Archive for September, 2008

Al-Imam Al-Qaradhawi dan Tawadhu’ Ulama

Posted in TOKOH on September 10, 2008 by hufaizh

29 Nopember 07 – oleh : Shalah Abdul Maqshud: Direktur

Syekh Al-Qaradhawi memberikan sebuah pelajaran penting bagi para ulama dan pendakwah di masa sekarang. Dalam sebuah pertemuan dengan murid-muridnya di Ibukota Qatar pada 14-16 Juli lalu, beliau berkata, “Demi Allah saya bukan seorang pemimpin. Saya juga bukan seorang Imam. Saya hanyalah seorang tentara dari sekian banyak tentara Islam. Dan, saya hanyalah seorang tilmîz (murid). Saya akan senantiasa menjadi tilmîz dan menuntut ilmu hingga akhir perjalanan hidup.”

Ini merupakan ungkapan salah seorang ulama besar di zaman ini. Beliau adalah dai yang mampu memadukan antara salafiah dan pembaruan; konsep dasar dan pengembangannya; konsep dan realita; fikrah dan gerakan; serta fokus terhadap Fiqh Al-Sunan, Fiqh Al-Maqasid, dan Fiqh Awlawiyat. Sehingga beliau mampu menyeimbangkan antara Tsawâbit Al-Islâm (hal yang tidak bisa berubah dalam Islam) dan Mutaghaiyirât Al-‘Ashri (hal yang bisa berubah).

Beliau menulis lebih dari 80 buku yang memenuhi perpustakaan di berbagai belahan dunia Islam. Buku-buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang tersebar di berbagai negara. Sebagian bukunya dicetak ulang sebanyak sepuluh kali. Seiring dengan itu, beliau masih menganggap dirinya sebagai penuntut ilmu, dan bukan seorang ‘âlim maupun imam. Beliau mengungkapakan, “Saya masih membutuhkan orang-orang yang memberi tambahan ilmu. Atau berbagi pengalaman yang bermanfaat; seperti yang dikatakan burung Hud Hud kepada Nabi Sulaiman, “Saya datang kepadamu dengan membawa sebuah berita besar…(Al-Namlu: 22).”

Ulama besar ini bersikap terbuka terhadap berbagai hal baru yang bermanfaat. Seperti dalam bidang tekhnologi, beliau termasuk pendakwah pertama yang fokus terhadap internet, sehingga beliau menggagas berbagai situs-situs Islami. Selain itu, beliau juga menggunakan berbagai sarana dakwah lainnya, seperti koran, majalah, televisi, radio, dan sebagainya.

Selain itu, Al-Imam Al-Qaradhawi menyeimbangkan antara ilmu dan amal. Beliau adalah ulama rabbani yang tidak meninggalkan lapangan nyata. Bahkan beliau bergerak di garda terdepan. Misalnya, beliau memimpin Lembaga Al-Quds Internasional (Al-Quds Al-Dauliyah) yang bekerja untuk membantu masyarakat Palestina. Khususnya turut membantu menyelesaikan permasalahan Al-Quds dan masyarakat Palestina yang terjajah.

Di samping itu, beliau juga memimpin Persatuan Ulama Internasional (Al-Ittihâd Al-‘Alami Li Al-Ulamâ Al-Muslimîn). Lembaga ini bertujuan untuk menyatukan fikrah ulama dan tidak terjerumus dalam perpecahan; menguatkan barisan ulama dan menjauhkan kelemahan. Beliau juga memimpin Muktamar Al-Qaumi Al-Islami yang di antara tujuannya adalah menjauhkan perpecahan umat, menghadapi penjajahan, kesewenang-wenangan yang merugikan umat Islam, dan sebagainya.

Beliau juga memimpin Majlis Eropa untuk berdakwah dan berfatwa. Sehingga beliau mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari berbagai solusi terhadap permasalahan Islam yang terjadi di Barat.

Oleh karena itu, sungguh para dai di zaman ini perlu memperhatikan perjalanan dakwah imam ini. Mempelajari kesungguhannya dalam berdakwah dan pergerakan Islam.

