Canda Generasi Terbaik

Sinai Online: Detik demi detik berlalu, hari-hari dalam kehidupan selalu berjalan. Kebaikan dalam saat-saat yang mahal itu adalah seperti yang dungkapkan oleh Sa’îd bin Abdul Aziz: “Tiada kebaikan dalam hidup ini melainkan diamnya orang yang sadar (ingat kepada Allah) dan bicaranya orang yang berilmu.”

Waktu dalam kehidupan seorang muslim adalah kesempatan untuk berbuat baik, membahagiakan dan meringankan beban sahabat-sahabatnya. Senda gurau dan canda memiliki waktu, syarat dan batasan yang masuk akal sehingga tidak berlebihan di dalamnya. Karena Islam tidak memerlukan orang-orang yang gemar bercanda dan bermain. Sebaliknya Islam membutuhkan orang-orang serius dan sungguh-sunguh yang menggunakan waktunya dalam menuntut ilmu, berdakwah, berjihad, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Adapun orang yang gemar bercanda sesungguhnya ia telah berbuat buruk terhadap diri dan agamanya. Orang yang mencintai sunnah Rasulullah Saw., hanya menyisakan sedikit saja waktunya untuk bersenda gurau. Sesungguhnya merupakan kesalahan yang besar menjadikan lawak sebagai profesi yang dilakukan secara terus menerus dan berlebihan dengan beralasan pada perbutan Rasulullah Saw.. Hal ini tidak jauh beda dengan orang yang menghabiskan waktunya sepanjang hari dengan menonton tari-tarian dengan beralasan bahwa Rasulullah Saw. mengizinkan Aisyah menonton permainan orang-orang zanûj (sejenis orang Negro) pada suatu hari raya.

Dari Ahnaf bin Qais ia berkata, Umar bin Abdil Aziz berkata kepadaku: “Wahai Ahnaf, orang yang banyak tertawa sedikit wibawanya, orang yang banyak bercanda ia akan diremehkan karenanya, orang yang gemar melakukan sesuatu akan terkenal dengannya, orang yang banyak berbicara pasti banyak kesalahannya dan sedikit rasa malunya, barang siapa yang sedikit rasa malunya sedikit pula sifat wara’nya (sifat menjauhi maksiat, sybuhat dan mubâhât—perkara-perkara yang dibolehkan—yang berlebihan), dan barang siapa yang sedikit sifat wara’nya maka matilah hatinya.”

Sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh dalam amalnya dan khawatir terhadap masa depan yang akan dihadapinya, tentunya berada dalam keadaan yang jauh dari canda dan main-main. Ia adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Musa bin Ismail: “Kalau aku berkata kepada kalian bahwa aku sama sekali tidak pernah melihat Hammâd bin Salamah tertawa maka aku telah jujur kepada kalian. Ia selalu disibukkan oleh dirinya, baik untuk menyampaikan hadis, membaca, bertasbih atau shalat, ia telah membagi harinya untuk amalan-amalan sepreti itu.”

Hal ini karena mereka selalu khawatir terhadap masa depannya setelah mati, takut mengalami prahara hari kiamat di mana badan akan bergetar hebat ketika melihatnya. Abdullah bin Abu Ya’la pernah berkata: “Mengapa engkau tertawa, padahal mungkin saja kain kafanmu telah keluar dari tukang pemutih kain (ajalmu sudah dekat).” Diceritakan dari sebagian orang shalih, suatu ketika ia (Abdullah bin Abu Ya’la) melihat seorang lelaki yang sedang tertawa lebar. Kemudian ia menegur orang itu: “Apa-apaan ini, apakah kamu pernah merasakan kamatian? Orang itu menjawab: “Tidak”. Ia bertanya lagi: “Apakah (engkau mengetahui) timbangan kebaikanmu telah lebih berat?” “Tidak,” jawab orang itu. Ia bertanya lagi: “Apakah kamu telah berhasil menyebrangi titian Shirat? “Tidak,” katanya. Kemudian Abdullah berkata: “Lantas untuk apa semua tawa dan senang-senang ini?” Orang itu kemudian menangis dan berkata: “Aku berjanji kepada Allah untuk tidak tertawa lagi setelah ini untuk selamanya.”

Sungguh menkjubkan! Cepat sekali ia tersadar dari kelengahannya dan bangun dari jatuhannya. Entah apa yang terjadi kalau saja ia mendengar tertawaan-tertawaan di perkumpulan-perkumpulan zaman sekarang, senda gurau orang-orang yang tidak punya pekerjaan, dan kesalahan-kesalahan orang yang banyak bicara. Apakah sebagian orang sekarang yang tenggelam dalam kelengahan, gelamor duniawi dan gemar berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat tidak merasa malu ketika melihat sehari saja dari hari-harnya Wakî’ bin Jarrâh. Sungguh ia tidak akan beranjak ke tempat tidur sebelum habis membaca sepertiga al-Quran, kemudian bangun di akhir malam dan membaca al-mufashshal (surat-saurat pendek seperti pada juz ‘Amma), kemudian duduk dan beristigfar sampai terbit waktu fajar kemudian shalat dua rakaat (sebelum subuh).

