasti Allah akan menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah kuat dan berkuasa. Mereka yang kalau kami beri kekuasaan di atas dunia, mereka mendirikan solat, membayarkan zakat, menyuruh melakukan kebaikan dan melarang mengerjakan kejahatan. Dan kepada Tuhanlah kembalinya akibat segala sesuatunya.”(Al-Hajj: 40-41)
Maha benar Allah Yang Maha Agung. (dikedaikopi.net)

Advertisements

2 Responses to “KEMENANGAN MUHAMMAD IBN ‘ABDULLAH”

  1. ciyeee agham…
    itu nma pnjg kk bkn??
    bru tw nh ratih…

  2. baru tau y ? Iya itu nama bapak saya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: