Archive for the Artikel Category

ramadhan bulan solusi

Posted in Artikel with tags on August 28, 2008 by hufaizh

Oleh : DR. Hidayat Nur Wahid, MA

Tidak terasa 11 bulan begitu cepat berlalu. Bulan suci Ramadhan 1429 H yang penuh berkah telah datang. Kedatangan bulan keberkahan ini hendaknya disambut oleh umat dengan penuh suka dan cita layaknya menyambut tamu agung.

Memang, ada realitas pahit terkait dengan persoalan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bagaimanapun, harus dijalani, suka atau tidak suka. Kini, dapatkah bulan Ramadhan menghadirkan alternatif solusi, keluar dari berbagai kesulitan dan himpitan yang menyertai hidup rakyat dewasa ini?

Ramadhan, supertrainer

Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang datang sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda bagi manusia (Al-Baqarah:185). Ia merupakan bulan di mana pintu-pintu ibadah, amal, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Ilahi terbuka lebar, sehingga ruang gerak setan menjadi terbatas. Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa bagi umat Muslim yang menurut hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim adalah tonggak tegaknya agama ini.

Kendati demikian, terdapat beberapa klasifikasi Muslim pada bulan ini. Pertama, orang yang menanti kehadiran Ramadhan dengan suka cita, bekerja keras menyempurnakan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW). Kedua, orang yang memasuki bulan Ramadhan dan keluar darinya dengan tanpa perubahan dan tidak bertambah darinya kebajikan apa pun. Ketiga, orang yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan ini. Ia dengan khusyu melakukan ibadah dan beramal saleh. Namun bila Ramadhan usai, ia akan kembali kepada ‘habitat’-nya semula.

Keempat, orang yang di bulan ini hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun tetap melakukan kemaksiatan. Kelima, orang yang menjadikan siang hari Ramadhan bagai malam dengan tidur sepanjang hari dan mengisi malamnya dengan lahwu (kegiatan yang melalaikan). Dan keenam, golongan manusia yang tidak mengenal Allah baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun meskipun ia mengaku sebagai seorang Muslim.

Bila dihayati secara mendalam, bulan Ramadhan bak madrasatun mada al-hayah (madrasah sepanjang hayat) yang berkelanjutan mendidik dan mengedukasi generasi demi generasi setiap tahun. Ramadhan memuat makna-makna iman pada jiwa manusia, mengilhami mereka arti agama yang hanif, dan memantapkan kepribadian Muslim yang hakiki. Ramadhan merupakan sarana yang sangat efektif menghadirkan internalisasi nilai kebajikan guna menghadapi berbagai tantangan yang muncul di tengah masyarakat.

Untuk itu, setiap Muslim hendaknya mengantisipasi kehadiran bulan bertaburan berkah ini dengan mempersiapkan diri, mengoptimalkan daya dan upaya meraih hari esok yang lebih baik (Al-Hasyr:18). Jika training kaum profesional dewasa ini hanya dilakukan dalam empat hari dan menghasilkan perubahan positif yang luar biasa, maka Ramadhan satu bulan penuh, Muslim di-training oleh SuperTrainer-nya, yaitu Allah SWT, Dzat yang Maha segala-galanya. Tentu hasilnya akan juga luar biasa, bila itu dilakukan dengan penuh keseriusan dan mendamba ridha Allah.

Bulan solusi

Kesempatan Ramadhan yang di dalamnya dijanjikan rahmat (karunia), maghfirah (ampunan), dan itqun min al-nar (pembebasan dari api neraka), sesungguhnya momentum ideal menemukan solusi banyak hal bagi umat. Pertama, puasa yang benar dapat membangunkan hati Mukmin yang ‘tertidur’ sehingga merasakan muraqabatullah (perasaan diawasi Allah). Ketika seorang yang berpuasa men-tadabbur sebagian siangnya sehingga merasakan haus dan lapar, ia akan menahan diri tidak makan dan tidak melakukan kemunkaran hanya karena perintah Allah. Kondisi ini membuat seseorang merasakan kehadiran Ilahi yang memantau gerak geriknya.

Kedua, bulan Ramadhan yang merupakan satu bulan dari 12 bulan dalam setahun, dimuati dengan ketaatan dan taqarrub kepada Allah yang dapat memanifestasikan makna ubudiyah kepada-Nya yang paling tinggi. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud bila hanya ‘kerja keras’ di depan meja makan saat berbuka dan sahur.

Ketiga, perut kenyang dalam kehidupan Muslim dapat memandulkan perasaan sehingga hati menjadi keras, menyuburkan sikap liar, dan maksiat kepada Allah dan sesama manusia. Dan ini bertentangan dengan karakter Muslim sesungguhnya. Keempat, sesungguhnya bagian dari fundamen-fundamen penting yang menyokong kebangkitan umat Islam adalah kasih sayang resiprokal dan solidaritas sosial di antara sesama Muslim.

Para the haves akan sulit menyayang orang fakir dengan kasih sayang yang jujur tanpa melewati dan menjalani keperihan dan derita kefakiran serta pahitnya kelaparan itu sendiri. Manfaat yang paling berharga yang dipetik oleh orang kaya adalah kesempatan menjadi ‘orang fakir dan miskin’ tersebut, karena ia mengalami hidup seperti itu secara riil.

Ketika solusi muraqabatullah, ketaatan, taqarrub, kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial dapat dikapitalisasi di bulan Ramadhan dan direalisasi di luar bulan ini, sesungguhnya banyak persoalan negeri dan bangsa ini dapat diselesaikan. Di antaranya, persoalan korupsi, pembunuhan, perampokan, kenaikan BBM yang disusul dengan peristiwa terkutuk pemboman Bali jilid II dan banyak lagi penyakit-penyakit sosial lain yang terjadi di tengah masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai tersebut.

Kendati demikian, bulan Ramadhan –bila dimanfaatkan secara optimal oleh semua unsur– dapat menjadi ajang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial yang lenyap tersebut, sehingga yang diutamakan bukan hitungan rasional-matematis saja, tetapi ikut ‘merasakan’ derita dan jeritan hati rakyat. Hal ini bisa dilakukan dengan menunda atau menekan persentase kenaikan seminimal mungkin.

Karena itu perlu bagi umat untuk kembali merenungkan ungkapan terakhir dari surat Al-Baqarah:183, bahwa yang mewajibkan puasa adalah la’allakum tattaqun dalam kata kerja mudhari yang hendaknya dimaknai agar dapat merealisasikan nilai-nilai muraqabatullah, ketaatan, dan kasih sayang secara terus-menerus, tidak hanya di saat bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, sekali lagi, sebagai wahana memupuk solidaritas tinggi antarumat manusia yang disempurnakan pada akhir bulan dengan kewajiban membayar zakat fitrah sebagai manifestasi puncak solidaritas sosial tersebut. Sikap dan kepribadian positif, produktif, empatik, dan menghadirkan keputusan win-win solution adalah sosok pribadi yang lulus secara gemilang dari madrasah Ramadhan yang penuh solusi. Wallahu a’lam

sumber : http://hidayatnurwahid.blogdetik.com

* Tulisan ini pernah dimuat di harian Republika, Rabu 5 Oktober 2005 (dengan beberapa perbaikan)
Advertisements

Sumbangan Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk Kemerdekaan Republik Indonesia

Posted in Artikel on August 20, 2008 by hufaizh

Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir. Atas desakan IM, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi RI.

***

Kota pelabuhan Iskandariyah pertengah Juli 1945. Jam kayu di sebuah penginapan murah di kota pelabuhan Mesir telah enunjuk angka 22.00 waktu setempat. Di satu ruangan yang tak seberapa besar, empat-puluhan kelasi kapal berkebangsaan Indonesia berkumpul. Sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah studi di Mesir terlihat memimpin rapat.

Beda dengan pertemuan sebelumnya, malam itu atmosfir rapat terasa agak emosionil! Para kelasi Indonesia yang bekerja di berbagai kapal asing yang tengah merapat di Iskandariyah, Port Said, dan Suez itu banyak yang yakin, jihad fii sabilillah yang tengah digelorakan banga Indonesia melawan penjajah belanda dalam waktu dekat akan sampai pada puncaknya.

Muhammad Zein Hassan, salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir, berpesan pada para kelasi agar mulai menabung. “Di saat terjadinya jihad, mereka sebaiknya meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.”

Sambutan para kelasi yang dalam kesehariannya jauh dari tuntunan agama itu sungguh mengharukan. Mereka dengan sepenuh hati menyanggupi hal tersebut. “Jika fatwa sudah turun, kami akan mematuhi,” ujar salah seorang dari mereka.

Tak terasa, jam telah berada di angka satu. Acara ditutup dengan sumpah setia dengan perjuangan bangsanya yang nun jauh di seberang lautan. Seluruh peserta mengangkat tangan kanan dan dikepalkan. Dengan menyebut nama Allah SWT, mereka bertekad akan membantu dengan sekuat tenaga jihad fii sabilillah yang akan digelorakan bangsanya dalam waktu dekat ini.

Sumpah para kelasi tersebut tidak main-main. Terbukti di kemudian hari, dua bulan setelah proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta, dua orang kelasi Indonesia tiba di Kairo dengan berjalan kaki dari Tunisia.

“Saat kami tanya mengapa berjalan kaki sejauh itu, mereka menjawab bahwa mereka menerima fatwa yang dibawa teman-teman mereka dari Indonesia. Fatwa itu menyatakan haram hukumnya bekerja dengan orang kafir yang memerangi kaum Muslimin,” ujar Zein Hassan.

Walau tidak punya cukup uang, dua orang kelasi itu segera meninggalkan kapal sekutu tempatnya bekerja dan berjalan kaki menuju Mesir, karena di Mesir-lah berada banyak orang sebangsanya.

Di Mesir sendiri kala itu tengah berkembang sikap antipati terhadap penjajahan Inggris. Sikap non kooperatif terhadap penjajah Inggris ini dicetuskan oleh organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang mendapat sambutan luar biasa dari rakyat Mesir.

Sebagai gerakan dakwah yang menembus sekat geografis, Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memiliki “jaringan iman” dengan berbagai gerakan Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebab itu, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Sekutu dengan sekuat tenaga memblock-out berita ini masuk ke Timur Tengah. Dikhawatirkan jika kemerdekaan Indonesia sampai didengar umat Islam di sana, ini bisa menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di Timur Tengah.

Serapat-rapatnya sekutu menutup informasi ini, akhirnya pada awal September 1945, sebulan setelah kemerdekaan Indonesia dibacakan, berita ini sampai juga ke Mesir.

Mansur Abu Makarim, seorang informan Indonesia yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo, membaca berita kemerdekaan Indonesia dalam suatu artikel di majalah Vrij Nederland. Bagai angin berhembus, berita ini dengan cepat menyebar ke Dunia Islam.

Koran dan radio Mesir memuat berita kemerdekaan RI dengan gegap gempita. Para penyiar dengan penuh semangat mengatakan bahwa inilah awal kebangkitan Dunia Islam melawan penjajahan Barat.

Di Mesir saat itu, seorang Arab hanya dihargai sepuluh pound Mesir jika dibunuh atau dilindas kendaraan militer Sekutu tanpa hak mengadu atau menggugat. Sebab itu, proklamasi kemerdekaan sebuah negeri Muslim terbesar di dunia ini disambut dengan luapan kebahagiaan.

Di sejumlah kota, Al-Ikhwan Al-Muslimun segera menggelar munashoroh besar-besaran mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Ini dijadikannya momentum momentum yang bagus untuk memerdekakan Mesir dari Inggris.

Bukan itu saja, sejumlah ulama di Mesir dan Dunia Arab dengan inisiatif sendiri membentuk “Lajnatud Difa’i’an Indonesia” (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada 16 Oktober 1945 di Gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jendral Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan.

Hadir dalam acara itu antara lain Syaikh Hasan Al Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Al-Ikhwan Al-Muslimun, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr. Salahuddin Pasya.

Dalam pertemuan yang semata didasari ukhuwah Islamiyah, pakar hukum internasional Dr. M. Salahuddin Pasya menyerukan negara-negara Islam untuk sesegera mungkin mendukung, membantu, dan mengakui kemerdekaan RI. Selain itu, Panitia Pembela Indonesia juga mengancam Inggris agar tidak membantu Belanda kembali ke Indonesia.

“Jika Inggris membantu Belanda untuk kembali ke Indonesia, maka Inggris akan menuai kemarahan Dunia Islam di Timur Tengah!” ancam Salahuddin Pasya.

Sejarah telah menulis, Inggris tetap membela “kawan seakidah” bernama Belanda. Pasukan NICA membonceng Sekutu kembali ke Indonesia.

Pada 25 Oktober 1945, sejumlah ulama NU pimpinan KH. Wahid Hasyim bertemu dan mengeluarkan fatwa jihad fii sabilillah melawan penjajah. Fatwa ini bergema ke seluruh nusantara dan disambut dengan gegap gempita.

Fatwa jihad inilah yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya (hingga kini 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia, red.). Untuk memompakan keberanian rakyat Surabaya, Bung Tomo lewat corong radio perlawanan – cikal bakal RRI – terus menerus mengingatkan para mujahid bahwa gerbang surga telah terbuka luas bagi mereka yang syahid.

Hanya semangat jihad dan keridhaan Allah SWT yang mampu membuat ribuan rakyat Surabaya berani melawan pasukan Sekutu bersenjata lengkap.

Kedahsyatan pertempuran Surabaya bergema hingga ke Dunia Arab. Keberanian umat Islam Surabaya mengobarkan jihad melawan pasukan Sekutu yang habis mabuk kemenangan dalam Perang Dunia II, ditambah tewasnya satu Jenderal Sekutu – Malaby – di Surabaya, dirasakan oleh kaum Muslimin Timur Tengah sebagai bagian dari kemenangan Islam atas kaum kafir. Upaya perlawanan terhadap Inggris di Mesir pun kian membuncah.