Tawadhu’, lapang dada, terbuka terhadap khilâfiyah, toleransi, menolak fanatisme, dan berilmu tinggi merupakan sifat yang melekat pada Syekh Al-Qaradawi. Sehingga dengan sifat-sifat itu, dakwah beliau mudah diterima dan berpengaruh kuat. (Rsl/Myj)

Sumber : sinaimesir.com

Syaikh Farghali dan Jihad di Palestina

Posted in TOKOH on September 10, 2008 by hufaizh

Syaikh Farghali seorang da’i, pejuang Islam yang tegas, low profile, tawadhu’, sangat benci terhadap musuh-musuh Islam dan antek-anteknya.

Nama lengkapnya Muhammad Farghali, lahir di Ismailiyah, Mesir pada tahun 1326 H/1906 M. Beliau tumbuh dan dibesarkan dalam didikan Jam’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin yang dipimpin Imam Hasan Al-Banna.

Pada tahun 1948, Imam Hasan Al-Banna mengumumkan jihad ke Palestina dalam rangka menyelamatkan negeri para nabi, kiblat umat Islam pertama, tempat berdirinya masjid Al-Aqsha, dari kaum penjajah. Syaikh Farghali dan pasukan Al-Ikhwan Al-Muslimin yang berjumlah lebih dari 10.000 orang berhasil menerobos masuk wilayah Palestina untuk membantu saudara seiman mereka yang sedang berjuang melawan tentara Zionis Israel, walaupun pada saat itu pemerintahan Nuqrasyi dan tentara Inggris memperketat pintu perbatasan.

Dimedan Jihad Palestina, Syaikh Farghali tidak hanya memberikan semangat dan motivasi berjuang kepada pasukan mujahidin dari Jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin, tetapi beliau juga memberikan contoh berjuang yang gigih, dilakukan dengan sepenuh hati, niat ikhlas dalam rangka mencari ridha Allah, mengharapkan mati di jalan-NYa.

Di antara operasi heroik yang dilakukan Syaikh Farghali adalah ketika beliau dengan delapan orang pasukannya, dengan kecerdikan dan kewaspadaan yang tinggi dapat memasuki kamp militer Yahudi sebelum waktu subuh. Setelah berhasil menyelinap dan memasuki kamp Zionis Yahudi, Syaikh mencari tempat yang tertinggi, di tempat tersebut beliau mengumandangkan adzan, membesarkan nama Allah, Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Mendengar suara adzan dikumandangkan oleh Syaikh Farghali, tentara Zionis Yahudi terkejut dan sangat takut, mereka menganggap sudah terkepung, sehingga tentara Zionis tersebut lari tunggang langgang dan meninggalkan apa saja yang ada di kamp, sehingga dengan izin Allah kamp tentara Zionis Yahudi dapat direbut secara utuh oleh para mujahidin yang dipimpin Syaikh Farghali, kemudian diserahkan kepada pasukan Mesir.

Jiwa pejuang tetap melekat dalam diri Syaikh Farghali hingga akhir hayatnya, beliau sangat benci kepada kaki tangan penjajah, bahkan pernah menjuluki antek-antek penjajah dengan “budak materi”, “budak hawa nafsu”, “budak syahwat” dan “syubhat”. Beliau tidak takut kepada siapa pun apalagi kepada penjajah dan antek-anteknya, beliau hanya takut kepada yang menciptakan dirinya dan alam semesta yaitu Allah Rabbal’alamin.

Akhirnya, Syaikh Farghali bersama lima orang sahabatnya, Mahmud Abdul Lathif, Yusuf Thala’at, Hindawi Duwair, Ibrahim Ath Thayyib dan Abdul Qadir Audah, dihukum gantung pada hari Jum’at, 7 Desember 1954 akibat pengkhianatan kawannya yang cinta kedudukan dan kekuasaan, Jamal Abdun Nashir. Padahal Jamal Abdun Nashir telah berjanji setia untuk berjuang bersama jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimin untuk menegakkan Islam di muka bumi ini, membantu saudara-saudaranya yang dizalimi oleh musuh- musuh Allah. Akan tetapi dia tidak tahan dengan godaan jabatan dan fitnah dunia, sehingga sampai hati dia gantung saudaranya dalam satu jama’ah, seorang ulama dan pejuang Palestina yang telah berkorban dengan harta dan jiwanya.

Ketika akan dieksekusi, Syaikh Farghali berdiri di depan tiang gantungan dengan teguh dan tegar. Ia tersenyum dan nampak bahagia karena akan menemui Al-Khalik, sambil mengulang-ulang perkataan saudaranya yang lebih dulu syahid, Saya ingin segera menemui-Mu, Wahai Rabbi, agar Engkau ridha.”

