Cinta Karena Allah

Posted in SABDA NABI on August 14, 2008 by hufaizh

Oleh Tim dakwatuna.com – Iman adalah sesuatu yang hidup dan dinamis. Iman yang benar, keyakinan yang kuat akan mengantarkan pemiliknya merasakan halawatul iman -kelezatan dan manisnya iman-. Rasulullah saw. telah berjanji kepada siapa saja yang mampu melaksanakan tiga perkara, ia pasti akan mereguk lezatnya iman. Rasulullah saw. bersabda:

عن أنس بن مالك ـ رضي الله عنه ـ قال : قال النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ : ” لا يجد أحد حلاوة الإيمان ، حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وحتى أن يقذف في النار أحب إليه من أن يرجع إلى الكفر بعد إذ أنقذه الله ، وحتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ” . رواه البخاري .

Dari Anas bin Malik ra berkata: Nabi Muhammad saw bersabda: “Seseorang tidak akan pernah mendapatkan manisnya iman sehingga ia mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah; sehingga ia dilemparkan ke dalam api lebih ia sukai daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya; dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya.” Imam Al Bukhari.

Penjelasan:

باب : الحب في الله : Mencintai karena Allah, tidak bercampur aduk dengan riya dan nafsu.

ولا يجد أحد حلاوة الإيمان : Seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman. Iman diserupakan dengan madu, karena keduanya memiliki kesamaan; Manis. Iman yang benar dalam hati akan mewujudkan rasa manis layaknya madu.

وحتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ” : Sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selainnya.

محبة الله : إرادة طاعته ، ومحبة رسوله : متابعته : Mencintai Allah adalah dengan mentaati-Nya, sedangkan mencintai Rasulullah adalah dengan mengikutinya.

Cinta alami tidak masuk dalam bab ikhtiar (pilihan), maka yang dimaksudkan adalah cinta ‘aqli (logis) yaitu mendahulukan apa yang dikehendaki akal, dan yang menjadi pilihannya, meskipun bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti orang sakit yang minum obat, ia mengambil dengan pilihannya, karena mengharapkan kesembuhan.

Penggunaan dhamir (kata ganti) pada kalimat سواهما selain keduanya, menunjukkan satu  kesatuan.

Karena pernah ada seorang khatib (penceramah) yang mentatsniyahkan dhamir dalam ucapannya:

ومن عصاهما فقد غوى “Dan barang siapa yang mendurhakai keduanya maka ia telah tersesat.” Seketika Rasulullah saw. menyuruhnya untuk menggunakan dhamir mufrad yaitu dengan mengucapkan:

من عصى الله فقد غوى “Barang siapa yang mendurhakai Allah maka ia tersesat. Dipisah,

من عصى الرسول فقد غوى “Dan barang siapa yang mendurhakai Rasulullah maka ia tersesat.”

Penggabungan di sini menunjukkan bahwa yang diperhitungkan adalah kumpulan dua cinta. Berbeda dengan ungkapan khatib tadi, masing-masing maksiat berdiri sendiri.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran:

  1. Mencintai seseorang karena mencari ridha Allah, bukan cinta hafa nafsu dan melanggar syariat. Seperti cinta seseorang dalam ikut serta berjihad di jalan Allah, tidak untuk tujuan duniawi. Seperti cinta seseorang untuk beramal dan berjuang dalam organisasi. Dilakukan hanya untuk mencari keridhoan Allah swt
  2. Memilih dilemparkan ke dalam api daripada kembali menjadi kafir. Orang yang telah sempurna imannya tidak akan ada yang bisa merubahnya menjadi kafir lagi. Ia tidak mengingkari ajaran agama yang telah diyakini seperti shalat yang telah Allah wajibkan, tidak menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, seperti khamr, atau mengharamkan yang halal.
  3. Mendahulukan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan selainnya. Orang yang sempurna imannya kepada Allah dan Rasul-Nya lebih kuat baginya daripada hak ayahnya, ibunya, anaknya, isterinya dan semua manusia. Karena mendapatkan petunjuk dari kesesatan, terbebaskan dari neraka hanya bisa karena Allah lewat seruan Rasul-Nya. Dan di antara ciri hal ini adalah membela Islam dengan ucapan dan perbuatan, mengamalkan syariat Islam, mengikuti sunnah dan berakhlak dengan akhlak Rasulullah saw.  Allahu a’lam

WONG FEI-HUNG

Posted in TOKOH on August 12, 2008 by hufaizh

WONG FEI-HUNG
Kesabaran Penolong Para Tertindas

Wong Fei-Hung yang lahir pada 1847 di Kwantung (Guandong) berasal dari keluarga muslim yang dikenal ahli dalam ilmu pengobatan dan beladiri tradisional Tiongkok (wushu). Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah tabib dan pemilik klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong), serta menguasai wushu tingkat tinggi yang membuatnya terkenal sebagai salah seorang dari Sepuluh Macan Kwantung.

Kombinasi ilmu pengobatan Tiongkok tradisional dan teknik beladiri yang berpadu dengan olah keluhuran budi membuat keluarga Wong banyak turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Banyak diantara pasiennya yang meminta bantuan pengobatan berasal dari kalangan miskin tetapi mereka tetap membantu dengan sungguh-sungguh. Selain itu, secara diam-diam keluarga Wong juga turut aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’ing yang korup dan menindas rakyat.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak perjumpaannya dengan guru ayahnya bernama Luk Ah-Choi yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar. Jurus ini ditemukan, dikembangkan dan menjadi andalan Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah pendekar dari Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintah pendudukan Manchuria (Dinasti Ch’ing) pada 1734. Dengan kepemimpinan Hung Hei-Kwun inilah, para pejuang pemberontak hampir mengalahkan dinasti penjajah jika saja pemerintah tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang).

Wong Fei-Hung kemudian meneruskan belajarnya pada ayahnya sendiri hingga kemudian pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan cakar macan dan pukulan khusus sembilan. Selain dengan tangan kosong, ia juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat setempat pernah menyaksikan bagaimana ia seorang diri dengan hanya bersenjatakan tongkat (toya) berhasil mengalahkan 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia mau membela rakyat kecil yang akan mereka peras.

Dalam awal kehidupan berkeluarganya, Tuhan mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek, lalu ia memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan  pasangan hidupnya yang terakhir bernama Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga sangat ahli beladiri. Mok Gwai Lan pun turut mengajar beladiri pada kelas perempuan di perguruan suaminya. Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal.

sumber http://www.jaist.ac.jp/~rac/pub/kanigara/id/Home/masterwong.htm

Muhammad Amin Al-Huseini dan Kemerdekaan Indonesia

Posted in TOKOH on August 12, 2008 by hufaizh

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini seorang ulama yang kharismatik, mujahid, mufti Palestina yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kaum muslimin serta negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, walaupun pada saat itu beliau sedang berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al-Quds, Palestina.

Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Amin bin Muhammad Thahir bin Musthafa Al-Husaini gelar Mufti Falestin Al-Akbar (Mufti Besar Palestina), lahir di Al-Quds pada tahun 1893. Diangkat menjadi mufti Palestina pada tahun 1922 menggantikan saudaranya Muhammad Kamil Al-Husaini. Sebagai ulama yang berilmu dan beramal, memiliki wawasan yang luas, kepedulian yang tinggi, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini mengetahui dan merasakan penderitaan kaum muslimin di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia akibat penjajahan yang dilakukan kaum kolonial.

Dukungan terhadap kaum muslimin dan negeri-negeri muslim untuk merdeka dari belenggu penjajahan senantiasa dilakukan oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, termasuk dukungan bagi kemerdekaan Indonesia. Ketika tidak ada suatu negara dan pemimpin dunia yang berani memberi dukungan secara tegas dan terbuka terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, maka dengan keberaniannya, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini mufti Palestina menyampaikan selamat atas kemardekaan Indonesia.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, di dalam bukunya yang berjudul Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, 1980, hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Syekh Muhammad Amin Al-Husaini secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“Sebagai contoh, pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.”

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini. Sehingga tidak mengherankan ada suara yang sumir, minor, bahkan sinis ketika ada anak negeri ini membantu perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka, membebaskan tanah airnya dan masjid Al-Aqsha dari belenggu penjajah Zionis Israel.

“Kenapa kita mikirin negeri Palestina? Negeri sendiri saja bayak masalah!”. Itulah ungkapan orang yang egois, orang yang berpikiran parsial, orang yang wawasannya hanya dibatasi teritorial yang sempit. Kalimat tersebut di atas merupakan gambaran orang yang tidak pandai bersyukur, orang yang tidak pandai berterima kasih, ibarat pepatah mengatakan, ”seperti kacang lupa dengan kulitnya”.

Di sinilah pentingnya mengenal dan mengetahui sejarah, sehingga tidak mudah dibodohi orang, ada kata-kata hikmah, “orang yang tahu sejarah akan punya ‘izzah”.

“Orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling banyak berterima kasih kepada manusia”. (HR Thabrani).

“Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”.(HR Abu Daud).

Seharusnya kita berfikir dan merenung, kenapa Indonesia, negeri yang subur dan memiliki sumberdaya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang potensial tidak dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat? Mungkin salah satu sebabnya adalah karena kita tidak pandai bersyukur, tidak pandai berterima kasih.

Perhatikanlah peringatan Allah dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”(QS: Ibrahim/14:7).

Setelah berjuang tanpa kenal lelah, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini wafat pada tanggal 4 Juli 1974, di makamkan di pekuburan Syuhada’, Al-Maraj, Beirut, Libanon. Kaum muslimin dan tokoh pergerakan Islam menangisi kepergian ulama pejuang, pendukung kemerdekaan Indonesia, mufti pembela tanah waqaf Palestina, penjaga kemuliaan masjid Al-Aqsha. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya, menerima amal jihadnya dalam membela tempat suci kaum muslimin, kota Al-Quds. (eramuslim)

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA

Email: ferryn2006@yahoo.co.id

Terjemahan Al Quran Braile Bahasa Spanyol

Posted in Artikel on August 12, 2008 by hufaizh

Image“Alhamdulillah, Yang telah Mengambil cahaya mata saya, tapi tidak mengambil cahaya dalam hati saya. Karena cahaya dalam hati itulah yang memberi dorongan agar saya bias mencapai cita-cita saya: membaca Al Quran.” Inilah kalimat yang keluar dari mulut seorang tunanetra bernama Baera Amshahe Taola. Ia wanita tunanetra sekaligus pemimpin Organisasi Perempuan Tunanetra di Kosovo. Ia sangat berbahagia karena saat ini ia bias menulis tarjamah pertama Al Quran Al Karim dengan bahasa Spanyol, melalui tulisan braile

Faktor yang mendorongnya melakukan upaya mulia ini seorang diri adalah, “Karena ada banyak tunanetra di Kosovo (sekitar 2500 orang) yang tidak mempunyai kesempatan membaca terjemahan Al Quran. Itulah yang mendorong saya untuk berpikir mewujudkan sarana untuk memunculkan Al Quran braile yang bisa dimengerti melalui tangan dan hati mereka. Memahami Al Quran adalah aktifitas yang sangat bagus karena itu jugalah saya berkeinginan agar saya dan semua tunanetra Spanyol ini bisa menikmati bacaan Al Quran dengan terjemahannya.”

Semua penduduk yang berbicara bahasa Spanyol di Balkan, dijelaskan Baera Amshahe yang usianya lebih dari 60 tahun, “Tidak mempunyai teks terjemahan Al Quran braile berbahasa Spanyol. Sementara kaum Kristiani sudah menyediakan Bibble sejak beberapa tahun silam untu kaum tunanetra Spanyol.” Karena itulah Baera yang mempunyai empat orang anak dan delapan orang cucu, memulai upayanya dengan serius dengan meningkatkan kemampuan menulis dengan Braile. Dan kini, usahanya itu sudah menumbuhkan hasil dalam bentuk 8 surat pertama dari Al Quran yang ditulis dengan huruf braile, atau sama dengan sepertiga Al Quran.

Masalah yang dihadapi Baera Amshahe dalam hal ini, bukanlah keterbatasan kemampuan fisiknya untuk terus melanjutkan usahanya itu. Tapi ia menghadapi kendala sedikitnya orang yang mau mendanai proyek mulia itu hingga tuntas 30 juz Al Quran. Sebagai perbandingan, naskah Al Quran dalam tuisan normal satu halaman, bila ditulis dengan huruf braile bisa menghabiskan tiga halaman di atas sebuah kertas khusus yang harganya 80 sent euro di Kosovo. Kemudian untuk percetakannya, bisa menelan biaya 4700 euro.

Soal upaya pencarian dana untuk membiayai niat dan usaha mulianya itu, Baera punya pengalaman unik. Ia bercerita, pernah mengajukan permohonan dana itu di tahun 2005 kepada seorang tokoh Islam di Kosovo agar turut mencari dana guna penyempurnaan penulisan teks Al Quran dengan huruf braile. Tapi permintaan itu menggantung hingga dua tahun. Malah akhirnya, dukungan dana justru ditawarkan oleh Organisasi Katholik Amerika (CRS) dengan dana cukup besar, yakni 6900 euro. Anehnya, ketika tinggal 80 halaman lagi penyelesaian Al Quran itu, terjadi kebakaran di rumahnya yang melalap habis semua hasil naskah yang telah ditulisnya. Setelah itu, usahanya menulis Al Quran braile pun terhenti. “Saya belum lupa, lalu saya mulai kembali menuliskan Al Quran braile yang baru. Tapi kali ini kesulitannya lebih banyak karena saya menulisnya dengan mesin manual yang sudah lebih modern tapi bagi saya lebih lama menggunakannnya.”(majalahtarbawi.com)

KEMENANGAN MUHAMMAD IBN ‘ABDULLAH

Posted in Artikel on August 11, 2008 by hufaizh

Pengantar Kontributor :

Risalah ini berusmber dari buku Sayyid Qutb, “Beberapa Studi Tentang Islam,” (terjemahan). Teks ini diambil dari http://www.dakwah.info dalam bahasa Melayu dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Tampaknya, teks bahasa Melayu ini diubahsuai dari buku terbitan Media Dakwah (pada tahun 2001 telah memasuki cetakan ke-6).
Tiga unsur kemenangan Rasulullah SAW yang disampaikan Sayyid Qutb dalam risalah ini terdiri dari 3 hal, yaitu kejelasan visi dan prinsip keimanan yang tidak sedikitpun mundur terhadap godaan materialisme, pewujudan generasi Qur’any yang merealisasikan visi itu dalam kehidupan nyata, dan keberhasilam mengimplementasikan hukum Tuhan Pencipta Alam untuk mengatur kehidupan manusia.Tiga unsur ini bisa diadakan pada setiap zaman, dan tidak eksklusif kemampuan khusus zaman Nabi saja. Oleh sebab itu, jika kita ingin mencapai kejayaan Islam, maka tiga unsur ini harus kita realisasikan.

Isi tulisan Sayyid Qutb:

Berkumandangnya jutaan suara manusia, di belahan bumi bagian Timur dan bagian Barat, yang selalu diulang-ulang baik di pertengahan malam dan di kala siang hari: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Pesuruh Allah.

Berkumandangnya suara seperti ini selama empat belas abad lamanya, tidak pernah diam dan tidak pernah bungkam dan tidak pernah berhenti. Negara demi negara telah berganti. Keadaan demi keadaan telah bertukar. Tetapi seruan yang abadi itu tetap tidak berubah. Sebuah seruan yang telah tertanam dalam hati nurani zaman.

Berkumandangnya suara-suara ini, adalah suatu bukti yang hidup, bukti yang berbicara, tentang kemenangan Muhammad ibn Abdullah. Kemenangan itu diperoleh bukan dalam pertempuran, bukan dalam peperangan. Bukan menaklukkan kota Mekah. Bukan memerintah seluruh Jazirah Arabia. Bukan menundukkan kedua imperium Kisra dan Kaisar. Tetapi ia adalah kemenangan universal yang telah masuk ke dalam tubuh kehidupan, mengubah jalannya sejarah, menukar nasib alam dan terpateri dalam hati nurani zaman.

Kemenangan ini adalah suatu kemenangan yang tidak dapat dihilangkan oleh kelemahan seketika yang diderita umat Islam dalam suatu waktu tertentu. Nilainya tidak akan pernah berkurang karena lahirnya filsafat dan mazhab-mazhab yang baru. Cahayanya tidak akan pernah redup oleh menangnya suatu kelompok terhadap kelompok lain di suatu bagian dunia. Karena akarnya terhujam mendalam pada alam semesta, tertanam dalam hati nurani manusia, mengalir dalam saluran-saluran kehidupan.