Di berbagai lapangan dan Masjid di Kairo, Mekkah, Baghdad, dan negeri-negeri Timur Tengah, dengan serentak umat Islam mendirikan sholat ghaib untuk arwah para syuhada di Surabaya.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Dukungan negara-negara Islam di Timur Tengah terhadap kemerdekaan Indonesia tidak saja dilakukan dalam tingkat akar rumput, namun juga dalam dunia diplomasi. Dalam berbagai sidang di Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlihat dengan jelas adanya perbedaan sikap antara negeri-negeri Muslim yang mendukung Indonesia dengan negeri-negeri salib yang memandang Indonesia masih bagian dari Belanda.

Wakil-wakil dari Indonesia di sidang PBB, diperbolehkan ikut sidang setelah negeri-negeri Arab mengakui kedaulatan RI, dalam menghadapi serangan pihak Sekutu sering menanggapinya dengan cara diplomatis dan terkesan lunak. Hal ini dikecam keras Muhammad Ali Taher dari Palestina.

“Mengapa kamu masih saja bersikap diplomatis terhadap seseorang yang ingin menghancurkan negeri kamu!” sergahnya mengingatkan wakil dari Indonesia agar tidak takut melawan kezaliman.

Di Mesir, sejak diketahui sebuah negeri Muslim bernama Indonesia memplokamirkan kemerdekaannya dari penjajah kafir, Al-Ikhwan Al-Muslimun tanpa kenal lelah terus menerus memperlihatkan dukungannya.

Selain menggalang opini umum lewat pemberitaan media, yang memberikan kesempatan luas kepada para mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya, berbagai acara tabligh akbar dan demonstrasi pun digelar.

Para pemuda dan pelajar Mesir, juga kepanduan Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo. Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.

Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.

Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada 22 Maret 1946.

Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.

Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.

Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens. Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir. Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.

Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.

Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.

Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.

Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.

Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Walau pemimpin Ikhwan Hasan Al Banna menemui syahid ditembak mati oleh begundal rezim Mesir di siang hari bolong, 12 Februari 1949, dukungan ikhwan terhadap muslim Indonesia tidaklah berakhir. Dakwah tiada kenal kata akhir, hingga Islam membebaskan semua manusia.

___
Sumber: Majalah Saksi – No. 21 Tahun VI, 18 Agustus 2004. Oleh: Rizki Ridyasmara

http://www.al-ikhwan.net/index.php/akhbar-ikhwan/2007/sumbangan-ikhwanul-muslimun-untuk-kemerdekaan-republik-indonesia/

Canda Generasi Terbaik

Posted in Artikel on August 19, 2008 by hufaizh

Sinai Online: Detik demi detik berlalu, hari-hari dalam kehidupan selalu berjalan. Kebaikan dalam saat-saat yang mahal itu adalah seperti yang dungkapkan oleh Sa’îd bin Abdul Aziz: “Tiada kebaikan dalam hidup ini melainkan diamnya orang yang sadar (ingat kepada Allah) dan bicaranya orang yang berilmu.”

Waktu dalam kehidupan seorang muslim adalah kesempatan untuk berbuat baik, membahagiakan dan meringankan beban sahabat-sahabatnya. Senda gurau dan canda memiliki waktu, syarat dan batasan yang masuk akal sehingga tidak berlebihan di dalamnya. Karena Islam tidak memerlukan orang-orang yang gemar bercanda dan bermain. Sebaliknya Islam membutuhkan orang-orang serius dan sungguh-sunguh yang menggunakan waktunya dalam menuntut ilmu, berdakwah, berjihad, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Adapun orang yang gemar bercanda sesungguhnya ia telah berbuat buruk terhadap diri dan agamanya. Orang yang mencintai sunnah Rasulullah Saw., hanya menyisakan sedikit saja waktunya untuk bersenda gurau. Sesungguhnya merupakan kesalahan yang besar menjadikan lawak sebagai profesi yang dilakukan secara terus menerus dan berlebihan dengan beralasan pada perbutan Rasulullah Saw.. Hal ini tidak jauh beda dengan orang yang menghabiskan waktunya sepanjang hari dengan menonton tari-tarian dengan beralasan bahwa Rasulullah Saw. mengizinkan Aisyah menonton permainan orang-orang zanûj (sejenis orang Negro) pada suatu hari raya.

Dari Ahnaf bin Qais ia berkata, Umar bin Abdil Aziz berkata kepadaku: “Wahai Ahnaf, orang yang banyak tertawa sedikit wibawanya, orang yang banyak bercanda ia akan diremehkan karenanya, orang yang gemar melakukan sesuatu akan terkenal dengannya, orang yang banyak berbicara pasti banyak kesalahannya dan sedikit rasa malunya, barang siapa yang sedikit rasa malunya sedikit pula sifat wara’nya (sifat menjauhi maksiat, sybuhat dan mubâhât—perkara-perkara yang dibolehkan—yang berlebihan), dan barang siapa yang sedikit sifat wara’nya maka matilah hatinya.”

Sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh dalam amalnya dan khawatir terhadap masa depan yang akan dihadapinya, tentunya berada dalam keadaan yang jauh dari canda dan main-main. Ia adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Musa bin Ismail: “Kalau aku berkata kepada kalian bahwa aku sama sekali tidak pernah melihat Hammâd bin Salamah tertawa maka aku telah jujur kepada kalian. Ia selalu disibukkan oleh dirinya, baik untuk menyampaikan hadis, membaca, bertasbih atau shalat, ia telah membagi harinya untuk amalan-amalan sepreti itu.”

Hal ini karena mereka selalu khawatir terhadap masa depannya setelah mati, takut mengalami prahara hari kiamat di mana badan akan bergetar hebat ketika melihatnya. Abdullah bin Abu Ya’la pernah berkata: “Mengapa engkau tertawa, padahal mungkin saja kain kafanmu telah keluar dari tukang pemutih kain (ajalmu sudah dekat).” Diceritakan dari sebagian orang shalih, suatu ketika ia (Abdullah bin Abu Ya’la) melihat seorang lelaki yang sedang tertawa lebar. Kemudian ia menegur orang itu: “Apa-apaan ini, apakah kamu pernah merasakan kamatian? Orang itu menjawab: “Tidak”. Ia bertanya lagi: “Apakah (engkau mengetahui) timbangan kebaikanmu telah lebih berat?” “Tidak,” jawab orang itu. Ia bertanya lagi: “Apakah kamu telah berhasil menyebrangi titian Shirat? “Tidak,” katanya. Kemudian Abdullah berkata: “Lantas untuk apa semua tawa dan senang-senang ini?” Orang itu kemudian menangis dan berkata: “Aku berjanji kepada Allah untuk tidak tertawa lagi setelah ini untuk selamanya.”