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).(QS: Al-Ahzab/33: 23)

Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.(QS: Muhammad/47: 4)

Semoga Allah memasukkan Syaikh Muhammad Farghali dan mereka yang dieksekusi di tiang gantung bersamanya ke dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat, yaitu para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang shaleh. Amin. (H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA)

sumber : eramuslim

Silaturrahim dengan Dubes RI untuk Arab Saudi

Posted in SILATURRAHIM on September 9, 2008 by hufaizh
Kirim

Dr. Salim Segaf Al Jufri (dakwatuna.com)dakwatuna.com – Beberapa waktu yang lalu, kami dari tim dakwatuna.com mendapat kesempatan untuk bersilaturrahim, bermuwajahah – tatap muka – dengan Dubes RI untuk Arab Saudi, Dr. Salim Segaf Al Jufri.

Sosok yang murah senyum dan akrab itu, boleh jadi tidak pernah bermimpi menjadi Dubes, karena beliau lebih banyak terjun di dunia pendidikan, sebagai dosen ketika itu. Namun, takdir mengharuskan lain, beliau harus meninggalkan dunia kampus (mungkin untuk sementara waktu) dan menekuni dunia “Baru”, dunia diplomasi.

Beliau menghabiskan kuliah S1 sampai S3 di Arab Saudi. Inilah yang menjadi bekalan dan modal dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan, lobi, diplomasi dan lainnya.

Tercatat beliau termasuk Dubes yang berprestasi. Salah satunya, beliau bisa menghadirkan Raja Arab Saudi, ke lobbi Bandara King Abdul Aziz, untuk menyambut Presiden RI, saat berkunjung ke sana. Sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah raja-raja Arab. Ternyata, dengan peristiwa itu, kepala negara atau pimpinan-pimpinan Timur Tengah melakukan hal yang sama. Lebih menghormati. Indonesia lebih dihargai.

Tentu banyak cerita dan prestasi lain yang beliau buktikan.

Dalam kesempatan silaturrahim itu beliau memberikan banyak taushiyah kepada kita. Di antaranya:

Pentingnya sikap optimisme dalam menjalani hidup. Sikap optimisme itu diwujudkan dalam berkarya. Beliau memberi contoh, seorang syaikh – yang berarti sudah berumur atau kakek-kakek -, menanam pohon Zaitun. Pohon zaitun akan berbuah setelah kira-kira dua puluh lima tahun. Ketika ia ditanya, mengapa ia cepek-capek menanam pohon yang ia sendiri tidak akan mungkin memakan buahnya. Dengan mantap ia menjawab, bukankah kita sekarang ini makan buah Zaitun berkat pohon yang ditanam oleh kakek-kakek kita terdahulu? Begitu juga dengan kita sekarang, sekarang kita menanam untuk generasi yang akan datang.

Kalau dalam bahasa Rasulullah saw. “Tanamlah pohon yang berada di tangan Anda, meskipun besuk terjadi hari Kiamat.” Ungkapan yang mendalam sekali, mendorong setiap kita untuk berbuat, berkarya dan memberi yang terbaik untuk orang lain, dalam setiap kesempatan, meskipun kehidupan besok binasa.

Sikap optimisme akan diraih juga dengan do’a. Do’a seorang muslim kepada saudaranya, bahkan kepada saudara jauh tanpa sepengetahuannya, akan dikabulkan. “Do’amu terhadap saudaramu tanpa sepengetahuannya langsung dikabulkan, dan bagimu kebaikan do’a yang sama.”

Termasuk do’a dan restu orang tua, akan menguatkan sikap optimisme. “Do’a yang makbul di antaranya adalah do’a orang tua kepada anaknya.”

Orang tua, terutama ibu memiliki hubungan khusus dengan anak-anaknya, oleh karena itu, anak-anak hendaknya memperhatikan keduanya dan melaksanakan birrul walidain. Beliau mencontohkan, seorang suami itu milik ibunya, yang berkewajiban memperhatikan ibunya. Melakukan komunikasi, silaturrahim, mendo’akannya, membantunya. Bahkan terhadap kedua orang tua yang sudah meninggal sekalipun, dengan cara misalnya, memberi hadiah kepada orang yang menjadi sahabat mereka ketika masih hidup, atau terhadap keluarganya.

Itulah di antara taushiyah yang beliau sampaikan. Semoga bermanfaat. Allahu a’lam. (ut