Kemenangan yang buktinya terdapat dalam dirinya sendiri tidak memerlukan bukti dan keterangan lagi.
Sekarang marilah kita mencoba mengetahui sebab-sebabnya dan cara-caranya, agar kita dapat menggunakan sebab-sebab itu sekarang ini.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa Allah menghendaki bahwa Muhammad ibn Abdullah itu menang. Allah menghendaki bahwa agama yang lurus ini berkuasa. Tetapi Allah tidak mau kalau kemenangan itu diperoleh dengan gampang saja. Allah tidak ingin menjadikan kemenangan itu suatu mukjizat di mana tidaklah terlibat usaha manusia dan alat. Tetapi Allah menghendaki bahwa kemenangan itu berupa hasil yang wajar dari usaha dan perjuangan Rasulullah s.a.w.. Merupakan konsekuensi logis dari pengorbanan beliau dan pengorbanan para sahabatnya.

Bagi orang yang ingin mengetahui bagaimana kemenangan Rasul, dan bagaimana kemenangan Islam, maka ia hendaklah mempelajari pribadi, tingkah laku, sejarah dan perjuangan Rasul. Dengan begitu ia akan tahu bahwa jalan kemenangan itu jelas tanda-tandanya. Cara-caranya terdapat lengkap. Sebab-sebabnya jelas. Siapa yang ingin untuk mencapai kemenangan di masa manapun dan di tempat manapun, dapat menjadikan suri teladan pada diri Rasul s.a.w. itu sendiri.,
Muhammad ibn Abdullah telah menang. Kemenangannya itu mempunyai tiga unsur, di mana tersimpan seluruh persyaratan-persyaratannya.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, ketika para pemimpin Quraisy datang kepada pamannya Abu Thalib untuk bertukar pendapat. Mereka meminta kepadanya untuk menawarkan kepada keponakannya, yang agamanya telah menggelisahkan mereka, mengacaukan adat kebiasaan mereka dan menggoncang dasar-dasar kepercayaan mereka. Mereka meminta agar Muhammad diam tentang mereka, tentang agama mereka. Untuk itu Muhammad boleh meminta apa yang dikehendakinya. Kalau mau uang akan diberi. Kalau mau kekuasaan akan diberi kekuasaan. Ia boleh memperlakukan mereka sekehendak hatinya.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, ketika ia mengucapkan di telinga mereka dan di telinga zaman, perkataannya yang abadi, yang timbul dari sumber-sumber keimanan:
“Demi Allah, hai pamanku! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, dengan maksud agar meninggalkan persoalan ini, saya tidak akan melakukannya, sampai Allah menjelaskannya atau saya hancur dalam melaksanakannya.”(Al-Hadith)

Ya Allah! Demikian hebatnya sampai menggoncangkan badan. Alangkah hebatnya gambaran alam semesta yang agung. Jika mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku. Bayangkan seperti ini terambil hati nurani alam semesta itu sendiri, bukan dari khayalan seorang manusia. Gambaran seperti ini adalah gambaran yang ditimbulkan keimanan yang mutlak dari lubuk dasar perasaan.

Semenjak dari saat itu, Muhammad ibn Abdullah telah menang. Ia telah menggoncang perasaan Quraisy dengan goncangan yang menjadikannya tidak dapat tegak dengan kukuh kembali. Itulah keimanan, kekuatan yang tidak dapat dikalahkan oleh apa saja di atas bumi, bila ia kalau telah tertanam dalam perasaan seorang manusia.

Muhammad ibn Abdullah telah menang ketika ia telah berhasil menjadikan para sahabatnya r.a. gambaran hidup dari keimanannya, yaitu makan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Ia telah menang semenjak dari hari di mana ia telah membentuk masing-masing sahabatnya itu menjadi sebuah al-Qur’an hidup yang berjalan di atas permukaan bumi. Ia telah menang mulai dari hari ia menjadikan setiap pribadi menjadi contoh yang melambangkan Islam. Orang melihat kepadanya dan orang melihat Islam itu sendiri.

Teks-teks agama saja tidak dapat membuat sesuatu. Buku al-Qur’an tidak dapat bertindak untuk membentuk seorang laki-laki. Prinsip-prinsip saja tidak akan hidup, sampai ia berbentuk tingkah laku.

Karena itu Muhammad telah menjadikan sebagai tujuannya yang pertama adalah membentuk laki-laki, bukan memberikan pidato-pidato, membentuk hati nurani dan bukan menyusun pidato-pidato, membentuk suatu umat, bukan mengadakan suatu filsafat. Gagasan itu sendiri telah dijamin oleh al-Qur’an yang mulia. Tugas Muhammad s.a.w. bukanlah untuk mengubah gagasan saja menjadi orang-orang yang dapat diraba tangan dan dilihat mata.