Sungguh menkjubkan! Cepat sekali ia tersadar dari kelengahannya dan bangun dari jatuhannya. Entah apa yang terjadi kalau saja ia mendengar tertawaan-tertawaan di perkumpulan-perkumpulan zaman sekarang, senda gurau orang-orang yang tidak punya pekerjaan, dan kesalahan-kesalahan orang yang banyak bicara. Apakah sebagian orang sekarang yang tenggelam dalam kelengahan, gelamor duniawi dan gemar berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat tidak merasa malu ketika melihat sehari saja dari hari-harnya Wakî’ bin Jarrâh. Sungguh ia tidak akan beranjak ke tempat tidur sebelum habis membaca sepertiga al-Quran, kemudian bangun di akhir malam dan membaca al-mufashshal (surat-saurat pendek seperti pada juz ‘Amma), kemudian duduk dan beristigfar sampai terbit waktu fajar kemudian shalat dua rakaat (sebelum subuh).

Saudaraku! Dimanakah posisi kita dibanding orang-orang itu? Al-Hârits al-Ghanawy berkata: “Rib’iy bin Hirâsy bersumpah untuk tidak tertawa sampai ia mengetahui posisinya apakah di surga atau neraka.” Al-Hârits juga berkata: “Orang-orang yang memandikan jenazahnya mengabarkan kepadaku bahwasanya ketika mereka memandikannya, ia terus-menerus tersenyum di atas ranjangnya sampai mereka selesai memandikannya.” Semoga Allah mengasihani kelemahan, sikap berlebihan dan panjangnya kelalaian kita. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Ismail bin Abdullah: “Wahai Ismail, berapakah umurmu sekarang? Ismail menjawab: “Enam puluh tahun lebih beberapa bulan.” Umar berkata: “Wahai Ismail, jauhilah olehmu senda gurau.”

Wahai saudaraku:


إِذَا مَا أَتَتْكَ الْأَرْبَعُوْنَ فَعِنْدَهَا فَاخْشَ الْإِلَهَ وَكُنْ لِلْمَوْتِ حَذِرًا

Apabila empat puluh tahun telah mendatangimu maka ketika itu
Takutlah kepada Tuhan dan berhati-hatilah dengan kematian

Al-Fudhail bin ‘Iyâdh berkata: “Diriwayatkan kepadaku bahwa suatu hari Thalhah bin Musharrif tertawa, kemudian ia tersadar dan berkata pada dirinya, ‘Apakah yang engkau tertawakan? Sesungguhnya orang yang (berhak) tertawa adalah yang telah melewati segala rintangan dan menyebrangi titian Shirat’.”
Dari Sa’îd bin Sâlim al-Qaddâh, ia berkata: “Aku pernah mendengar Abdul Aziz bin Abi Rawwâd berkata kepada seseorang, ‘Barang siapa yang tidak merasa diperingati oleh tiga hal maka tidak ada yang dapat memperingatkannya lagi: Islam, Quran dan uban’.”

Barang siapa yang memperhatikan silih bergantinya hari dan cepatnya berlalu, serta kematian yang datang secara tiba-tiba, maka ia akan berfikir bagaimana mungkin ia akan menikmati suatu nikmat dengan nyaman atau menenangkan jiwanya dengan lelucon dan permainan, karena hisab dan balasan yang berat pasti akan datang.

Saudaraku…
Kita telah mendengar kisah-kisah teladan tentang mereka dan dapat melihat betapa besar kesungguhan mereka. Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, apakah kita akan meninggalkan senyuman, canda dan permainan bersama sahabat dan orang-orang yang kita cintai?

Imam adz-Dzahabi berkata: “Tertawa kecil dan senyum lebih diutamakan.
Meninggalkan hal ini menurut ulama ada dua macam: pertama, utama bagi yang meninggalkannya sebagai bentuk adab dan takut kepada Allah serta sedih terhadap (keadaan) dirinya yang memprihatinkan. Kedua, tercela bagi yang melakukannya karena kebodohan, kesombongan atau dibuat-buat seperti halnya orang yang banyak tertawa akan diremehkan dengannya. Tidak diragukan lagi bahwa tertawa di masa muda lebih ringan dan dimaklumi dari pada di masa tua.

Adapun senyuman dan wajah yang cerah lebih utama dari kedua hal tersebut. Rasulullah Saw. bersabda:


تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga bersabda:

لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَلْيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْن الْخُلُق

“Kalaian tidak akan sanggup (memenuhi hajat) manusia dengan hartamu, maka kamu akan memenuhi hal itu dengan wajah yang cerah dan akhlak yang baik dari kalian.” (HR. Hakim dan Bazzar)

Namun kedudukan yang tetinggi semua itu adalah orang yang ahli menangis di malam hari dan selalu tersenyum di siang hari. Jarir ra berkata:


مَا رَآنِى رَسُوْلُ اللهٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسَّمَ

“Tidak pernah Rasulullah Saw. melihat kepadaku kecuali dalam keadaan tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tetapi siapa yang tidak tahu bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang nabi yang wajib shalat malam, dan beliau selalu menangis dan mengeluh kepada Rabb-nya.

Oleh karena itu Seyogyanya bagi orang yang suka tertawa agar mengurangi hal itu dan mencela dirinya karenanya. Dan seharusnya bagi orang yang selalu bermuka masam agar tersenyum dan menjadikan mukanya berseri serta memurkai dirinya yang memiliki akhlak yang tidak mulia. Segala sesuatu yang melenceng dari i’tidaâl (keadilan, kelurusan dan keseimbangan) adalah tercela, maka setiap diri hendaknya selalu ber-mujâhadah (berjuang melawan nafsu) dan berlatih.

(Dikutip dari buku Rufaqa’ fit Tharîq karya: Abdul Malik bin Muhammad al-Qâsim)

Menjadi Hamba “Robbani” Bukan Sekedar “Romadhani”

Posted in Artikel on August 15, 2008 by hufaizh
untitled.jpg

Indahnya Bulan Ramadhan

Allah SWT berfirman :

Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai semua orang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana puasa pernah diwajibkan kepada umat sebelum kamu, semoga kamu terpelihara” (Al Baqarah 183).

Begitu cepat waktu berlalu, tanpa terasa Ramadhan kembali akan kita jelang. Sungguh cepat rasanya perjalanan masa meskipun setahun tak pernah kurang dari 12 bulan. Demikian memang waktu terus berjalan, bergerak dan berputar sesuai dengan porosnya, mengikuti sunnatullah yang tidak bisa dihentikan, kecuali Allah semata. Perjalanan hidup manusia di dunia adalah merupakan waktu yang terus berjalan, dan kelak nanti akan ada pertanggungjawaban di akhirat, untuk apa waktu yang disediakan dalam hidup dipergunakan? Dan Allah SWT banyak bersumpah dalam kitab-Nya dengan menggunakan waktu; seperti yang banyak termaktub dalam Juz 30, disitu Allah bersumpah dengan waktu-waktu yang biasa demi dilalui oleh manusia. secara umum Allah menyebutkan; Demi masa (surat Al-Asr), dan secara khusus Allah menyebutkan demi waktu Fajar (surat Al-Fajr), Demi waktu Dhuha (surat Ad-Dhuha), demi waktu malam dan demi waktu siang (surat Al-Lail) dan lain-lainnya.. Tentunya sumpah tersebut mengisyaratkan akan pentingnya waktu yang harus diperhatikan oleh manusia dan kesempatan emas untuk dipergunakan sebaik-baiknya sehingga tidak menjadi orang yang merugi.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Al-Asr:1-3)

Dan dalam ayat lainnya Allah juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk:2)

Jadi inti dari terhindar dari kerugian terhadap waktu yang disediakan adalan iman dan amal salih.

Dan Allah mempergilirkan kehidupan ini, juga untuk melihat siapa yang memiliki jiwa juhud dan mendapatkan syahadah dalam hidupnya serta mendapatkan ridha dari Allah SWT.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

“Dan masa itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’”. (Ali Imran:140)

Namun, syukur al-hamdulillah kita masih sempat menemui Ramadhan dan semoga semua kita dapat berpuasa sesuai dengan perintah Allah, dan menjadikannya waktu dan kesempatan berharga untuk memperbanyak ibadah, amal shalih dan aktivitas lainnya untuk mendapatkan rihda Allah SWT.

Kita tentunya merindukan kehadiran bulan Ramadhan sebagaimana rindunya Rasulullah SAW dengan bulan ini. Kita tentunya bahagia dengan hadirnya bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah saw bahagia menyambut bulan ini.  Begitupun tentunya kita sangat senang dengan bulan Ramadhan yang kita jelang, sebagaimana Rasulullah saw sangat senang ketika bulan Ramadhan akan dijelang. Oleh karena itulah, sejak bulan Rajab, Nabi saw mulai banyak membaca doa :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah hidup kami di bulan Rajab dan Syakban dan sampaikanlah usia kami hingga bulan ramadhan”.

Dan ketika menyambut terbitnya bulan sabit saat memasuki bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW berdoa pula :

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ

“Ya Allah, terbitkanlah (dan tampakkanlah) hilal kepada kami (diiringi) dengan keberkahan dan keimanan serta keselamatan dan keislaman, (jadikanlah dia) sebagai hilal kebaikan dan petunjuk, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Alloh.” (At-Tarmidzi (9/142), imam Ahmad (1/162), Ad-Darimi (2/7) dan lain-lain, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 220).

Selama Ramadhan, Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak ibadah dan amal kebajikan, termasuk infak, sedekah dan menyantuni fakir miskin. Dengan demikian, Ramadhan membawa berkah berupa peningkatan nilai keislaman, kekuatan iman dan keamanan, serta merebaknya kedermawanan.

Bulan Ramadhan dengan banyak keistimewaannya telah banyak kita dengar dan ketahui, nama yang tidak asing bagi umat Islam. Sayyidus suhur (penghulu bulan-bulan) adalah merupakan julukan yang sangat indah, bulan nuzulul Quran, bulan tarbiyah, bulan tarqiyah (peningkatan) taqwa dan amal ibadah, sebagaimana bulan ini memiliki banyak gelar sesuai dengan fungsi dan peranannya. Antara lain : Syahrul barakah (bulan penuh kenikmatan dan limpahan karunia), Syahrul Najah (bulan kemenanga dan pelepasan dari azab neraka), Syahrul Juud (bulan kemurahan), Syahrul Muwasah (bulan kepedulian dan memberi pertolongan kepada yang membutuhkan), Syahrul Rahmah (bulan penuh rahmat Allah), dan julukan-julukan indah lainnya.

Namun dari sekian banyak keistimewaan dan keutamaannya, sangat sedikit dari umat islam yang belum menyadarinya, atau mungkin mereka sadar tapi belum menyentuh lubuk hati mereka sehingga saat Ramadhan tiba, tidak ada raut wajah yang sumringah atau bergembira menyambutnya. Mengikuti amaliyah Ramadhan sebagai kegiatan ritual saja, sekedar melepas dan menggugurkan kewajiban atau sekedar adat (kebiasaan) yang sudah biasa dilakukan setiap tahun, sehingga setiap kali selesai bulan Ramdhan kepribadian seseorang tidak meningkat dan berubah, tetap seperti yang lama, yang berubah hanyalah umurnya saja, setiap hari terus bertambah.

Insya Allah, Kami mencoba menghadirkan kajian sederhana, yang berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan amaliyah Ramadhan, yang diberi tema “menjadi hamba “RABBANI bukan sekedar “RAMADHANI”. Dengan maksud bahwa ketika memasuki bulan ini kita dapat menjadi hamba yang benar-benar mengabdikan diri kepada Allah, taat dan patuh kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, benar-benar menjadi hamba rabbbani bukan hanya ramadhani, yang tidak hanya sekedar melewati bulan ramadhan sebagai ritual tahunan tanpa makna, tidak hanya mengubah prilaku makan, menahan haus dan lapar disiang hari tanpa hasil yang berharga, melakukan tarawih di malam harinya, dan aktivitas ritual lainnya yang ada dalam bulan ramadhan tanpa ada perubahan dalam diri secara maksimal, namun berusaha untuk mengambil hikmah yang terkandung dalam segala aktivitas, ibadah dan amaliyah di bulan tersebut sehingga mendapatkan derajat yang paling mulia disisi Allah; yaitu Taqwa.

Karena itulah agar puasa tidak sia-sia, sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, maka hendaknya  melakukan persiapan diri dengan cara :

1. Persiapan Ruhiyah; dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.

2. Persiapan Fikriyah; melalui pembekalan diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah dan ibadah di bulan Ramadhan.

3. Pesiapan Jasadiyah; dengan menjaga kesehatan badan, menciptakan kebersihan lingkungan serta mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan teratur.

4. Maliyah; dengan menyiapkan diri menabung dan menyisihkan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar kepada orang lain dan membantu orang yang membutuhkan.

Agar kelak menjadi hamba rabbani baik qobla (sebelum), atsna’a (pada saat) dan ba’da (setelah) ramadhan.

Namun menjadi hamba robbani tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, perlu waktu, tenaga dan usaha terutama ilmu dan pengetahuan, karena setiap amal ibadah harus dilandasi dengan ilmu pengetahuan agar tidak terjerumus pada taklid, karena itu pula Allah SWT berfirman :

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“… Namun jadilah kalian hamba Robbani, terhadap apa yang telah kalian pelajari dari kitab Al-Quran dan dari apa yang telah kalian kaji”. (Ali Imran:79)

Rasulullah saw bersabda :

لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِي مَا فِي رَمَضَانَ مِنْ خَيْرٍ لَتَمَنَّوْا السَّنَةَ كُلِّهَا رَمَضَانَ

”Andaikan umatku mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.”  (HR. Ibnu Khuzaimah).

تُفَتَّحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغَلَّقُ أَبْوَابُ النَّارِ، وَيُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، وَيُنَادِي فِيهِ مُنَادٍ كُلَّ لَيْلَةٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ هَلُمَّ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ اقْتَصِرْ

“Bulan Ramadhan; di dalamnya pintu surga dibuka, pintu neraka di tutup dan syaitan-syaitan dibelenggu, di dalamnya pada setiap malamnya ada seruan; wahai para pencari kebaikan marilah kemari, dan wahai para pelaku kejahatan berhentilah”. (Thabrani)

doa.gif

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. (Ali Imran:8)

Sumber al-ikhwan.net

Terjemahan Al Quran Braile Bahasa Spanyol

Posted in Artikel on August 12, 2008 by hufaizh

Image“Alhamdulillah, Yang telah Mengambil cahaya mata saya, tapi tidak mengambil cahaya dalam hati saya. Karena cahaya dalam hati itulah yang memberi dorongan agar saya bias mencapai cita-cita saya: membaca Al Quran.” Inilah kalimat yang keluar dari mulut seorang tunanetra bernama Baera Amshahe Taola. Ia wanita tunanetra sekaligus pemimpin Organisasi Perempuan Tunanetra di Kosovo. Ia sangat berbahagia karena saat ini ia bias menulis tarjamah pertama Al Quran Al Karim dengan bahasa Spanyol, melalui tulisan braile

Faktor yang mendorongnya melakukan upaya mulia ini seorang diri adalah, “Karena ada banyak tunanetra di Kosovo (sekitar 2500 orang) yang tidak mempunyai kesempatan membaca terjemahan Al Quran. Itulah yang mendorong saya untuk berpikir mewujudkan sarana untuk memunculkan Al Quran braile yang bisa dimengerti melalui tangan dan hati mereka. Memahami Al Quran adalah aktifitas yang sangat bagus karena itu jugalah saya berkeinginan agar saya dan semua tunanetra Spanyol ini bisa menikmati bacaan Al Quran dengan terjemahannya.”

Semua penduduk yang berbicara bahasa Spanyol di Balkan, dijelaskan Baera Amshahe yang usianya lebih dari 60 tahun, “Tidak mempunyai teks terjemahan Al Quran braile berbahasa Spanyol. Sementara kaum Kristiani sudah menyediakan Bibble sejak beberapa tahun silam untu kaum tunanetra Spanyol.” Karena itulah Baera yang mempunyai empat orang anak dan delapan orang cucu, memulai upayanya dengan serius dengan meningkatkan kemampuan menulis dengan Braile. Dan kini, usahanya itu sudah menumbuhkan hasil dalam bentuk 8 surat pertama dari Al Quran yang ditulis dengan huruf braile, atau sama dengan sepertiga Al Quran.

Masalah yang dihadapi Baera Amshahe dalam hal ini, bukanlah keterbatasan kemampuan fisiknya untuk terus melanjutkan usahanya itu. Tapi ia menghadapi kendala sedikitnya orang yang mau mendanai proyek mulia itu hingga tuntas 30 juz Al Quran. Sebagai perbandingan, naskah Al Quran dalam tuisan normal satu halaman, bila ditulis dengan huruf braile bisa menghabiskan tiga halaman di atas sebuah kertas khusus yang harganya 80 sent euro di Kosovo. Kemudian untuk percetakannya, bisa menelan biaya 4700 euro.

Soal upaya pencarian dana untuk membiayai niat dan usaha mulianya itu, Baera punya pengalaman unik. Ia bercerita, pernah mengajukan permohonan dana itu di tahun 2005 kepada seorang tokoh Islam di Kosovo agar turut mencari dana guna penyempurnaan penulisan teks Al Quran dengan huruf braile. Tapi permintaan itu menggantung hingga dua tahun. Malah akhirnya, dukungan dana justru ditawarkan oleh Organisasi Katholik Amerika (CRS) dengan dana cukup besar, yakni 6900 euro. Anehnya, ketika tinggal 80 halaman lagi penyelesaian Al Quran itu, terjadi kebakaran di rumahnya yang melalap habis semua hasil naskah yang telah ditulisnya. Setelah itu, usahanya menulis Al Quran braile pun terhenti. “Saya belum lupa, lalu saya mulai kembali menuliskan Al Quran braile yang baru. Tapi kali ini kesulitannya lebih banyak karena saya menulisnya dengan mesin manual yang sudah lebih modern tapi bagi saya lebih lama menggunakannnya.”(majalahtarbawi.com)

KEMENANGAN MUHAMMAD IBN ‘ABDULLAH

Posted in Artikel on August 11, 2008 by hufaizh

Pengantar Kontributor :

Risalah ini berusmber dari buku Sayyid Qutb, “Beberapa Studi Tentang Islam,” (terjemahan). Teks ini diambil dari http://www.dakwah.info dalam bahasa Melayu dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Tampaknya, teks bahasa Melayu ini diubahsuai dari buku terbitan Media Dakwah (pada tahun 2001 telah memasuki cetakan ke-6).
Tiga unsur kemenangan Rasulullah SAW yang disampaikan Sayyid Qutb dalam risalah ini terdiri dari 3 hal, yaitu kejelasan visi dan prinsip keimanan yang tidak sedikitpun mundur terhadap godaan materialisme, pewujudan generasi Qur’any yang merealisasikan visi itu dalam kehidupan nyata, dan keberhasilam mengimplementasikan hukum Tuhan Pencipta Alam untuk mengatur kehidupan manusia.Tiga unsur ini bisa diadakan pada setiap zaman, dan tidak eksklusif kemampuan khusus zaman Nabi saja. Oleh sebab itu, jika kita ingin mencapai kejayaan Islam, maka tiga unsur ini harus kita realisasikan.

Isi tulisan Sayyid Qutb:

Berkumandangnya jutaan suara manusia, di belahan bumi bagian Timur dan bagian Barat, yang selalu diulang-ulang baik di pertengahan malam dan di kala siang hari: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Pesuruh Allah.

Berkumandangnya suara seperti ini selama empat belas abad lamanya, tidak pernah diam dan tidak pernah bungkam dan tidak pernah berhenti. Negara demi negara telah berganti. Keadaan demi keadaan telah bertukar. Tetapi seruan yang abadi itu tetap tidak berubah. Sebuah seruan yang telah tertanam dalam hati nurani zaman.

Berkumandangnya suara-suara ini, adalah suatu bukti yang hidup, bukti yang berbicara, tentang kemenangan Muhammad ibn Abdullah. Kemenangan itu diperoleh bukan dalam pertempuran, bukan dalam peperangan. Bukan menaklukkan kota Mekah. Bukan memerintah seluruh Jazirah Arabia. Bukan menundukkan kedua imperium Kisra dan Kaisar. Tetapi ia adalah kemenangan universal yang telah masuk ke dalam tubuh kehidupan, mengubah jalannya sejarah, menukar nasib alam dan terpateri dalam hati nurani zaman.

Kemenangan ini adalah suatu kemenangan yang tidak dapat dihilangkan oleh kelemahan seketika yang diderita umat Islam dalam suatu waktu tertentu. Nilainya tidak akan pernah berkurang karena lahirnya filsafat dan mazhab-mazhab yang baru. Cahayanya tidak akan pernah redup oleh menangnya suatu kelompok terhadap kelompok lain di suatu bagian dunia. Karena akarnya terhujam mendalam pada alam semesta, tertanam dalam hati nurani manusia, mengalir dalam saluran-saluran kehidupan.

Kemenangan yang buktinya terdapat dalam dirinya sendiri tidak memerlukan bukti dan keterangan lagi.
Sekarang marilah kita mencoba mengetahui sebab-sebabnya dan cara-caranya, agar kita dapat menggunakan sebab-sebab itu sekarang ini.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa Allah menghendaki bahwa Muhammad ibn Abdullah itu menang. Allah menghendaki bahwa agama yang lurus ini berkuasa. Tetapi Allah tidak mau kalau kemenangan itu diperoleh dengan gampang saja. Allah tidak ingin menjadikan kemenangan itu suatu mukjizat di mana tidaklah terlibat usaha manusia dan alat. Tetapi Allah menghendaki bahwa kemenangan itu berupa hasil yang wajar dari usaha dan perjuangan Rasulullah s.a.w.. Merupakan konsekuensi logis dari pengorbanan beliau dan pengorbanan para sahabatnya.

Bagi orang yang ingin mengetahui bagaimana kemenangan Rasul, dan bagaimana kemenangan Islam, maka ia hendaklah mempelajari pribadi, tingkah laku, sejarah dan perjuangan Rasul. Dengan begitu ia akan tahu bahwa jalan kemenangan itu jelas tanda-tandanya. Cara-caranya terdapat lengkap. Sebab-sebabnya jelas. Siapa yang ingin untuk mencapai kemenangan di masa manapun dan di tempat manapun, dapat menjadikan suri teladan pada diri Rasul s.a.w. itu sendiri.,
Muhammad ibn Abdullah telah menang. Kemenangannya itu mempunyai tiga unsur, di mana tersimpan seluruh persyaratan-persyaratannya.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, ketika para pemimpin Quraisy datang kepada pamannya Abu Thalib untuk bertukar pendapat. Mereka meminta kepadanya untuk menawarkan kepada keponakannya, yang agamanya telah menggelisahkan mereka, mengacaukan adat kebiasaan mereka dan menggoncang dasar-dasar kepercayaan mereka. Mereka meminta agar Muhammad diam tentang mereka, tentang agama mereka. Untuk itu Muhammad boleh meminta apa yang dikehendakinya. Kalau mau uang akan diberi. Kalau mau kekuasaan akan diberi kekuasaan. Ia boleh memperlakukan mereka sekehendak hatinya.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, ketika ia mengucapkan di telinga mereka dan di telinga zaman, perkataannya yang abadi, yang timbul dari sumber-sumber keimanan:
“Demi Allah, hai pamanku! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, dengan maksud agar meninggalkan persoalan ini, saya tidak akan melakukannya, sampai Allah menjelaskannya atau saya hancur dalam melaksanakannya.”(Al-Hadith)

Ya Allah! Demikian hebatnya sampai menggoncangkan badan. Alangkah hebatnya gambaran alam semesta yang agung. Jika mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku. Bayangkan seperti ini terambil hati nurani alam semesta itu sendiri, bukan dari khayalan seorang manusia. Gambaran seperti ini adalah gambaran yang ditimbulkan keimanan yang mutlak dari lubuk dasar perasaan.

Semenjak dari saat itu, Muhammad ibn Abdullah telah menang. Ia telah menggoncang perasaan Quraisy dengan goncangan yang menjadikannya tidak dapat tegak dengan kukuh kembali. Itulah keimanan, kekuatan yang tidak dapat dikalahkan oleh apa saja di atas bumi, bila ia kalau telah tertanam dalam perasaan seorang manusia.

Muhammad ibn Abdullah telah menang ketika ia telah berhasil menjadikan para sahabatnya r.a. gambaran hidup dari keimanannya, yaitu makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Ia telah menang semenjak dari hari di mana ia telah membentuk masing-masing sahabatnya itu menjadi sebuah al-Qur’an hidup yang berjalan di atas permukaan bumi. Ia telah menang mulai dari hari ia menjadikan setiap pribadi menjadi contoh yang melambangkan Islam. Orang melihat kepadanya dan orang melihat Islam itu sendiri.

Teks-teks agama saja tidak dapat membuat sesuatu. Buku al-Qur’an tidak dapat bertindak untuk membentuk seorang laki-laki. Prinsip-prinsip saja tidak akan hidup, sampai ia berbentuk tingkah laku.

Karena itu Muhammad telah menjadikan sebagai tujuannya yang pertama adalah membentuk laki-laki, bukan memberikan pidato-pidato, membentuk hati nurani dan bukan menyusun pidato-pidato, membentuk suatu umat, bukan mengadakan suatu filsafat. Gagasan itu sendiri telah dijamin oleh al-Qur’an yang mulia. Tugas Muhammad s.a.w. bukanlah untuk mengubah gagasan saja menjadi orang-orang yang dapat diraba tangan dan dilihat mata.

Tatkala orang-orang ini telah berjalan di dunia bagian Barat dan di dunia bahagian Timur, pada diri mereka itu orang melihat budi pekerti baru yang belum pernah dialami umat manusia, karena mereka itu merupakan terjemahan hidup dari suatu gagasan yang belum pernah dialami umat manusia sebelumnya. Di waktu itulah manusia mulai percaya kepada gagasan itu, karena ia percaya kepada laki-laki yang melambangkan gagasan itu. Mereka maju ke depan merealisasikan gagasan itu dalam diri mereka dengan mengikuti contoh yang telah ada, dan mereka menempuh jalan yang sama.
Gagasan saja tidak dapat hidup. Walaupun ia hidup, ia tidak akan dapat mendorong manusia satu langkahpun ke depan. Setiap gagasan yang hidup akan terlambang dalam diri seorang manusia yang hidup. Tiap gagasan yang berkarya dapat berubah menjadi suatu gerakan kemanusiaan.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, mulai dari hari di mana gagasan Islam itu membentuk pribadi-pribadi, keimanan mereka kepada Islam telah berubah menjadi amal perbuatan, dan dicetak dalam buku-buku berpuluh-puluh buah, lalu beratus-ratus, kemudian beribu-ribu. Tetapi bukan dicetak dalam bentuk tinta di atas kertas. Ia dicetak dengan cahaya di atas lembaran kalbu. Lalu dilepaskannya agar lembaran-lembaran itu dapat bergaul dengan manusia, memberi dan mengambil dari manusia, dan ia mengatakan dengan perbuatan dan amal, apa itu Islam yang telah dibawa Muhammad ibn Abdullah dari sisi Allah.

Dan akhirnya, Muhammad ibn Abdullah telah menang, pada saat ia menjadikan hukum Islam itu suatu sistem yang mengatur kehidupan, yang mengendalikan masyarakat, dan mengatur hubungan antara manusia, dan menguasai baik nasib manusia maupun benda-benda.

Islam adalah suatu kepercayaan yang menimbulkan hukum. Di atas hukum itu berdiri sistem. Dari aqidah, hukum dan sistem terbentuklah pohon Islam. Sebagaimana halnya dengan setiap pohon kayu, maka dia terdiri dari akar, batang dan buah.

Buah dan batang tidak akan ada tanpa akar yang menghunjam di dalam bumi. Akar tidak ada gunanya tanpa batang. Dan batang tidak akan ada gunanya kalau tidak menghasilkan buah untuk dimakan, untuk kepentingan kehidupan.
Karena itu Islam merasa perlu agar supaya hukum itu menjadi peraturan kehidupan: “Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang ingkar.”

Karena itu, mitos yang mengatakan bahwa agama dan negara adalah dua hal yang terpisah, tidak terdapat dalam Islam. Negara tidak bisa ada tanpa agama, dan agama tidak bisa ada tanpa hukum dan sistem.

Dari semenjak hari pertama didirikannya negara Islam, maka hukum Islamlah yang memerintah negara ini. Dan orang yang mengeluarkan hukum Islam itulah yang melaksanakan pemerintahannya.

Negara Islam itu telah dimulai semenjak kaum Muslimin itu baru berupa sekumpulan kecil manusia, yang sanggup mempertahankan diri terhadap permusuhan, dan sanggup pula memelihara diri terhadap godaan untuk menyeleweng dari agama Allah, dan bahwa mereka berkumpul dalam sebidang tanah yang dilindungi oleh bendera Islam.

Ketika itulah Islam berubah menjadi suatu sistem kemasyarakatan yang mengatur hubungan antara kaum Muslimin. Ia berubah menjadi suatu sistem sejagat di mana atas dasarnya orang Islam bergaul dengan orangorang lain.

Kemudian Islam merembes ke segenap penjuru dunia, dan ke manapun ia sampai, ia selalu membawa aqidahnya, hukumnya dan sistemnya. Siapa yang ingin memeluk aqidahnya boleh masuk Islam. Siapa yang tidak mahu masuk, maka: “Tidak ada paksaan dalam agama,” tetapi hukum dan sistem Islam selalu melindungi setiap bumi yang dimasukinya. Manusia mendapati di dalamnya suatu bentuk keadilan yang belum pernah dikenal umat manusia sebelumnya. Orang menjumpai di dalamnya kebajikan yang belum pernah dirasakan umat manusia sebelumnya. Ketika itu masuklah orang ke dalam agama Allah beramai-ramai dan ketika itu terwujudlah janji Allah yang telah diberikannya kepada rasulNya:
“Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu, dan meminta ampunlah kepadanya. Ia sesungguhnya amat menerima taubat.”(An-Nasr: 1-3)

Islam menang kerana aqidah kepercayaannya telah diterjemahkan menjadi hukum. Dan hukum ini mengadakan suatu sistem yang menggoncangkan perasaan manusia, dan memberikan ketenteraman kepada hati seluruh penduduk bumi.
Ketika itulah Muhammad ibn Abdullah menang. Karena ia telah melaksanakan hukum Allah sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.

Itulah yang menjadi unsur-unsur kemenangan abadi dalam hati nurani alam semesta itu, yang akarnya terhujam dalam kehidupan.

Itulah yang dikumandangkan oleh jutaan suara di dunia belahan Barat dan di dunia belahan Timur. Itulah yang didendangkan oleh jutaan bibir manusia.

Unsur-unsur ini adalah unsur-unsur yang alami, logis dan realistis. Unsur-unsur ini dimiliki oleh kita kaum Muslimin ini, di setiap generasi dan di setiap masa. Unsur-unsur ini ada di dalam tangan kita, yang dapat kita coba dan kita usahakan. Dengan unsur-unsur itu, kita dapat sampai kepada kemenangan, yang telah dijanjikan Tuhan bagi setiap orang yang menolongnya:

“Dan sungguh pasti Allah akan menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah kuat dan berkuasa. Mereka yang kalau kami beri kekuasaan di atas dunia, mereka mendirikan solat, membayarkan zakat, menyuruh melakukan kebaikan dan melarang mengerjakan kejahatan. Dan kepada Tuhanlah kembalinya akibat segala sesuatunya.”(Al-Hajj: 40-41)
Maha benar Allah Yang Maha Agung. (dikedaikopi.net)

Sang Murabbi

Posted in Artikel on August 11, 2008 by hufaizh

Oleh : Khairul Anwar

Sinai Online: Tulisan ini terinspirasi dari peluncuran film “Sang Murabbi” arahan sutradara Zul Ardhia beberapa hari lalu. Dalam suatu kesempatan di beranda Masjid Al-Azhar, penulis sedang duduk santai bersama guru kami. Beliau bernama Syaikh Sayyid Sayyid Ibrahim Ba’bulah. Beliau adalah salah seorang pentashih mushaf Makky, yang masih selalu eksis dalam menjalankan tugas mengajar di salah satu ruwaq Masjid Al-Azhar, kendati rumah beliau terbilang jauh dari kawasan darrasah (Hilwan).

Memperhatikan sikap beliau selama ini yang begitu sopan santun terhadap siapa pun yang dikenalnya, terbesit dalam hati untuk melontarkan pertanyaan kepada beliau perihal Murabbi. Ya Ustadzy! Betulkah murabbi itu sangat penting bagi murid? Ya, “laulaa muarabbi maa ‘araftu Rabby,” jawab beliau singkat.

“Kalaulah Murabbi itu sangat penting, di manakah saya bisa menemuinya dan berguru padanya, agar kelak membimbing saya pada jalan yang diridlai Allah SWT?” Sahut saya untuk pertanyaan yang kedua kalinya. Beliau termenung sejenak, kemudian bertutur setengah semangat dengan suara yang agak parau, namun sangat lembut.

“Pertanyaan yang bagus,” tanggap beliau. “Wahai anakku! Jangan sekali-kali bertanya siapa murabbi itu? Atau di manakah saya bisa menemuinya? Yakinlah, bukankah umat Islam mempunyai murabbi makhluq yang terbaik pernah diciptakan oleh Allah Swt.? Ia adalah Rasulullah Saw., panutan dan qudwah umat manusia yang sepatutnya dicontoh dalam setiap tingkah-lakunya.

Meskipun kita tidak penah hidup sezaman dengan beliau, namun Al-quran dan Hadis Rasulullah Saw. merupakan peninggalan beliau yang paling asasi, masih bisa kita telaah dengan baik hingga sekarang. Dan telah merangkum semua sisi-sisi ajaran Islam yang mulia.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, melalui diskusi singkat ini, saya telah menemukan murabbi-ku kembali yang selama ini selalu saya cari.