Saudaraku! Dimanakah posisi kita dibanding orang-orang itu? Al-Hârits al-Ghanawy berkata: “Rib’iy bin Hirâsy bersumpah untuk tidak tertawa sampai ia mengetahui posisinya apakah di surga atau neraka.” Al-Hârits juga berkata: “Orang-orang yang memandikan jenazahnya mengabarkan kepadaku bahwasanya ketika mereka memandikannya, ia terus-menerus tersenyum di atas ranjangnya sampai mereka selesai memandikannya.” Semoga Allah mengasihani kelemahan, sikap berlebihan dan panjangnya kelalaian kita. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ismail bin Abdullah: “Wahai Ismail, berapakah umurmu sekarang? Ismail menjawab: “Enam puluh tahun lebih beberapa bulan.” Umar berkata: “Wahai Ismail, jauhilah olehmu senda gurau.”

Wahai saudaraku:


إِذَا مَا أَتَتْكَ الْأَرْبَعُوْنَ فَعِنْدَهَا فَاخْشَ الْإِلَهَ وَكُنْ لِلْمَوْتِ حَذِرًا

Apabila empat puluh tahun telah mendatangimu maka ketika itu
Takutlah kepada Tuhan dan berhati-hatilah dengan kematian

Al-Fudhail bin ‘Iyâdh berkata: “Diriwayatkan kepadaku bahwa suatu hari Thalhah bin Musharrif tertawa, kemudian ia tersadar dan berkata pada dirinya, ‘Apakah yang engkau tertawakan? Sesungguhnya orang yang (berhak) tertawa adalah yang telah melewati segala rintangan dan menyebrangi titian Shirat’.”
Dari Sa’îd bin Sâlim al-Qaddâh, ia berkata: “Aku pernah mendengar Abdul Aziz bin Abi Rawwâd berkata kepada seseorang, ‘Barang siapa yang tidak merasa diperingati oleh tiga hal maka tidak ada yang dapat memperingatkannya lagi: Islam, Quran dan uban’.”

Barang siapa yang memperhatikan silih bergantinya hari dan cepatnya berlalu, serta kematian yang datang secara tiba-tiba, maka ia akan berfikir bagaimana mungkin ia akan menikmati suatu nikmat dengan nyaman atau menenangkan jiwanya dengan lelucon dan permainan, karena hisab dan balasan yang berat pasti akan datang.

Saudaraku…
Kita telah mendengar kisah-kisah teladan tentang mereka dan dapat melihat betapa besar kesungguhan mereka. Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, apakah kita akan meninggalkan senyuman, canda dan permainan bersama sahabat dan orang-orang yang kita cintai?

Imam adz-Dzahabi berkata: “Tertawa kecil dan senyum lebih diutamakan.
Meninggalkan hal ini menurut ulama ada dua macam: pertama, utama bagi yang meninggalkannya sebagai bentuk adab dan takut kepada Allah serta sedih terhadap (keadaan) dirinya yang memprihatinkan. Kedua, tercela bagi yang melakukannya karena kebodohan, kesombongan atau dibuat-buat seperti halnya orang yang banyak tertawa akan diremehkan dengannya. Tidak diragukan lagi bahwa tertawa di masa muda lebih ringan dan dimaklumi dari pada di masa tua.

Adapun senyuman dan wajah yang cerah lebih utama dari kedua hal tersebut. Rasulullah Saw. bersabda:


تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda:

لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَلْيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْن الْخُلُق

“Kalaian tidak akan sanggup (memenuhi hajat) manusia dengan hartamu, maka kamu akan memenuhi hal itu dengan wajah yang cerah dan akhlak yang baik dari kalian.” (HR. Hakim dan Bazzar)

Namun kedudukan yang tetinggi semua itu adalah orang yang ahli menangis di malam hari dan selalu tersenyum di siang hari. Jarir ra berkata:


مَا رَآنِى رَسُوْلُ اللهٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسَّمَ

“Tidak pernah Rasulullah Saw. melihat kepadaku kecuali dalam keadaan tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tetapi siapa yang tidak tahu bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang nabi yang wajib shalat malam, dan beliau selalu menangis dan mengeluh kepada Rabb-nya.

Oleh karena itu Seyogyanya bagi orang yang suka tertawa agar mengurangi hal itu dan mencela dirinya karenanya. Dan seharusnya bagi orang yang selalu bermuka masam agar tersenyum dan menjadikan mukanya berseri serta memurkai dirinya yang memiliki akhlak yang tidak mulia. Segala sesuatu yang melenceng dari i’tidaâl (keadilan, kelurusan dan keseimbangan) adalah tercela, maka setiap diri hendaknya selalu ber-mujâhadah (berjuang melawan nafsu) dan berlatih.

(Dikutip dari buku Rufaqa’ fit Tharîq karya: Abdul Malik bin Muhammad al-Qâsim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: