Archive for the ALWI ALATAS Category

Penaklukkan Islam ke Barat

Posted in ALWI ALATAS on June 19, 2007 by hufaizh

Kemunculan Islam di Hijaz merupakan sebuah peristiwa yang seharusnya disyukuri oleh umat manusia dimanapun di dunia, baik Muslim maupun non-Muslim. Mengapa demikian? Karena Islam muncul sebagai penyelamat peradaban (civilizational savior) dari keadaannya yang paling kritis dalam perjalanan sejarah kemanusiaan. Sebagaimana diakui oleh Joseph McCabe dalam bukunya The Splendour of the Moorish Spain, ”Adalah layak untuk dihargai bahwa orang-orang Arab [Muslim, pen.] memasuki arena pada periode paling penuh keputusasaan yang pernah dirasakan dunia sejak fajar peradabannya, yaitu pada paruh pertama abad ke tujuh. Sekiranya ada seorang pemikir filsafat di mana pun di bumi ini pada awal abad tersebut, ia tentu akan mengumumkan bahwa kisah perjalanan panjang upaya manusia untuk menciptakan peradaban telah berakhir dengan kegagalan.”

Kondisi yang buruk di berbagai wilayah serta sikap memerangi bangsa-bangsa besar seperti Romawi dan Persia telah memotivasi kaum Muslimin untuk membuka dan membebaskan berbagai wilayah dari cengkeraman imperium Barat dan Timur. Laju pembebasan (futuhat) berlangsung sangat cepat. Tulisan ini akan memberikan deskripsi ringkas tentang proses penaklukkan Islam ke arah Barat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw. (632) dan Abu Bakr al-Shiddiq ra. (634), kekhalifahan Islam dipimpin oleh Umar ibn al-Khattab ra. (634-644). Pada periode ini proses penaklukkan berlangsung sangat cepat ke Timur dan ke Barat. Satu persatu wilayah Arab Utara jatuh ke tangan kaum Muslimin: Syria (636) dan kemudian Palestina (638). Wilayah Iraq juga takluk pada masa yang hampir bersamaan. Semua wilayah ini sebelumnya berada di bawah imperium Romawi (Byzantium) dan Persia. Sebagai tempat menetap baru pasukan Islam, untuk lebih menyesuaikan dengan karakter geografis mereka sebelumnya, maka dibangunlah dua buah kota baru (misr), yaitu Basrah dan Kuffah (636). Kota-kota militer ini biasanya dirancang dengan posisi masjid di tengah-tengah, kemudian pusat komando pasukan, lalu di sekelilingnya dibangun rumah-rumah anggota pasukan berdasarkan asal suku mereka (karena perekrutan tentara pada masa itu berdasarkan suku/ kabilah). Maka tidak mengherankan kalau nama-nama jalan dan lokasi (quarter) di kota-kota tersebut juga mengambil nama-nama suku/ kabilah yang menempatinya.

Pasukan Islam kini mulai bergerak ke arah Mesir di bawah pimpinan ’Amr ibn al-’Ash dan berhasil menaklukkan negeri itu pada tahun 641, kecuali Aleksandria yang baru takluk satu tahun setelahnya. Pada tahun yang sama dibangun kota militer (misr) baru bernama al-Fustat yang nantinya berkembang menjadi Kairo. Penduduk Mesir dengan cepat beradaptasi dengan pemimpin mereka yang baru dan banyak yang kemudian memeluk agama Islam. Pada tahun 642, penaklukkan dilanjutkan dan kota Barqa di Cyrenaica (Libya) berhasil dikuasai.

Pembagian dan nama-nama wilayah Arfrika Utara ketika itu ketika itu tidak sama dengan sekarang. Libya masih terbagi dua: Tripolitania dan Cyrenaica. Tunisia lebih dikenal sebagai Carthage. Orang-Orang Arab kemudian menyebut seluruh wilayah ini sebagai Ifriqiya. Sementara itu Aljazair Barat dan Maroko Timur dikenal sebagai Maghrib al-Awsath (Barat Tengah/ Middle West) dan Maroko Barat disebut sebagai Maghrib al-Aqsha (Barat Jauh/ Far West). Bagian Utara dari wilayah-wilayah ini dikuasai oleh Byzantium yang beragama Kisten Orthodoks, sementara bagian pedalamannya dihuni oleh suku-suku Berber yang masih menganut paganisme (ada juga yang menganut agama Kristen dan Yahudi). Proses penaklukkan ke wilayah-wilayah ini berjalan lambat karena pada akhir masa kekhalifahan Uthman ibn Affan (644-656) dan ’Ali ibn Abi Thalib (656-661) terjadi perang sipil yang berkepanjangan. Kekhalifahan Islam kemudian berganti menjadi Kerajaan di bawah Dinasti Bani Umayyah (661-750).

Pada masa-masa selanjutnya, ada beberapa pimpinan pasukan Muslim yang akan terlalu panjang jika disebutkan satu persatu di tempat ini. Salah satu tokoh yang cukup menonjol adalah ’Uqbah ibn Nafi’. Ia dan pasukannya melanjutkan proses penaklukkan ke Barat dan sebagai sebuah strategi. Ia membangun kota baru bernama Qayrawan antara tahun 670 dan 675 sebagai ibu kota Ifriqiya. ’Uqba dan pasukannya kemudian melakukan serangan kilat ke arah Barat, memaksa kaum Berber berlindung ke pedalaman, hingga tiba di tepi Samudera Atlantik. Di tepian Atlantik ia berseru, ”Allahu Akbar! Sekiranya saya tak terhalang oleh laut ini, saya akan terus maju ke kerajaan-kerajaan Barat yang belum dikenal, menyatakan kebesaran Nama-Mu serta menundukkan bangsa-bangsa yang menyembah tuhan-tuhan selain-Mu itu.” Sayangnya penaklukkan ini tidak bersifat permanen. Dalam perjalanan pulang ke Qayrawan, ia dan pasukannya diserang oleh orang-orang Berber dan karenanya gugur sebagai syuhada.

Setelah beberapa kali terjadi pergantian kepemimpinan, pada tahun 704, Musa ibn Nusayr ditetapkan sebagai Gubernur Ifriqiya yang baru. Di bawah kepemimpinannya, Seluruh wilayah Afrika Utara berhasil ditaklukkan. Menjelang tahun 710, kota Tangiers (Tanjah) di ujung Utara Maroko berhasil dikuasai oleh kaum Muslimin. Thariq ibn Ziyad, jenderal kepercayaan Musa ibn Nusayr, diamanahkan memimpin kota ini, sementara Musa sendiri kembali ke Qayrawan.

Pada saat yang sama di Utara, Andalusia (Spanyol) yang ketika itu dikendalikan oleh bangsa Visigoth sedang mengalami kekacauan politik. Kondisi itu mengundang kaum Muslimin untuk masuk ke wilayah tersebut. Tepat setahun setalah percobaan pertama pada bulan Ramadhan tahun 710, proses penaklukkan yang sesungguhnya dimulai. Thariq ibn Ziyad dan sekitar 1200 pasukan Islam menyeberang ke Andalusia. Pasukan Visigoth berkekuatan 70.000-100.000 pasukan dipukul hancur oleh kaum Muslimin dan raja mereka, Roderick, terbunuh dalam pertempuran tersebut. Proses penaklukkan selanjutnya berlangsung sangat cepat, karena masyarakat Andalusia dan orang-orang Yahudi di sana yang tidak merasa puas dengan pemerintahan Visigoth cenderung bersikap apatis, bahkan memberikan bantuan, dalam proses penaklukkan yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Pada tahun 712, Musa dan pasukannya menyeberang ke Andalusia dan ikut menyempurnakan proses penaklukkan. Andalusia pun jatuh ke tangan kaum Muslimin yang beberapa abad kemudian mengukir sebuah peradaban yang sangat indah di sana.

Diambil dari: Sang Penakluk Andalusia oleh Alwi Alatas (Penerbit Zikrul Hakim, 2007)

ANTARA EFEK MOZART DAN EFEK MUROTTAL

Posted in ALWI ALATAS on May 15, 2007 by hufaizh

Oleh : Alwi Alatas, SS

Kehidupan ini sungguh unik, banyak hal-hal yang sudah langka dan banyak ditinggalkan orang, tiba-tiba dipasarkan ulang secara besar-besaran dan laku keras. Salah satu barang antik yang kini sedang naik daun adalah musik klasik. Selama bertahun-tahun, jenis musik ini hanya dinikmati oleh kelompok sosial tertentu yang sangat terbatas jumlahnya. Jika kita bertanya pada remaja-remaja perkotaan yang umumnya menyukai musik dan menguasai judul lagu-lagu berikut isinya, mungkin tidak satupun di antara mereka yang tahu tentang musik klasik karya-karya Mozart, Vivaldi dll. Jangankan kalangan remaja, orang-orang dewasa pun mungkin hanya tahu nama-nama pemusik klasik sekadarnya saja, adapun lagu-lagu klasiknya sendiri boleh jadi tidak pernah mereka dengar.

Namun, kini keadaannya menjadi berbeda. Musik klasik sekarang menjadi dewa yang dilahirkan kembali. Atas nama penelitian-penelitian intensif di negara-negara Barat, musik klasik dipromosikan sebagai sebuah produk seni yang tidak sekadar berefek menghibur (entertaining effect), tapi juga punya efek menunjang belajar (learning-support effect) serta efek memperkaya fikiran (enriching-mind effect).

Dalam perkembangan pendidikan terbaru saat ini, musik klasik (dengan ketukan tertentu yang selaras dengan detak jantung manusia—jadi tidak semua jenis musik klasik) menjadi sarana penting dalam belajar di ruang-ruang kelas. Buku-buku pendidikan dengan penjualan best seller international, seperti Quantum Learning, Quantum Teaching dan The learning Revolution, semuanya mempromosikan musik klasik untuk digunakan sebagai program belajar. Sebagai dampak dari ide yang kompak dan serempak ini, beberapa lembaga pendidikan saat ini sedang berlomba-lomba membunyikan musik klasik sebagai pengiring kegiatan belajar mengajar di kelas. Fenomena ini bisa kita sebut sebagai “efek promosi Quantum Learning”. Efek promosi Quantum Learning ini juga merembet ke lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah. Banyak lembaga-lembaga kursus dan pelatihan di kota-kota besar Indonesia saat ini yang memperdagangkan program-program learning skill berbasis Quantum Learning.

Lalu mengapa musik klasik? Atau bahkan mengapa musik digunakan dalam program belajar? Alasannya karena musik merupakan salah satu “makanan” penting dari otak kanan. Selama ini program belajar hanya memfungsikan otak kiri semata yang melulu bersifat linear, logis dan matematis. Penggunaan otak yang tidak seimbang ini kemudian cepat menimbulkan kelelahan dan kejenuhan bagi orang yang belajar. Otak kanan yang tidak punya kerjaan tadi kemudian berfungsi sebagai pengganggu saudaranya, otak kiri yang sedang pusing dengan rumus-rumus dan hafalan. Di sinilah fungsi musik klasik (begitu pula warna-warni dan gambar) dalam belajar. Ia memberi sebuah aktifitas bagi otak kanan sehingga ia tidak lagi mengganggu otak kiri di saat belajar.

Pengalaman penulis sendiri, pada semester terakhir di SMP (kira-kira 10 tahun yang lalu), penulis selalu ditemani musik radio saat belajar. Tentu saja musik yang didengarkan adalah musik pop, bukan musik klasik. Pada saat itu memang ada perubahan yang sangat signifikan dalam stabilitas semangat belajar serta hasilnya. Penulis yang tidak pernah mendapat ranking sepuluh besar sepanjang belajar di SMP (bahkan sejak di SD), muncul dengan NEM tertinggi di sekolah yang tentu saja membuat banyak siswa lain terkejut. Musik tentu saja bukan satu-satunya faktor sukses, tapi siapa tahu ia memang memberi pengaruh positif dalam mendukung kegiatan belajar.

Bagi kalangan muslim, hal ini tentu saja tidak sederhana, karena musik pop atau bahkan musik klasik tidak mendapatkan pembolehan dari mayoritas ulama Islam yang terpercaya karena alasan-alasan yang syar’i. Namun, pada saat ini nasyid berkembang dengan baik di berbagai belahan dunia muslim. Jadi, bagi setiap muslim, tidak perlu mendengarkan musik-musik pop yang isinya seronok dan melalaikan itu untuk meningkatkan hasil belajar, dengarkan saja nasyid Islami sebagai alternatif. Hasilnya juga tentu tidak kalah dari musik klasik.

Apa yang dibahas di atas merupakan efek pendukung belajar dari musik klasik. Musik klasik juga punya efek memperkaya fikiran. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa musik klasik yang diperdengarkan secara terpola pada janin di dalam kandungan bisa meningkatkan kecerdasan janin-janin ini kelak ketika lahir. Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan oleh Van de Carr dan Lehrer, diceritakan tentang seorang konduktor simfoni terkenal, Boris Brott, yang suatu hari merasa akrab dengan irama selo yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ketika ia menceritakan hal itu pada ibunya yang merupakan seorang pemain selo profesional, ibunya menjadi heran. Ternyata musik selo tersebut sering ia mainkan ketika Brott masih di dalam kandungannya.

Ketika membaca cerita ini, penulis tersentak dan teringat dengan banyak ulama klasik dan modern yang mempunyai prestasi-prestasi raksasa. Banyak dari para ulama ini yang sangat cerdas dan mampu menghafalkan seluruh Al-Qur’an pada usia sepuluh atau belasan tahun, sebut saja misalnya Imam Syafi’I, Hasan Al-Banna atau Sayyid Qutb. Mungkinkah ini karena bacaan Al-Qur’an orang tua mereka sangat efektif dan memberi stimulus (rangsangan) bagi akal para ulama ini sejak mereka masih di dalam kandungan? Jadi bagi setiap muslim yang memiliki keimanan di dalam hatinya ketika mendengar tentang teori-teori terbaru yang ada sekarang terkait dengan efek musik (klasik) terhadap kecerdasan janin hendaknya jangan terlalu kaget, terperangah apalagi merasa inferior. Semua hal positif dari penelitian-penelitian itu sudah menjadi tradisi Islam sejak lama. Jadi ketimbang anda ikut-ikutan jadi korban promosi “Efek Mozart” ala Barat, lanjutkan saja tradisi “Efek Murottal” para ulama Islam, dan silahkan bandingkan hasilnya.