Tatkala orang-orang ini telah berjalan di dunia bagian Barat dan di dunia bahagian Timur, pada diri mereka itu orang melihat budi pekerti baru yang belum pernah dialami umat manusia, karena mereka itu merupakan terjemahan hidup dari suatu gagasan yang belum pernah dialami umat manusia sebelumnya. Di waktu itulah manusia mulai percaya kepada gagasan itu, karena ia percaya kepada laki-laki yang melambangkan gagasan itu. Mereka maju ke depan merealisasikan gagasan itu dalam diri mereka dengan mengikuti contoh yang telah ada, dan mereka menempuh jalan yang sama.
Gagasan saja tidak dapat hidup. Walaupun ia hidup, ia tidak akan dapat mendorong manusia satu langkahpun ke depan. Setiap gagasan yang hidup akan terlambang dalam diri seorang manusia yang hidup. Tiap gagasan yang berkarya dapat berubah menjadi suatu gerakan kemanusiaan.

Muhammad ibn Abdullah telah menang, mulai dari hari di mana gagasan Islam itu membentuk pribadi-pribadi, keimanan mereka kepada Islam telah berubah menjadi amal perbuatan, dan dicetak dalam buku-buku berpuluh-puluh buah, lalu beratus-ratus, kemudian beribu-ribu. Tetapi bukan dicetak dalam bentuk tinta di atas kertas. Ia dicetak dengan cahaya di atas lembaran kalbu. Lalu dilepaskannya agar lembaran-lembaran itu dapat bergaul dengan manusia, memberi dan mengambil dari manusia, dan ia mengatakan dengan perbuatan dan amal, apa itu Islam yang telah dibawa Muhammad ibn Abdullah dari sisi Allah.

Dan akhirnya, Muhammad ibn Abdullah telah menang, pada saat ia menjadikan hukum Islam itu suatu sistem yang mengatur kehidupan, yang mengendalikan masyarakat, dan mengatur hubungan antara manusia, dan menguasai baik nasib manusia maupun benda-benda.

Islam adalah suatu kepercayaan yang menimbulkan hukum. Di atas hukum itu berdiri sistem. Dari aqidah, hukum dan sistem terbentuklah pohon Islam. Sebagaimana halnya dengan setiap pohon kayu, maka dia terdiri dari akar, batang dan buah.

Buah dan batang tidak akan ada tanpa akar yang menghunjam di dalam bumi. Akar tidak ada gunanya tanpa batang. Dan batang tidak akan ada gunanya kalau tidak menghasilkan buah untuk dimakan, untuk kepentingan kehidupan.
Karena itu Islam merasa perlu agar supaya hukum itu menjadi peraturan kehidupan: “Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang ingkar.”

Karena itu, mitos yang mengatakan bahwa agama dan negara adalah dua hal yang terpisah, tidak terdapat dalam Islam. Negara tidak bisa ada tanpa agama, dan agama tidak bisa ada tanpa hukum dan sistem.

Dari semenjak hari pertama didirikannya negara Islam, maka hukum Islamlah yang memerintah negara ini. Dan orang yang mengeluarkan hukum Islam itulah yang melaksanakan pemerintahannya.

Negara Islam itu telah dimulai semenjak kaum Muslimin itu baru berupa sekumpulan kecil manusia, yang sanggup mempertahankan diri terhadap permusuhan, dan sanggup pula memelihara diri terhadap godaan untuk menyeleweng dari agama Allah, dan bahwa mereka berkumpul dalam sebidang tanah yang dilindungi oleh bendera Islam.

Ketika itulah Islam berubah menjadi suatu sistem kemasyarakatan yang mengatur hubungan antara kaum Muslimin. Ia berubah menjadi suatu sistem sejagat di mana atas dasarnya orang Islam bergaul dengan orangorang lain.

Kemudian Islam merembes ke segenap penjuru dunia, dan ke manapun ia sampai, ia selalu membawa aqidahnya, hukumnya dan sistemnya. Siapa yang ingin memeluk aqidahnya boleh masuk Islam. Siapa yang tidak mahu masuk, maka: “Tidak ada paksaan dalam agama,” tetapi hukum dan sistem Islam selalu melindungi setiap bumi yang dimasukinya. Manusia mendapati di dalamnya suatu bentuk keadilan yang belum pernah dikenal umat manusia sebelumnya. Orang menjumpai di dalamnya kebajikan yang belum pernah dirasakan umat manusia sebelumnya. Ketika itu masuklah orang ke dalam agama Allah beramai-ramai dan ketika itu terwujudlah janji Allah yang telah diberikannya kepada rasulNya:
“Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Kamu lihat manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu, dan meminta ampunlah kepadanya. Ia sesungguhnya amat menerima taubat.”(An-Nasr: 1-3)

Islam menang kerana aqidah kepercayaannya telah diterjemahkan menjadi hukum. Dan hukum ini mengadakan suatu sistem yang menggoncangkan perasaan manusia, dan memberikan ketenteraman kepada hati seluruh penduduk bumi.
Ketika itulah Muhammad ibn Abdullah menang. Karena ia telah melaksanakan hukum Allah sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.

Itulah yang menjadi unsur-unsur kemenangan abadi dalam hati nurani alam semesta itu, yang akarnya terhujam dalam kehidupan.

Itulah yang dikumandangkan oleh jutaan suara di dunia belahan Barat dan di dunia belahan Timur. Itulah yang didendangkan oleh jutaan bibir manusia.

Unsur-unsur ini adalah unsur-unsur yang alami, logis dan realistis. Unsur-unsur ini dimiliki oleh kita kaum Muslimin ini, di setiap generasi dan di setiap masa. Unsur-unsur ini ada di dalam tangan kita, yang dapat kita coba dan kita usahakan. Dengan unsur-unsur itu, kita dapat sampai kepada kemenangan, yang telah dijanjikan Tuhan bagi setiap orang yang menolongnya:

“Dan sungguh pasti Allah akan menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah kuat dan berkuasa. Mereka yang kalau kami beri kekuasaan di atas dunia, mereka mendirikan solat, membayarkan zakat, menyuruh melakukan kebaikan dan melarang mengerjakan kejahatan. Dan kepada Tuhanlah kembalinya akibat segala sesuatunya.”(Al-Hajj: 40-41)
Maha benar Allah Yang Maha Agung. (dikedaikopi.net)

Sang Murabbi

Posted in Artikel on August 11, 2008 by hufaizh

Oleh : Khairul Anwar

Sinai Online: Tulisan ini terinspirasi dari peluncuran film “Sang Murabbi” arahan sutradara Zul Ardhia beberapa hari lalu. Dalam suatu kesempatan di beranda Masjid Al-Azhar, penulis sedang duduk santai bersama guru kami. Beliau bernama Syaikh Sayyid Sayyid Ibrahim Ba’bulah. Beliau adalah salah seorang pentashih mushaf Makky, yang masih selalu eksis dalam menjalankan tugas mengajar di salah satu ruwaq Masjid Al-Azhar, kendati rumah beliau terbilang jauh dari kawasan darrasah (Hilwan).

Memperhatikan sikap beliau selama ini yang begitu sopan santun terhadap siapa pun yang dikenalnya, terbesit dalam hati untuk melontarkan pertanyaan kepada beliau perihal Murabbi. Ya Ustadzy! Betulkah murabbi itu sangat penting bagi murid? Ya, “laulaa muarabbi maa ‘araftu Rabby,” jawab beliau singkat.

“Kalaulah Murabbi itu sangat penting, di manakah saya bisa menemuinya dan berguru padanya, agar kelak membimbing saya pada jalan yang diridlai Allah SWT?” Sahut saya untuk pertanyaan yang kedua kalinya. Beliau termenung sejenak, kemudian bertutur setengah semangat dengan suara yang agak parau, namun sangat lembut.

“Pertanyaan yang bagus,” tanggap beliau. “Wahai anakku! Jangan sekali-kali bertanya siapa murabbi itu? Atau di manakah saya bisa menemuinya? Yakinlah, bukankah umat Islam mempunyai murabbi makhluq yang terbaik pernah diciptakan oleh Allah Swt.? Ia adalah Rasulullah Saw., panutan dan qudwah umat manusia yang sepatutnya dicontoh dalam setiap tingkah-lakunya.

Meskipun kita tidak penah hidup sezaman dengan beliau, namun Al-quran dan Hadis Rasulullah Saw. merupakan peninggalan beliau yang paling asasi, masih bisa kita telaah dengan baik hingga sekarang. Dan telah merangkum semua sisi-sisi ajaran Islam yang mulia.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, melalui diskusi singkat ini, saya telah menemukan murabbi-ku kembali yang selama ini selalu saya cari.

Allahuyarham Ust. Rahmat Abdullah dan Palestina

Posted in TOKOH on August 11, 2008 by hufaizh

Ustadz Rahmat Abdullah adalah seorang guru yang perlu ditiru, pembina yang bijaksana, murabbi yang rendah hati, lahir di kampung Betawi daerah Kuningan, Jakarta Selatan, 3 Juli 1953. Putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah.

Beliau pernah menuntut ilmu di pesantren “Perguruan Islam Asy Syafi’iyah”, Bali Matraman, Jakarta Selatan, sekaligus berguru kepada pendiri pesantren Perguruan Islam tersebut, seorang ulama yang tegas dan kharismatik, KH. Abdullah Syafi’i.

Kecintaannya kepada ilmu, dunia pendidikan dan pembinaan (tarbiyah) meyebabkan beliau mengajar di almamaternya dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan, serta membina pemuda-pemuda yang berada di sekitar rumahnya.

Guru beliau lainnya adalah Ustadz Bakir Said Abduh, lulusan perguruan tinggi Mesir, pengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI), Kuningan Jakarta Selatan. Melalui ustadz Bakir Said Abduh, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Al-Ikhwan Al-Muslimin, salah satunya adalah buku Da’watuna (Hasan Al-Bana) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).

Sebagai seorang Ustadz dan seorang Murabbi, beliau tidak berpikiran sempit, memiliki wawasan yang luas, memiliki perhatian dan kepedulian terhadap permasalahan dunia Islam, seperti Afghanistan, Bosnia, khususnya Palestina yang masih dijajah Zionis Israel.

Ketika masyarakat Jakarta mengikuti aksi damai “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005, yang diadakan DPP PKS dan diikuti 250.000 masa.

Ustadz Rahmat Abdullah walaupun dalam keadaan sakit, beliau turut serta dan tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian membela rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsha yang akan dihancurkan oleh tangan kotor Zionis Israel.

Bahkan beliau ikut long march dari bundaran HI ke Kedutan Besar AS di Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dan melakukan orasi membangkitkan semangat kader dakwah dalam perjuangan dan membela saudaranya di Palestina yang sedang dizalimi penjajah Israel.

Di antara isi pidatonya adalah:

“Yang mati ditikam sudah banyak, yang mati kena narkoba melimpah, yang mati kebut-kebutan kecelakaan lalulintas sudah banyak. Indonesia bertanya, siapa yang mati dengan seni kematian yang paling indah? Seni kematian yang paling baik membela ajaran Allah, membela mereka yang tertindas dan teraniaya. Mungkin banyak yang ngeri dengan istilah tadi. Sekedar berjalan kaki dari HI kemari (ke depan kedubes AS) belum berarti apa-apa. Tetapi ini akan jadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Paletina. Tahukah saudara-saudara sekalian?! Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun ditenda dan rumah-rumah darurat, ternyata saudara-sadara kita di Palestina masih sempat mengirimkan sumbangan untuk saudara-saudara kita di Aceh (korban gempa dan Tsunami) kemarin. Karena yang bisa memahami derita adalah orang yang sama –sama menderita, oleh karena itu walaupun kita tidak dalam derita seharusnya punya kepekaan, punya kepedulian dan punya hati yang halus dan lembut untuk bisa mendengar rintihan suara anak –anak di Palestina”.

Kehadiran Ustadz Rahmat dalam Aksi Solidaritas untuk Palestina dengan tema “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005 dan orasinya di depan kedubes AS, merupakan kehadiran beliau untuk yang terakhir kalinya dalam mengikuti Aksi Pembelaan untuk Palestina, karena dua bulan setelah Aksi Solidaritas tersebut tepatnya pada hari Selasa, 14 Juni 2005, beliau wafat pada usia 52 tahun, dengan meninggalkan seorang isteri dan tujuh orang anak. Jasad beliau dikuburkan di samping komplek Islamic Center IQRO’, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)”. (QS. Al-Ahzab/33:23)

Doa Ustadz Rahmat: ”Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu …Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman…Kepada nenek moyang kami penyembah berhala…Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah…Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran…Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami…Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini…Dengan sikap malas dan enggan berda’wah…Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa”. (eramuslim.com)

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA

ferryn2006@yahoo.co.id